Apa yang anda pikirkan tentang sakaratul maut dan kematian? Apakah siap untuk menyambutnya, atau seperti manusia kebanyakan yang cenderung takut dengan saat-saat datangnya malaikat pencabut nyawa?

Pada dasarnya, amal perbuatan akan menentukan bagaimana cara malaikat mencabut nyawa manusia. Dalam hal ini, malaikat mencabut nyawa manusia dengan dua macam: secara keras atau lemah lembut. Sebagaimana tertera dalam QS an-Nazi’at: 1-2.

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ

Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras. Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.

Sudah tentu cara malaikat mencabut nyawa manusia ini sesuai dengan amal manusianya sendiri: secara keras bagi yang kufur dan durhaka. Sebaliknya, malaikat mencabut secara lemah lembut bagi mereka yang beriman dan taat kepada Allah SWT. Maka, yang dialami manusia saat sakaratul maut pastinya bergantung dengan amal perbuatannya semasa hidup.

Kematian dianggap sama dengan kondisi tidur manusia. Rasulullah SAW mempersamakan kondisi tidur manusia dengan kematian. Tercermin dari doa yang beliau ajarkan saat sebelum dan sesudah tidur. Ada pula ayat yang menjelaskan tentang hal ini, yakni QS az-Zumar: 42.

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

Maka pada dasarnya, boleh jadi bagi manusia mukmin yang ketika dicabut nyawanya secara perlahan oleh malaikat dengan lemah lembut ia akan merasakan seperti saat mengantuk, kemudian pelan-pelan dan berangsur ia tertidur menuju kematian.

Lantas, bagaimana kondisi manusia kufur saat menghadapi sakaratul maut?

Di dalam QS al-Anfal: 50 terdapat sebuah informasi mengenai hal ini, disebutkan dalam ayat tersebut:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ

Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka (dan berkata), “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.”

Keterangan di dalam QS al-Anfal tersebut menggambarkan betapa pedih yang dialami oleh manusia kufur. Menurut pakar tafsir Prof. Quraish Shihab dalam memaknai ayat tersebut, Allah hanya mengungkapkan sekelumit dari apa yang akan manusia hadapi saat menghadapi kematian. Al-Quran tidak menggambarkan secara gamblang, dan hanya melanjutkan dengan ucapan yang ditujukan malaikat kepada mereka: “Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar!”

Ayat lain yang menggambarkan manusia saat mengalami sakaratul maut terdapat pada penggalan QS al-An’am: 93:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ

(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Meski cukup terdapat informasi bagaimana manusia yang kufur nan zalim menghadapi sakaratul maut, Prof. Quraish Shihab mengingatkan bahwa ayat di atas tidak menjelaskan apa yang terjadi sekiranya kita menyaksikan secara langsung orang kufur dan zalim saat menghadapi sakaratul maut.

Lebih lanjut, Prof. Quraish Shihab memberi keterangan bahwa para ulama tafsir – dalam membaca ayat tersebut – hanya menyisipkan tambahan kalimat sebagai kesan untuk benak pembacanya, “Sungguh mengerikan, amat dahsyat, dan seandainya kita dapat melihatnya”.

Meski demikian, salah seorang pakar tafsir, Al-Alusi, yang memberi gambaran cukup detail atas apa yang dialami manusia kufur saat sakaratul maut. Sikap malaikat saat mencabut nyawa digambarkan seperti manusia yang sedang menuntut haknya dengan sungguh-sungguh, tanpa memberi peluang atau kelonggaran terhadap lawannya sedikitpun.

Malaikat digambarkan menghardik sambil menyodorkan tangannya seraya berkata: “Berikan hakku sekarang! Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa mengambilnya sekarang juga!”

Di atas kesemuanya itu, informasi dan deskripsi kematian di atas adalah hal yang akan terjadi di luar kuasa manusia. Kematian merupakan ketentuan Allah yang pasti terjadi. Momen sakaratul maut menjadi penentu dari amal perbuatan manusia selama hidup. Akankah hidup berakhir husnul khatimah, atau – na’udzubillah – berujung pada su’ul khatimah.