Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

PART 1

Semakin tua umur dunia semakin sesak terasa hidup. Semakin susah kian terasa kehidupan. Semakin tipis rasanya cinta dan kepedulian kepada sesama muslim. Inilah gambaran persaudaraan sesama muslim sekarang ini.

Padahal dalam banyak ayat Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan, mendorong merekat, menjalin hubungan persaudaraan sesama muslim. Diantaranya ayat yang sangat akrab di telinga kita.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Hanyalah sesungguhnya orang-orang beriman, muslim itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu”. (QS. Al Hujuroot [49] : 10)

Dalam tafsir yang sangat ringkas. Penulis Tafsir Jalalainrohimahumallah mengatakan,

“Firman Allah (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ) yaitu saudara seagama. Firman Allah (فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ) yaitu jika kalian silang pendapat”[1].

Namun mengapa kita di negeri yang mayoritas muslim ini, persaudaraan terasa gersang, kering kerontang bahkan bermusuhan ? Mari perbaiki diri kita pribadi, laksanakan sekuat tenaga 10 adab berikut mudah-mudahan persaudaran sesama muslim itu menjadi sejuk, hangat dan menebal.

Pertama : bangun persaudaraan itu dengan niat yang benar.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal tergantung niatnya dan bagi seseorang apa yang dia niatkan”[2].

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Seseorang berniat menjadikan saudara dan teman yang sholeh, yaitu orang yang dapat menolongnya dalam urusan agama dan dunianya. Serta agar dapat membantunya di atas keta’atan kepada Allah Ta’ala[3].

Adab inilah yang mulai hilang. Niat membangun persaudaraan sesama muslim di sebagian kita hanya dibangun di atas kepentingan keduniaan misal kelompok, jama’ah dan seterusnya.

Kedua mencari teman, sahabat dan saudara dari kalangan orang-orang sholeh.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا

“Janganlah engkau menjadikan sahahabat, kawan dekat, saudara melainkan seorang mukmin”[4].

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Adapun pershahabatan dengan non muslim maka bukan termasuk bagian cinta karena Allah dan benci karena Allah. Bahkan itu menunjukkan bahaya dalam masalah iman. Pershahabatan dengan non muslim merupakan bencana bagi pelakunya di dunia dan akhirat.

Adapun di dunia maka sesungguhnya orang kafit atau fajir, anda tidak pernah benar-benar merasa aman di sisinya. Tidak mungkin juga anda benar-benar dapat mempercayainya. Bahkan tentu dia memiliki kebencian kepada kaum muslimin”[5].

Sungguh benar yang beliau sampaikan. Jika Dzat Yang Menciptakannya saja dia khianati apatah lagi dengan anda ?!

Ketiga : persaudaraan itu berlandaskan kecintaan karena Allah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Hendaklah seorang muslim menjadikan muslim lainnya sebagai saudara dan sahabat karena kecintaaa kepada Allah Ta’ala. Bukan karena bagian kecil dari perkara dunia misalnya hubungan jual beli dan selainnya”[6].

Kebanyakan kita menganggap muslim lainnya bersaudara ketika persahabatan, persaudaraan itu hanya karena perkara yang menguntungkan duniawi kita semata.

Keempat : menginginkan kebaikan bagi saudara dan sahabat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Yaitu memberikannya nasihat dengan tulus, jujur (karena menginginkan kebaikan untuknya –pen) kepada hal-hal yang bermanfaat untuknya jika dia membutuhkannya dan memintanya kepadamu. Hal-hal yang bermanfaat ini mencakup bermanfaat baginya dalam urusan dunia dan agamanya”[7].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : ………وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Hak/kewajiban seoang muslim atas muslim lainnya ada 6”. Para shahabat bertanya, ‘Apa saja itu wahai Rosulullah ?’ Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “……… Jika dia meminta, membutuhkan nasihat maka berikanlah dia nasihat”[8].

Sungguh indah bila nasihat itu dibangun di atas ketulusan, kejujuran dan karena ingin kebaikan kepada saudara sesama muslim.

Kelima: bersama di saat sedihnya.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Yaitu menunjukkan rasa ikut bersedih (dengan tulus –pen) ketika dia sedang bersedih, mambantunya dengan harta serta dengan kalimat yang baik (misal agar tetap di atas kesabaran dan berharap pahala -pen)”[9].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain”[10].

Sungguh indah yang demikian, kuat sama dipikul ringan sama dijinjing.

PART 2

Keenam : menolak, mencegah diri dari menggibahinya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

Hendaknya anda membelanya dari ghibahan pada saat dia tidak ada, membela kehormatannya pada saat dia tidak ada di sisimu.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ ذَبَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ فِي الْغَيْبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya seagama dari ghibah maka hak/wajib bagi Allah atasnya agar membebebaskannya dari api neraka”[1].

Maka janganlah anda membiarkan kehormatan saudara anda tatkala dia sedang tidak ada. Bahkan cegahlah ghibat tersebut. Terlebih lagi janganlah anda menggunjingnya. Sesungguhnya itu merupakan haknya padamu. Maka saudara yang mulia tidak akan pernah menggibahi saudaranya selama-lamanya”[2].

Adab ini sungguh sangat langka kita dapati sekarang. Bahkan sangat akutnya penyakit ghibah ini hampir semua kalangan tidak aman darinya. Mulai dari orang fasik hingga orang yang dikenal ‘sholeh’. Nas’alullah salamah wal ‘afiyah.

Yang lebih baik dari sekedar mencegah ghibah darinya adalah menutup aib saudara seagama yang anda ketahui. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الْآخِرَةِ

“Barangsiapa siapa yang menutup aib seorang muslim di dunia maka Allah akan tutup aibnya di akhirat”[3].

Ketujuh : menolongnya karena Allah

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Maknanya hendaknya anda menolongnya baik ketika dia berbuat zholimatau dizholimi. Menolongnya ketika dizholimiadalah dengan membelanya hingga dia kembali mendapatkan haknya. Sedangkan menolongnya ketika dia berbuat zholimadalah dengan mencegahnya berbuat zholim serta mengembalikannya kepada kebenaran. Ini berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ ظَالِمًا قَالَ تَحْجُزُهُ تَمْنَعُهُ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudarmu yang zholim atau dizholimi”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rosulullah, yang dizholim kami faham. Tetapi bagaimana menolong yang zholim ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, “Engkau mencegahnya dari perbuatan zholimnya itulah cara menolongnya”[4].

Tidak boleh seorang muslim membiarkan saudaranya yang muslim ketika dia membutuhkan pertolongan dan pembelaan. Bahkan wajib baginya untuk bersegera menolong dan membelanya”[5].

Betapa indahnya bermasyarakat ketika kita mampu merealisasikan ini. Demikianlah al ‘amru bil ma’ruf nahyu ‘anil munkar kita hendaknya berlandaskan ingin menolong saudara kita dan tulus ikhlas.

Kedelapan : mendo’akan kebaikan untuknya karena Allah

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Maknanya hendaklah anda mendo’akan kebaikan untuk saudara anda ketika anda berdo’a untuk diri anda sendiri pada saat dia tidak berada bersama anda. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang hamba yang muslim mendo’akan (kebaikan -pen) bagi saudaranya pada saat dia tidak bersamanya melainkan malaikat akan mengatakan, “Dan bagimu yang semisal dengan itu”[6].

Demikian juga sabda beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

دُعَاءُ الأَخِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ لاَ يُرَدُّ

“Do’a seorang saudara kepada saudaranya ketika dia tidak bersamanya adalah do’a yang tidak tertolak”[7].

Inilah diantara tanda yang paling agung yang menunjukkan tulusnya persaudaraan dan kecintaanKarena tidak ada ruang bagi seseorang untuk riya, basa basi dan mencari muka serta yang semisal dengan itu”[8].

Kesembilan : memaafkan, memaklumi, berusaha memberikan udzur atas kekurangannya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Maknanya hendaknya anda memaafkan kekeliruan dan kesalahannya yang sederhana, memaafkannya jika dia melakukan kesalahan terhadap hakmu. Imam Syafi’i Rohimahullah mengatakan,

مَنْ صَدَّقَ فِيْ أُخْوَةِ أَخِيْهِ قَبِلَ عِلَلِهِ, وَ سَدَّ خَلَلِهِ, وَ غَفَرَ زَلَلَهُ

Siapa yang hatinya tulus dalam persaudaraan kepada saudaranya adalah menerima kekurangannya, menutupinya dan memaafkannya”[9].

Makna ungkapan beliau (قَبِلَ عِلَلِهِ) adalah menerima kekurangannya berupa cacat pada diri saudaranya bersamaan dengan berusaha untuk memperbaikinya.

Makna ungkapan beliau (سَدَّ خَلَلِهِ) adalah menerima kekurangannya berupa cacat pada diri saudaranya bersamaan dengan berusaha bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan kekeliruan dan cacar saudaranya.

Makna ungkapan beliau (غَفَرَ خَلَلِهِ) adalah berusaha memaafkan kesalahan dan kekeliruannya”[10].

Kesepuluh : memintakan ampunan untuknya

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nadaa Hafizhahullah mengatakan,

“Hendaklah anda memohonkan ampunan untuknya baik ketika dia masih hidup yang ini merupakan bukti tulusnya cinta. Maupun setelah dia wafat, baik ketika dia telah dikuburkan di perkuburannya atau di waktu apapun. Hendaklah anda mohonkan ampunan untuknya ketika anda mengingatnya. Sungguh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda setelah menguburkan salah seorang shahabatnya,

اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ, فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian, mohonkanlah keteguhan hati untuknya. Karena sesungguhnya sekarang di sedang ditanyai”[11].

Inilah indikator yang sangat jelas untuk hal tersebut. Maka seyogyanya seorang muslim untuk berusaha memiliki adab ini selamanya”[12].

Belum mampu ??!!

Mari simak sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, 

سَدِّدُوْا وَقَارِبُوا

“Berusalah mendekati…..”[13].

Mari berusaha melaksanakannya….

Fawaid dari Kajian Rutin Bersama Guru Kami Ustadz Rahmat Ghufron hafizhahullah.

Sigambal, setelah ‘Isya

13 Dzul Qo’dah 1436 H / 9 Agustus 2015 M

Aditya Budiman bin Usman

catatan kaki part1

[1] Lihat Tafsir Jalalain.

[2] HR. Bukhori no. 1, Muslim no. 1907.

[3] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 59 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[4] HR. Abu Dawud no. 4832, Tirmidzi no. 2395. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[5] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 60

[6] Idem hal. 60.

[7] Idem hal. 63.

[8] HR. Muslim no. 2162.

[9] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 64.

[10] HR. Bukhori no. 481, Muslim no. 2585.

catatan kaki part2

[1] HR. Ahmad no. 27650. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[2] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 65 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3] HR. Ahmad no. 7929. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Arnauth Rohimahullah.

[4] HR. Bukhori no. 2443.

[5] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 65-66 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[6] HR. Muslim no. 2732.

[7] HR. Al Bazzar dalam Musnadnya no. 3577. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[8] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 68 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[9] Lihat Muqoddimah Al Majmuu’ Syarh Al Muhadzdzab hal. 31/I.

[10] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 71-72 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[11] HR. Abu Dawud no. 3221. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[12] Lihat Al Mausu’ah Al Adab Al Islamiyah hal. 72-73 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[13] HR. Bukhori no. 6098, Muslim no. 7300