Sejumlah akademisi di Eropa meminta Komisi Eropa menggunakan pengaruhnya demi menekan UE terkait pemberian dana pada sejumlah universitas di Israel. Tak kurang 160 akademisi dari 21 negara Eropa telah memberikan surat terbukanya kepada Komisi Eropa. Surat tersebut intinya melarang pemberian dana program Horizon Eropa kepada universitas di Israel karena telah melakukan tindakan kekerasan dan pendudukan terhadap wilayah sah Palesetina.

Dalam suratnya, para akademisi meminta badan tersebut untuk lebih menekan institusi akademik Isarel yang dituduh terlibat dalam terlibat dalam rezim pendudukan militer, kolonialisme pemukim, dan apartheid Israel.

Salah satu isi di dalamnya berbunyi bahwa lembaga akademis Israel terlibat dalam kekerasan terhadap Palestina secara luas dan sistematis. “Penting untuk memperluas larangan dana penelitian Eropa untuk memasukkan lembaga-lembaga Israel yang terlibat dalam pelanggaran Israel terhadap hak asasi manusia Palestina, di mana pun mereka berada,” demikian bunyi surat tersebut.

Program pendanaan yang dikenal sebagai Horizon Eropa adalah program penelitian dan inovasi terbesar di Uni Eropa dengan anggaran sekitar 112 miliar dolar. Adapun penandatangan surat tersebut datang dari beberapa akademisi antara lain, Universitas Edinburgh, Institut Teknologi Massachusetts, Universitas Oxford, Universitas Paris Nanterre dan Universitas Westminster dan beberapa akademisi lain.

Sementara itu sejumlah akademisi bergabung dengan sejumlah lembaga lainnya menyerukan boikot akademik terhadap Israel.  Pada bulan Mei lalu ada 400 afiliasi Universitas New York (NYU) menandatangani surat yang menyerukan “non-kerja sama” dengan kampus NYU Tel Aviv.

Sebelumnya, ratusan karyawan di Amazon, Google dan Apple meminta raksasa teknologi untuk mendukung hak-hak Palestina dan memutuskan hubungan dengan militer dan badan intelijen Israel. Lebih dari 600 musisi juga memboikot pertunjukan di Israel hingga berakhirnya pendudukan Palestina.

Konflik Israel Palestina memang sampai sekarang masih terus berlanjut. Serangan terbaru Israel yang terjadi di Gaza menewaskan sedikitnya 248 warga Palestina termasuk lebih dari 60 anak-anak. Banyak lembaga hak asasi internasional meminta penyelidikan mendalam terhadap peristiwa ini karena dianggap sebagai aksi gendosida dan aparthaid. (AN)