Sejak ramai ceramah ustadz yang mengklaim telah menemukan beberapa kristenisasi pada lagu anak, Rahmat menjadi ragu dengan beberapa barang yang ia digunakan. Mulai ubin di rumah, jendela, ukiran di daun pintu, hingga rangka baja di atap rumahnya, semuanya berbentuk x yang diluruskan, sehingga menyerupai simbol salib. Kata-kata seperti “jangan-jangan” mulai muncul di ‘kepalanya’.

Dalam hal ini, Rahmat bukan orang baru. Generasi 90an, penggemar lagu “Balonku ada lima”, juga pernah mendapatkan teori konspirasi lain. Saat itu, banyak video-video yang diedit ala kadarnya muncul di rumah-rumah, bahkan diperjual-belikan CD (bajakan)-nya. Video klip Dewa 19 dibahas tuntas di video tersebut, dianggap menyelipkan simbol Bintang David dan ‘mata Dajjal’ yang identik dengan Yahudi, Zionis dan Illuminati.

Seperti Rahmat, saya dan anak-anak masa itu juga ikut terpengaruh sedikit-sedikit. Pasalnya, simbol mata Dajjal yang diketahui berbentuk bulat ini ada di mana-mana. Kipas angin, colokan listrik, bahkan kancing baju. Masa saat itu menghindari simbol ‘mata Dajjal’ ini terbilang sulit. Jika menggunakan simbol ini termasuk bentuk kekafiran, saya dan anak-anak masa itu mungkin sudah termasuk orang kafir.

Oleh karena itu, pak Ustadz, yang baru-baru ini viral karena mengira ada kristenisasi pada lagu anak-anak, bisa disebut agak ketinggalan jaman dan kudet. Mungkin juga pak Ustadz ini baru tahu, kalau memang dari dahulu simbol Kristen, dan tentunya agama lain, ada dan banyak sekali di sekitar kita.

 

Fanatik dengan Simbol

Memercayai simbol, sebagai bagian dari proyek misionaris dan usaha untuk menjerumuskan orang Islam ke dalam agama lain bukan hanya terjadi sekarang. Bisa dikatakan bahwa Ustadz Zainal Abidin ini tergolong junior dalam hal ini. Sebelum dia, beberapa ustadz juga memiliki pandangan yang sama.

Ustadz Abdul Somad (UAS) contohnya, yang pernah bilang bahwa logo palang merah adalah simbol Kristen. Ia menyarankan agar logo-logo pada ambulance yang ada di Indonesia, terutama yang digunakan oleh orang-orang Islam untuk tidak menggunakan logo salib ini dan menggunakan logo bulan sabit yang menjadi simbol Islam.

Selain UAS, Habib Riziq juga salah satu senior dalam hal ini. Dia adalah orang yang percaya bahwa lambang BI dalam uang kertas terbaru adalah logo PKI yang disamarkan.

Beberapa waktu lalu, kita juga pernah melihat beberapa orang yang percaya bahwa ada gambar salib di karpet masjid yang sangat lumrah digunakan. Mereka menolak menggunakan sajadah tersebut karena percaya bahwa bersujud di atas salib bisa mengarah pada perbuatan menyekutukan Allah SWT.

Dari beberapa kasus di atas kita melihat bahwa ada sebagian orang yang sangat percaya dengan simbol yang sering dikenalinya sebagai simbol kelompok atau agama tertentu. Walaupun belum tentu makna sebenarnya adalah demikian.

Berbicara terkait simbol, dalam sejarah, Rasul sendiri sama sekali tidak membuat simbol secara khusus. Bendera bulan bintang yang selama ini dikenal sebagai bendera Islam, baru digunakan pada abad ke-19 oleh kerajaan Ottoman. Lalu, entah kenapa dan kapan gambar ini menjadi lambang yang identic dengan Islam.

Jika mereka mengira bahwa semua yang bergaris silang adalah salib, maka ia seharusnya perlu membongkar dan membuang semua benda penting yang bergaris silang. Jika mereka meyakini bahwa simbol iluminati adalah bentuk bulat seperti mata Dajjal, maka ia juga perlu membuang semua benda berbentuk bulat. Sebelum membuang benda-benda yang memiliki gambar atau bentuk demikian, ada baiknya kita hitung dulu berapa banyak benda di sekitar kita yang seperti itu, jumlahnya pasti banyak sekali, bukan?

Jika kita masih tetap fanatik dengan simbol tersebut dan meyakininya dapat melunturkan atau bahkan merusak keislaman, maka siap-siap lah memiliki benda yang tak sempurna: rumah tanpa ubin, atap dan jendela (karena dianggap salib); atau mobil dan motor tanpa roda (karena dianggap iluminati). (AN)

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here