Terdapat banyak sekali keutamaan para sahabat Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang generasi awal yang menegakkan Islam, menemani Nabi Muhammad ketika dihina, disiksa, dan direndahkan oleh kafir Quraisy. Mereka mengorbankan harta benda, kedudukan, dan meninggalkan keluarga mereka demi perjuangan Islam.

Saking mulianya kedudukan para sahabat, Allah Swt menempatkan posisi mereka sebagai generasi terbaik dan dijanjikan surga di akhirat. Kendati telah berlalu ratusan tahun lampau, sebenarnya masih ada satu sahabat Rasulullah Saw yang masih hidup dan belum meninggal hingga sekarang. Siapakah dia?

Kemuliaan para sahabat ini tergambar dalam firman Allah surah Al-Anfal ayat 62: “Dan jika mereka hendak menipumu [Muhammad], maka sesungguhnya cukuplah Allah [menjadi pelindung] bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan [dukungan] orang-orang mukmin,”(QS. Al-Anfal [8]: 62).

Kata “orang-orang mukmin” di ayat di atas merujuk pada para sahabat Rasulullah. Allah Swt menjadikan mereka pendukung dan penopang dakwah Islam, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi tegaknya kalimat Allah Swt.

Lantas, siapa itu sahabat Rasulullah? Secara definitif, sahabat Nabi Muhammad Saw adalah “orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Saw dalam keadaan beriman kepadanya, serta meninggal dalam keadaan Islam,” sebagaimana dikutip dari kitab Al-Ishabah fi Tamyizi As-Sahabah (1995) yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Berdasarkan definisi di atas, terdapat tiga kategori seseorang dapat dianggap sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Pertama, orang itu harus pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw secara nyata, minimal sekali seumur hidupnya. Orang-orang yang menyatakan bermimpi bertemu beliau Saw tidak bisa dikategorikan sebagai sahabat karena pertemuan itu terjadi di alam bawah sadar (mimpi), serta tidak berlaku dalam kategori ini.

Kedua, para sahabat harus dalam keadaan beriman. Karena itulah, orang-orang yang mempunyai simpati ke Islam dan mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw, namun tidak beriman, tidak bisa dianggap sebagai sahabat.

Sebagai misal, pamannya Nabi Muhammad, Abu Thalib adalah sosok pelindung dakwah beliau Saw. Ia bersimpati dan mendukung langkah Rasulullah. Sayangnya, hingga Abu Thalib meninggal, ia tidak mengucapkan kalimat syahadat dan belum beriman kepada Allah Swt.

Ketiga, seorang sahabat harus meninggal dalam keadaan muslim. Di masa kenabian, terdapat sejumlah orang yang memeluk Islam dan berjuang bersama Rasulullah, namun di akhirnya hayatnya, mereka keluar dari Islam. Di antara mereka yang murtad adalah Ubaidullah bin Jahsy dan istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan.

Keduanya merupakan bagian dari orang-orang yang memeluk Islam di periode Makkah dan berhijrah ke Habasyah atau Etiopia. Sayangnya, sesampainya di Habasyah, keduanya malah berpindah keyakinan dan memeluk agama Nasrani. Kendati pernah berjuang bersama Nabi Muhammad Saw, namun karena murtad dan meninggal dalam keadaan kafir, maka mereka tidak bisa disebut sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Sahabat Rasulullah Saw yang Masih Hidup Hingga Sekarang

Berdasarkan definisi sahabat di atas, terdapat seorang mukmin mulia yang bisa dikategorikan sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw, yaitu Nabi Isa AS. Sebab, Nabi Isa pernah bertemu Rasulullah di peristiwa Isra dan Mi’raj dan belum meninggal sampai sekarang.

Ketika diangkat ke langit dalam kejadian Isra dan Mi’raj, Rasulullah Saw bertemu dengan para nabi sebelum beliau, kemudian para nabi dan rasul itu juga menjadi makmum ketika Rasulullah mengimami salat dua rakaat. Selanjutnya, ketika Malaikat Jibril mengajak Rasulullah mengunjungi surga, beliau Saw juga berjumpa langsung dengan Nabi Isa.

Hal ini tergambar dalam hadis riwayat Abdullah bin Abbas, ia bercerita mengenai kisah Isra dan Mi’raj Rasulullah:

“Malam saat Nabi Muhammad Saw Isra, beliau diajak [Malaikat Jibril] memasuki surga. Beliau mendengar ada suara di sampingnya. Nabi bertanya, ‘Hai Jibril, apa itu?’. ‘Itu adalah Bilal sang muadzin,’ jawab Jibril. Nabi Saw. bersabda di tengah khalayak, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya demikian dan demikian.’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Kemudian beliau berjumpa dengan Musa AS. Musa menyambut beliau dengan gembira. Ia berkata, ‘Selamat datang Wahai Nabi yang Buta Huruf’. Kata Ibnu Abbas, ‘Musa adalah seorang yang sedang tingginya. Rambutnya lurus terurai hingga kedua telinganya, atau di atasnya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini hai Jibril?’ ‘Ini adalah Musa AS’, jawab Jibril,’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Beliau berlalu. Kemudian berjumpa dengan Isa. Nabi Isa menyambut beliau dengan gembira. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini Isa’. Kemudian beliau berlalu. Beliau berjumpa dengan orang tua yang berwibawa. Ia menyambut nabi dengan gembira. Mengucapkan salam kepadanya. Dan mereka semua mengucapkan salam padanya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah ayahmu, Ibrahim’,” (HR. Ahmad).

Penyebutan julukan sahabat Rasulullah atas Nabi Isa ini tertuang dalam kitab Tajrid Asma As-Sahabah (2008) yang ditulis oleh Imam Az-Zahabi. Nabi Isa diangkat oleh Allah Swt ke langit dan belum meninggal hingga sekarang, ia beriman kepada ajaran Nabi Muhammad, bertemu langsung dengan beliau Saw, dan kelak akan diturunkan lagi ke bumi sebelum hari Kiamat.

Ketika Nabi Isa turun ke bumi, ia akan menyampaikan syariat Islam dari ajaran Nabi Muhammad Saw. Penurunan Nabi Isa ke bumi adalah salah satu tanda kiamat besar. Nabi Isa akan membunuh Dajjal dan membersihkan penyimpangan agama Islam di muka bumi ini. Wallahua’lam