Di antara amalan yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah adalah puasa 9 hari, dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Anjuran mengerjakan puasa ini didasarkan pada beberapa hadis, di antaranya hadis riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam Sunan al-Tirmidzi. Hadisnya sebagai berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

Artinya:

“Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).

Redaksi hadis di atas memang umum, tidak menunjuk ibadah puasa secara spesifik. Tetapi kebanyakan ulama menggunakan hadis di atas sebagai dalil kesunnahan puasa 9 hari di bulan Dzulhijjah. Ini terlihat dari pembuatan judul bab hadis tersebut. Ibnu Majah misalnya memberi judul bab hadis ini dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”. Dalam ilmu hadis, pemberian judul bab menunjukkan pemahaman seorang rawi terhadap hadis yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa.

Karenanya, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan:

واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل

Artinya:

“Hadis ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh.”

Kendati disebutkan puasa sepuluh hari dalam hadis di atas, ini bukan berati pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan ‘Idul Adha. Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan:

 والمراد بالعشر ها هنا الأيام التسعة من أول ذي الحجة

Artinya:

“Yang dimaksud sepuluh hari di sini ialah sembilan hari, terhitung dari tanggal satu Dzulhijjah.”

Berdasarkan pendapat al-Nawawi ini, siapapun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa sembilan hari di awal bulan. Dalam hadis lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul SAW, “Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada sepuluh hari tersebut?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid),” (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala beramal di sepuluh hari Dzulhijjah dan mati syahid. Karena konteks negara kita bukan perperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here