Ariel Noah kebanjiran pujian. Ia dinilai penuh kebijaksanan lantaran mengaku enggan mengomentari apa yang bukan bidangnya, kendati punya power buat memengaruhi publik lewat ketenarannya. Pengakuan itu disampaikan kepada Anji dalam sebuah interview.

Awalnya mungkin terasa normatif, sampai perkataan Ariel itu menemukan momentumnya sewaktu Anji merilis video bersama Hadi Pranoto, narasumber yang diundang Anji. Hadi mengaku telah menemukan obat covid-19.

Ditengarai, sedikitnya 250 ribu orang telah merasakan khasiatnya. Padahal, jumlah total pasien covid-19 yang ada di Indonesia hingga awal Agustus ini baru berada di angka 111 ribu, jauh di bawah jumlah pasien yang diobati Hadi.

Itulah mengapa editorial Koran Tempo (05/08) menulis bahwa apa yang diselebrasikan Anji bersama Hadi adalah lawakan belaka. Sebagai lawakan, kita tentu saja layak terhibur. Bukti dari hiburan itu adalah Anji sempat menjadi pembicaraan publik selama beberapa hari. Di twitter, Anji dan Hadi jadi trending topic.

Meski begitu, kelucuan itu tidak berumur panjang. Ya, seorang politisi yang mengklaim dirinya sebagai CEO Cyber Indonesia, Muannas Alaidid melaporkan Hadi dan Anji ke Polisi. Memang bedebah betul!! Apa-apa kok maunya dipidanakan.

Sudah begitu, Hadi juga tak kalah genit. Ia melaporkan balik orang yang melaporkannya. Begitulah, jika Muannas menggunakan UU ITE, spesifik penyebaran kabar bohong, maka Hadi menggunakan pasal pencemaran nama baik.

Memang, Indonesia adalah negara hukum. Semuanya telah diatur dan tertuang dalam UU bikinan wakil rakyat. Hanya saja, bagaimana logikanya jika sebuah lawakan disikapi sedemikian serius dengan memidanakan pihak yang bersangkutan?

Tentu saja, apa yang dilakukan Anji dan Hadi bukanlah sebenar-benarnya lawakan. Saya justru menganggapnya sebagai sebuah satire. Simaklah keterangan berikut ini:

Mengapa ia bikin obat covid?

Mula-mula, Hadi menegaskan dirinya telah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), berarti obat herbal itu aman dikonsumsi manusia dan sesuai izin yang terdaftar.

“Saya memang tak ada kerja sama dengan IDI, saya tidak ada dalam basis data IDI karena saya bukan dokter,” tutur Hadi, dikutip Tirto.id.

Lebih jauh, Hadi berujar kalau dirinya hanya ingin mencari solusi bagi pemerintah dan rakyat perihal penanganan Covid-19. Semua yang ia ‘wariskan’ adalah untuk kepentingan publik. Jika hasil temuannya buruk, maka ditinggalkan saja. Sebaliknya, bila temuannya baik maka seharusnya dilakukan uji klinis.

See?

“Hanya ingin mencari solusi bagi pemerintah dan rakyat perihal penanganan Covid-19” adalah kata kuncinya. Boleh jadi, Hadi telah jengah dengan langkah pemerintah yang sejak awal tampak tidak becus menangani krisis akibat pagebluk ini.

Malahan, Presiden Jokowi diketahui sempat marah-marah kepada para pembantunya. Nah, di tengah kegalauan itulah Hadi lalu melakukan sebuah gebrakan: obat (herbal) covid!!

Jadi, upaya untuk melaporkan Hadi ke polisi itu sama saja menghina orang yang telah susah payah membantu Presiden menyadarkan para pembantunya.

“Misalnya saya berikan contoh, bidang kesehatan, itu dianggarkan 75 triliun. 75 triliun itu baru keluar 1,53 persen coba, uang beredar di masyarakat ke-rem ke situ semua.”

Apakah masih ingat, siapa yang bilang begitu? Ya, Presiden Jokowi menyentil Menkes Terawan!!

Sementara itu, tanpa mengandalkan anggaran dari negara, Hadi bikin langkah konkrit. Saking konkritnya, dalam siaran di televisi-televisi, Hadi memberikan keterangan bahwa obatnya telah dipesan Ratu Elizabeth II.

Mencengangkan? Tentu saja!

Tapi sebaiknya jangan buru-buru berpikir terlalu heroik dan nasionalis. Karena, sekali lagi, Hadi sedang memperagakan sebuah lawakan.

Dan, selayaknya lawakan, ia tidak perlu dipikir terlalu serius, apalagi dipidanakan. Sebab boleh jadi apa yang dilakukan Hadi adalah benar adanya. Ya, siapa tahu ia memang benar-benar sedang melawak, bukan?

Lagi pula, para pejabat negara kita di awal pagebluk ini juga melakukan hal serupa, seperti: corona vs doa qunut; corona takut masuk Indonesia karena izinnya sulit; kalung anti-corona; dan di atas itu semua, klaim Indonesia sebagai zero case karena warganya rajin berdoa!!

Ah, lepas dari itu semua, saya kok jadi teringat masa kanak-kanak yang jika ada teman jail, maka ungkapan yang keluar dari anak tetangga adalah: aku laporin polisi lhoo!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here