Beberapa keutamaan sedekah dan pengaruhnya bagi harta yang telah kita sebut di atas mengingatkan kita akan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (al-Baqarah: 276)

Riba dan sedekah adalah dua hal yang sangat berlawanan. Sedekah, yang kebanyakan manusia bakhil karena khawatir hartanya berkurang, justru itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala kembangkan. Sebaliknya, apa yang manusia sangka menambah hartanya yaitu riba, justru Allah subhanahu wa ta’ala musnahkan. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala memerangi pelakunya.

Akan tetapi, kebanyakan manusia telah terbalik penilaiannya. Janji Allah subhanahu wa ta’ala tentang sedekah mereka abaikan. Sebaliknya, ancaman Allah subhanahu wa ta’ala tentang riba tidak lagi dihiraukan. Manusia justru berbondong menempuh jalan pintas mengembangkan hartanya dengan riba.

Berita Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi pada akhir zaman benar-benar terwujud. Beliau bersabda,

بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ يَظْهَرُ الرِّبَا

“Di saat mendekati kiamat akan tampak (meluas) riba.” [HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir sebagaimana dikatakan al-Mundziri dalam at-Targhib wat Tarhib (3/9). Al-Mundziri berkata, “Rawi-rawinya perawi sahih.”]

Perkumpulan-perkumpulan sering disisipi kegiatan simpan-pinjam dengan mengembalikan uang jasa yang tak lain adalah riba. Deposito bank menjadi kebanggaan dan seolah menjadi jaminan masa depan. Pendek kata, banyak kaum muslimin terjatuh pada riba.

Keadaan ini diperparah dengan banyaknya bank dan lembaga ribawi lainnya serta merebaknya bank-bank berlabel “syariah”, yang ternyata produk-produknya masih sangat kental dengan riba melalui rekayasa-rekayasa yang menipu kebanyakan muslimin.

Para pemuja dunia menyangka bahwa bank dengan ribanya adalah sarana mengembangkan harta dan satu-satunya lembaga yang terpercaya untuk menginvestasikan harta. Bahkan, mungkin di antara mereka ada yang mengatakan bahwasanya mustahil pada zaman ini seseorang terlepas dari riba. Mustahil seseorang hidup tanpa riba.

Benarkah demikian? Tidak! Justru riba adalah sumber kerusakan dan kehinaan. Bukan kebaikan yang diraup, melainkan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kenistaanlah yang akan dituai.

Mereka menyangka bahwa dengan riba harta akan berkembang, sebaliknya dengan bersedekah harta berkurang. Sungguh, ini adalah buruk sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan waswas setan. Tidakkah kita renungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (al-Baqarah: 276)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memusnahkan riba dan akan menghilangkan berkahnya. Riba adalah sebab turunnya kejelekan-kejelekan pada harta dan tercabutnya berkah. Kalaulah seseorang menginfakkan harta yang dia peroleh dengan riba, sungguh pahala tidaklah akan dia raup, tetapi justru akan menjadi beban baginya di neraka.

Adapun sedekah, Allah subhanahu wa ta’ala akan terus menyuburkannya. Dia juga menurunkan berkah pada harta yang dikeluarkan zakatnya. Pahala sedekah akan dipelihara (dan dilipatgandakan, -pen.) oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuknya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 117)

selengkapnya: https://asysyariah.com/allah-musnahkan-riba-dan-suburkan-sedekah/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here