“Kunci keberhasilan pengendalian penyebaran Covid-19 adalah kedisiplinan kita…” ~ Jokowi

Itu tadi adalah penggalan dari kicauan Presiden Jokowi tertanggal 19/05 di twitter. Namanya juga penggalan pasti tidak utuh. Nah, utuhnya adalah begini:

Ya, seperti dibilang sendiri oleh (admin) Presiden Jokowi bahwa senarai kedisplinan itu semua memang harus kita taati, terutama menjelang Idul Fitri dan nanti pada saat Idul Fitri.

Tapi, sebentar, ada yang ganjil dalam tweet tersebut. Melihat komentar demi komentar yang diluncurkan oleh warganet republik Indonesia, saya mendapati sebuah ijma’. Jumhur netizen sepertinya menyepakati bahwa siluet orang yang ditampilkan dalam tweet Presiden Jokowi adalah salah kiblat.

Dugaan adanya fenomena salah kiblat itu didasarkan pada ru’yatu al-syams yang tidak biasa. Di satu pihak, siluet orang (tampak belakang) yang sedang berposisi duduk tahiyat di atas sajadah itu diasumsikan sedang menghadap kiblat, sedangkan pancaran sinar matahari berasal dari sebelah kanan orang tersebut.

Artinya, hanya ada dua kemungkinan: orang tersebut kalau tidak sedang menghadap utara, ya berarti sedang menghadap selatan. Akan tetapi, kalau melihat jam dinding yang terpajang di sana dan menyadari bahwa waktu menunjukan pukul 15.13, maka hampir bisa dipastikan bilamana arah mata angin yang sedang dihadapi oleh orang tersebut adalah selatan.

Meski begitu, asumsi itu bisa juga keliru, sebab tidak menutup kemungkinan kalau jam tersebut sedang kehabisan daya, umumnya jam dinding yang ada di rumah kita bukan?

Karenanya, jika sinar matahari itu adalah cahaya pagi, maka orang yang bersangkutan sedang menghadap utara.

Lalu, apakah orang itu benar-benar menghadap kiblat yang salah?

Sebetulnya tidak juga. Ini jika kita berhusnuzon kalau orang tersebut tidak berada di Indonesia. Dengan kata lain, bisa saja siluet orang itu diasumsikan sebagai seorang perantau yang, katakanlah, sedang study abroad di sebuah wilayah dengan utara/selatan sebagai arah kiblatnya.

Namun, sehusnuzon-husnuzonnya upaya kita, itu semua akan amsyong jika kita jeli melihat petunjuk yang ada. Ya, di sana benderang sekali terdapat banyak properti yang menunjukkan bahwa it’s Indonesia boskuh!!

Apa saja petanda itu?

#3 Ruang Sholat

Barangkali adalah sebuah kearifan lokal tersendiri bagi desain rumah masyarakat muslim Indonesia yang seolah kurang kafah jika tanpa musholla. Padahal, Nabi Muhammad Saw sendiri sebetulnya juga tidak punya mushola di rumahnya. Bahkan, Nabi Saw dikabarkan sering shalat di kamar beliau, kalau tidak di Masjid. Tapi tak apa. Lagian, ini bukan perkara yang fundamental dalam syariat.

Dan, fenomena menyelipkan ruang shalat di rumah sendiri ini tentu saja merupakan hal wajar belaka, mengingat Indonesia masyhur sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Bangunan musholla, atau tempat yang berfungsi untuk shalat, ini bisa bermacam-macam rupa dan diameternya. Saya menaksir kalau ruang shalat yang terdapat dalam siluet tweet Presiden Jokowi itu sebesar 2 x 4 m, dengan asumsi bahwa itu sebetulnya muat untuk dua orang.

#2 Bentuk Jam Dinding

Terus terang, petunjuk kedua ini mengingatkan saya dengan masa-masa sewaktu mudik. Maaf, maksud saya adalah pulang kampung.

Ya, jam dinding dengan bentuk seperti yang diarsirkan oleh tim kreatif istana dalam siluet gambar tersebut mirip sekali dengan umumnya jam dinding yang menggantung di rumah-rumah pedesaan. Bagi Anda generasi 90-an atau 80-an pastilah familiar dengan jam tersebut, bukan?

#1 Jelas sekali bahwa itu adalah siluet orang Indonesia dengan zona waktu Indonesia pula, karena yang mencuitkan adalah admin twitter Presiden Indonesia

Masih butuh penjelasan?

***

Oiya, satu lagi. Tweet itu dikicaukan dengan keterangan perangkat Tweet for Android. Artinya, besar kemungkinan bahwa itu memang bukan Presiden Jokowi yang menyengaja iseng salah gambar.

Sebaliknya, itu adalah murni ke-tidak-disiplinan sang admin dalam melakukan verifikasi zona waktu dan kesahihan gambar. Tapi tak apa, sebab yang lebih penting adalah disiplin untuk “mencuci tangan, menjaga jarak, mengenakan masker, dan menghindari keramaian.”

Itulah yang harus kita taati, terutama menjelang Idul Fitri dan nanti pada saat Idul Fitri.