Putri Gus Dur, Alissa Wahid, mengingat peristiwa 2010-2012 ketika ikut gerakan #IndonesiaTanpaFPI di Jakarta tatkala vonis pembubaran FPI dibacakan oleh pemerintah hari ini, Rabu (30/12).  Gerakan ini #IndonesiaTanpaFPI ini muncul sebagai bentuk protes publik atas begitu maraknya jejak kekerasan yang dilakukan oleh FPI dan pembiaran yang dilakukan oleh negara terhadap ormas tersebut.

“Menyimak konpers Kemenkopolhukam, jadi ingat turun ke jalan tahun 2010-2011 dengan tagar #IndonesiaTanpaFPI karena FPi berkali-kali melakukan aksi kekerasan,” demikian Alissa di akun pribadi @Alissa Wahid, Rabu, 30 Desember 2020.

Aksi kekerasan yang dilakukan FPI tentu saja bisa dengan mudah Anda temukan jejak digitalnya sampai saat ini. Mulai dari aksi sepihak sweeping yang kerap dilakukan dan tak jarang berakhir dengan kekerasan, hingga salah satu yang paling kentara adalah upaya penyerangan sistematis terhadap jemaat Ahmadiyah.

Publik tentu saja tidak akan lupa bagaimana Habib Rizieq, pimpinan FPI, melakukan ajakan terbuka untuk membunuh Mantan Gubernur DKI, Ahok, karena dianggap menista Islam pada 2016 lalu.

“Bunuh-bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga!” pekiknya, sembari dilagukan dan diikuti ratusan ribu massa yang menyemut mengelilingi Habib Rizieq.

Apakah ajakan ‘membunuh’ seorang tokoh publik itu dibenarkan? Tentu saja tidak. Orang boleh berdemontrasi, menentang dan menolak pemikiran seseorang, tapi jika urusannya sudah merembet perkara kekerasan, apalagi ajakan pembunuhan secara langsung di depan publik, maka harusnya pihak keamanan harus menindak dengan tegas.  Dan kini, 30 Desember 2020, organisasi yang menaungi Habib Rizieq secara resmi dibubarkan oleh pemerintah.

Alissa Wahid pun mengenang peristiwa dalam aksi #IndonesiaTanpaFPI yang pernah kisruh 2011 lalu. Peristiwa itu terjadi di bunderan HI dan membuat aksi yang semula damai itu jadi ricuh. Kebetulan, saya ikut di aksi tersebut dan turut menyaksikan suasana yang berubah jadi panas ketika salah satu provokator masuk dan memukul salah satu peserta aksi, Bhagaavad Shambada, dan membuatnya harus dibawa ke polsek karena bersimbah darah.

Usut punya usut, ternyata, pelaku adalah FPI. Mereka masuk untuk jadi provokator aksi damai. “Ada FPI, ada FPI, lari!” teriak salah seorang waktu itu. Dan saya pun berlari bersama puluhan orang karena takut akan ada penyerangan serupa yang terjadi pada tahun 2008 lalu, ketika FPI menyerbu dan memukuli para aktivis yang melakukan aksi damai Kesaktian Pancasila di Monas.

Dan, di peristiwa hari itu, menurut keterangan Alissa berdasarkan bukti dari video jurnalis, ternyata memang benar-benar orang FPI yang gebukin Bhaga, bahkan di dalam tas orang tersebut juga terdapat batu dan senjata tajam.

Aksi #IndonesiaTanpaFPI sendiri berawal dari media sosial, facebook dan twitter, dan bukanlah gerakan terorganisir rapi. Ini sebuah gerakan moral, sebuah seruan moral dari publik melihat kekerasan dari FPI yang seolah dibiarkan oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu.

Lantas, kita bertanya, apakah memang organisasi ini harus benar-benar dibubarkan?

“FPI sejak tgl 20 Juni 2019 secara de jure telah bubar sebagai ormas. Tetapi sebagai organisasi FPI tetap melakukan aktivitas yang melanggar ketertiban dan keamanan dan bertentangan dengan hukum seperti tindak kekerasan, sweeping atau razia secara sepihak, provokasi dan sebagainya,” demikian Menkopolhukam Mahfud MD mengumumkan, merujuk pada rangkaian kegiatan FPI yang kerap dilaksanakan bertentangan dengan hukum.

Jadi, FPI dan segala tindakan kekerasannya menurut pemerintah resmi dibubarkan. Apalagi, segala aktivitasnya yang kerap main hukum sendiri, sweeping, razia dan provokasi telah membuat publik resah. Hal ini seakan menjawab pertanyaan, negara kok kalah ama organisasi yang kerap main hukum sendiri dan melakukan provokasi kebencian?

Bagi Alissa Wahid, pembubaran FPI ini mengingatkan pada peristiwa ketika terjadi penyerangan Ahmadiyah beberapa waktu lalu. Seorang Ahmady, panggilan bagi mereka yang pengikut Ahmadiyah, suatu ketika menelpon Alissa dan sembari menangis.”Kami akan bertahan sampai mati. Seandainya masih ada Gus Dur, pasti beliau besok pagi sudah berdiri di depang gerbang kami,” tuturnya.

Tentunya, kita tidak ingin lagi seorang warga negara menangis dan dibunuh hanya karena ia berbeda paham dengan kita, bukan?