“Kasihan, ya anak itu kurus, nggak diurusi sama ibunya!”. Pernah dengar kalimat seperti ini?

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke posyandu di sebuah desa di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Saya dan teman-teman yang sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) membantu ibu-ibu menimbang dan menghibur anak-anak yang menangis ketika ditimbang. Ada hal yang menurut saya janggal, yaitu rata-rata ibu-ibu datang ke posyandu sendiri, tanpa ditemani oleh ayah.

Tentu saja, rutin membawa anak ke posyandu merupakan kegiatan yang patut diapresiasi, dilanjutkan, dan dipertahankan. Ketika datang ke posyandu, orang tua mendapatkan informasi mengenai pertumbuhan anak, mendapatkan nutrisi, dan mencegah terjadinya kurang gizi terjadi.

Tumbuh kembang anak selama masa keemasan (0-5 tahun) akan dipantau secara baik di posyandu. Perjuangan ibu-ibu membawa anak-anaknya ke posyandu menaiki bukit menuruni lembah merupakan wujud perhatian dan kasih sayang. Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali mereka berjalan kaki atau mengendarai motor untuk menjangkau posyandu di daerah pegunungan itu.

Namun, sayangnya, edukasi pencegahan kurang gizi di desa yang saya kunjungi itu hanya ditargetkan kepada ibu-ibu, tanpa melibatkan bapak-bapak. Padahal, ibu dan bapak seharusnya sama-sama berperan dalam pengasuhan. Keterlibatan sosok ayah dalam pengasuhan sangat penting agar ibu tidak merasakan beban ganda, tidak merasa diabaikan, pekerjaan lebih ringan, lebih bahagia, keluarga lebih harmonis, dan masalah mengenai gizi anak dipantau secara bersama-sama.

Melansir dari Jurnal Multidisiplin West Science, keterlibatan pengasuhan ayah bagi anak dapat memberikan manfaat bagi perkembangan kognitif, emosi, kesejahteraan psikologis, sosial, dan kesehatan fisik. Peran ibu dan ayah sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang seorang anak.

Kurang gizi sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Melansir dari Kompas.id, banyak orang tua yang memberi anaknya susu formula dan makanan instan untuk bayi. Kurang edukasi, kesadaran, dan kerja sama untuk memberikan anak makanan bergizi seimbang, seperti sayur, buah, ikan, daging, dan sebagainya. Baik ibu maupun ayah harus sama-sama diberi pemahaman oleh tenaga kesehatan mengenai pentingnya memberikan makanan bergizi seimbang kepada anak untuk mencegah kurang gizi.

Kasus kurang gizi pun ada kaitannya dengan perkawinan anak, kurang ekonomi, beban ganda, dan kurangnya akses kontrasepsi. Perempuam dilimpahi tugas, upah kerja lebih sedikit. Akibatnya, perempuan jadi lelah, pola makan, tidur, dan kesehatan kurang diperhatikan.

Ketika rumah tangga kekurangan ekonomi, mereka tidak bisa membeli makanan yang beragam dan bergizi. Keputusan untuk memiliki anak harus disertai dengan kemampuan psikologi, ekonomi, edukasi mengenai kesehatan, dan siap untuk selalu mengedukasi diri dan pasangan, mengurangi ego masing-masing.

Ada lagi, perkawinan anak dan kehamilan anak berisiko kurang nutrisi, alat reproduksi belum siap, bahkan kematian ibu. Ketika anak yang di bawah umur menikah dan mempunyai anak, bisa jadi keputusan tersebut timbul karena kurangnya edukasi mengenai ragam risiko.

Perempuan sering pula dibebani kontrasepsi, padahal laki-laki bisa menggunakannya. Kurangnya edukasi serta akses terhadap beragam kontrasepsi membuat orang tua tidak optimal dan tidak siap merawat anak. Terkadang, belum siap tapi malah hamil lagi, atau Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Kurangnya komunikasi dan pemahaman dengan pasangan membuat mereka mengambil keputusan yang tidak didasarkan dari kesepakatan yang akhirnya bisa merugikan semua pihak.

Stigma kalau perempuan tak butuh banyak makan, perempuan harus menjaga tubuh agar tetap kurus sesuai standard kecantian itu memberatkan perempuan mencukupi nutrisi hariannya. Ketika bertambah berat badan, tubuh perempuan akan dikomentari, dicaci, akhirnya diet ketat, hingga mengakses obat penurun berat badan tanpa resep dokter. Tentu sangat berbahaya.

Ketika perempuan serba dibatasi dengan stigma, laki-kaki dianggap butuh makan yang banyak supaya tambah kuat. Seharusnya, baik laki-laki dan perempuan berhak untuk mengakses makanan sehat dan bergizi seimbang. Selain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur perlu dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki.

Cara menghindari kurang gizi yaitu dengan pemberian tablet tambah darah untuk remaja putri, akses air bersih dan fasilitas sanitasi, pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, edukasi kesehatan dan kebersihan reproduksi, pencegahan perkawinan anak dan kehamilan di usia remaja, dan keterlibatan ibu dan ayah dalam pengasuhan.

Kesalingan pada itu saling mengusahakan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan. Kesalingan itu berarti partisipatif, menjauhi sikap diskriminasi, dan bermanfaat bagi orang lain.

Tidak hanya ibu, seluruh anggota keluarga, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat perlu bekerja sama mencegah kurang gizi pada anak. Pelan-pelan, mari kerja sama, mengedukasi diri dan sekitar. Semua pihak harus berperan mengatasi kurang gizi, bukan malah saling menyalahkan, ya.