Teror digital kerap terjadi belakangan ini, bagaimana bisa terjadi? Wisnu prasetya, Peneliti dan Dosen Media di UGM menyebut trend ini terkait dengan bagaimana orang-orang  belakangan ini semakin tidak berani berpendapat, apalagi jika ide-idenya berbenturan dengan pemerintah. Ketakutan ini sudah menggejala dan membuat iklim demokrasi di internet justru buruk.

“Kultur ketakutan itu bukan hanya menyergap warga sipil, tapi juga media” ungkapnya dalam diskusi Temu Penggerak Gusdurian (TUNAS) 2020 yang dilakukan secara daring (9/12)

Wisnu juga menambahkan beberapa kasus di mana ada serangan cyber di media, jurnalis yang mengalami kekerasan, bahkan beberapa beritanya yang minta diedit karena paksaaan di digital.

“Jadi ini itu seperti normalisasi teror. Teror ini bahkan menyerang anak muda yang sedang berfikir kritis,” tambahnya.

Misalnya, wisnu menyebutkan kejadian ketika aksi #ReformasiKorupsi salah satunya ketika whatsapp anak-anak STM diretas. Wisnu juga menambahkan cerita ketika  mahasiswa-mahasiswanya banyak yang diteror bahkan dituduh mendalangi kerusuhan di Malioboro ketika terjadi aksi tolak #omnibuslaw.

Baca juga: Islam dan narasi teror di internet

Wisnu juga menambahkan bahwa, serangan-serangan itu bertujuan untuk menakuti orang untuk berpendapat.

“Pilihan untuk melakukan doxing itu agar takut berpendapat, ini gejala yang berbahaya bagi demokrasi,” imbuhnya.

Di akhir, wisnu juga menambahkan bahwa isu-isu belakangan ini bersifat kultural. Sehingga solusinya juga tidak selalu bisa didapatkan dari pemerintah. Menurut Wisnu, saat ini banyak orang yang memilih untuk menjadi silent majority. Di mana mereka memilih pasif di media digital. Pelakunya siapa? Entahlah.

“Di sinilah pentingnya Gusdurian hadir untuk memberantas hoax juga menegah polarisasi yang mungkin terjadi di media,” tambahnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here