Sebagian besar Muslim saat ini bersemangat untuk menjadi penghafal al-Qur’an dan mendambakan keturunannya untuk menjadi penghafal al-Qur’an atau Hamilul Qur’an. Ini fenomena yang baik dan bagus, karena menjadi penghafal al-Qur’an adalah suatu kemuliaan. Untuk menjadi penghafal al-Qur’an, berdasar pengalaman saya dan teman-teman penghafal al-Qur’an, yang perlu perlu diperhatikan terlebih dahulu ialah niat.

Niat dan tujuan menghafal al-Qur’an harus diperbaiki dan diperbaharui. Menghafal al-Qur’an bukan sekedar menghafal saja, tetapi konsisten dalam menjaga hafalan hingga ajal menjemput. Niatkan untuk selalu menjalani hidup bersama al-Qur’an. Ini sebagai bentuk realisasi janji suci kepada Allah SWT atas dipilihnya sebagai Ahlul Qur’an.

Seberapa penting memperbaiki dan memperbagus niat? Penting banget. Hati harus bersih dari niat duniawi, seperti menghafal al-Qur’an untuk tujuan mencari jodoh, nafkah, atau uang semata. Bersihkan hati dari seluruh kepentingan ini. Perbaiki niat sebelum menghafal al-Qur’an, karena setiap amalan tergantung pada niat kan?

Kemudian, bagi orang yang sudah hafal, jangan sampai melupakan al-Qur’an. Usahakan mempertahankan hafalan agar tidak lupa. Ada banyak hadis keutamaan penghafal al-Qur’an, tapi jangan lupa ada hadis lain juga yang mengancam penghafal al-Qur’an. Di antaranya hadis riwayat al-Tirmidzi berikut ini:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عُرضت علي أجور أمتي، حتى القذاة يخرجها الرجل من المسجد، وعرضت علي ذنوب أمتي فلم أر ذنباً أعظم من سورة من القرآن أو آية أوتيها رجل ثم نسيه

Artinya:

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Telah diperlihatkan kepadaku semua pahala amalan umatku hingga kotoran yang dikeluarkannya dari masjid. Aku juga telah ditunjukkan dosa-dosa umatku, maka tidak aku lihat dosa yang lebih besar dari orang yang mengetahui ayat atau surat al-Qur`an kemudian melupakannya” (HR: al-Tirmidzi)

Selain al-Tirmidzi, Abu Daud juga meriwayatkan hadis di atas. Sumbernya berasal dari Anas bin Malik. Menurut al-Tirmdzi kualitas hadis di atas lemah. Terkait maksud hadis, Imam al-Nawawi dan al-Suyuthi mengatakan hadis itu ditujukan untuk orang yang sudah hafal al-Qur’an, tapi melupakannya dengan sengaja, dan malas untuk mengulang hafalan (murajaah). Malas mengulang hafalan ini menurut sebagian ulama termasuk dosa besar. Imam Abu Ubayd menganggap orang yang melupakan hafalan ini berdosa karena malas untuk mengulang hafalan. Sementara ulama lain, seperti Ibnu Rusyd, mengatakan tidak berdosa bila penyebabnya sibuk mempelajari ilmu yang wajib dan sunnah.

Meskipun hadis di atas lemah, tapi ada beberapa riwayat lain yang menguatkan makna hadis ancaman bagi orang yang melupakan hafalan al-Qur’an. Karenanya, dapat dimaklumi bila sebagian ulama menganggap orang yang melupkan hafalan dengan sengaja berdosa. Ini didasarkan pada banyak dalil, bukan sebatas dalil di atas.

Akan tetapi, lupa adalah sifat alami manusia, bahkan Rasulullah SAW pernah lupa saat shalat, kemudian setelah shalat selesai, sahabat mengingatkan Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW pun melakukan sujud sahwi. Dengan demikian, hal yang akan saya garisbawahi adalah niat menghapal al-Qur’an, berani berpegang teguh dan hidup selamanya dengan al-Qur’an, setiap manusia adalah pendosa, sehingga saya pribadi mengakuinya bahwa hal ini adalah berat, sehingga membutuhkan azam yang kuat dan niat yang ikhlas karena Allah SWT.

Hal kedua yang perlu digarisbwahi adalah, ancaman besar bagi penghapal al-Qur’an yang SENGAJA melupakan hapalan al-Qur’annya karena faktor malas atau enggan murajaah kembali, menghapal al-Qur’an lalu meninggalkan dan menyudahinya begitu saja, untuk yang lupa tapi tetap istiqamah murajaah maka hukumnya tidak berdosa.

Mari murajaah hapalan al-Qur’annya setiap hari yuk, minimal satu ayat atau satu halaman.

Semoga kita semua tetap istiqamah menjadi Ahlul Qur’an pilihan Allah SWT, Aamiin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here