Akhir-akhir ini narasi memerangi pemerintah yang zalim kembali mencuat. Ada banyak hal yang menyebabkan itu. Salah satunya adalah dengan ditangkapnya orang-orang yang melakukan propaganda atas nama Islam. Mereka ditangkap karena melanggar aturan hukum yang sudah disepakati. Tapi pendukung mereka mengira pemerintah melakukan kriminalisasi terhadap para ulama. Sehingga, orang yang membela tokoh yang ditangkap pun dianggap sebagai bentuk perjuangan membela agama atau jihad. Kalau ada yang meninggal, dianggap mati syahid.

Ustadz Ahong dalam cuitannya mengatakan, “Mati syahid seseorang atau tidak, kita tidak tahu persis. Memang kita ini siapa? Kita tidak bisa memastikan seorang mati syahid atau husnul khatimah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan semoga orang yang wafat tersebut meninggal dalam keadaan baik.”

Terkait narasi memerangi pemerintah yang zalim ini juga perlu diluruskan. Menurut Ustadz Ahong, Rasulullah melarang kita untuk memerangi dan memberontak pada pemerintahan yang sah. Yang dibolehkan hanyalah memberi masukan dan mengkritik dengan cara yang baik dan sesuai dengan aturan yang berlaku di negara tersebut.

Kemudian yang perlu dipahami, mengkritik itu berbeda dengan mencaci-maki. Sehingga kurang tepat kalau narasi pemerintah dengan oposisi itu digambarkan seperti Fir’aun dengan Nabi Musa. Sebab Fir’aun sangat otoriter dan mendaku dirinya sebagai Tuhan. Meskipun demikian, Nabi Musa tetap diperintahkan Allah SWT untuk berdakwah dengan lemah lembut.

Terakhir, kata Ustadz Ahong, dahulu Rasulullah pernah menolak keinginan sahabat untuk mati syahid. Alasannya, mati syahid atau tidaknya seorang, tidak perlu dicita-citakan. “Berjuang mah berjuang aja, tanpa perlu menjadikan mati syahid sebagai tujuan utama,” Tutur Ustadz peraih MAARIF Award ini.

Rasulullah sebetulnya ingin mengajarkan kita mengenai optimisme. Berjuang aja dulu, jangan berharap mati sebagai jalan pintas kebahagiaan.

*Jangan lupa follow akun Twitter Ustadz Ahong di sini