Terdapat anggapan cukup pedas yang mengatakan bahwa fenomena antroposentrisme berakar dari agama-agama monoteisme. Arnold Toynbee, misalnya, menuduh bahwa konsep monoteisme Kristen, khusunya dalam kitab kejadian 1:28, telah menghilangkan rasa hormat manusia terhadap alam dan lingkungan. Islam sebagai salah satu agama monoteis tak luput dari tuduhan serupa. Akar tradisi yang sama yakni agama Ibrahim dan lahir di Timur Tengah mengakibatkan Islam dianggap sama dengan tradisi Yudeo-Kristen dalam mengajarkan antroposentrisme.

Mengutip britannica.com, antroposentrisme merupakan pandangan filosofis yang berargumen bahwa manusia adalah entitas sentral dan paling signifikan di dunia. Antroposentrisme menganggap bahwa manusia terpisah dan lebih unggul dari alam. Filosofi ini juga berpandangan bahwa kehidupan manusia memiliki nilai intrinsik tersendiri sementara entitas lain (termasuk hewan, tumbuhan, sumber daya mineral, dan sebagainya) adalah sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara wajar untuk kepentingan umat manusia.

Namun pada kenyataannya, supremasi manusia atas lingkungan justru menggiring pada sikap eksploitatif dan destruktif. Hal inilah yang kemudian mengapa antroposentrisme banyak dikritik oleh banyak pihak, termasuk kalangan Barat sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah memang Islam benar-benar mengajarkan antroposentrisme seperti yang dituduhkan?

Konsep antroposentrisme dalam dimensi Islam cenderung berdekatan dengan prinsip-prinsip dasar Islam yang berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk istimewa (super being), manusia sebagai makhluk yang diberi akal (rasional), manusia sebagai makhluk yang paling berkuasa atas alam (sukhriya’) dan konsep khalifah fi al-ard. Keempat prinsip dasar di atas menjadi simpul-simpul teologi yang bias antroposentris.

Ayat al-Qur’an tentang manusia sebagai makhluk istimewa misalnya ada dalam QS. At-Tin; 4,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Ayat tentang manusia yang beri kuasa atas alam, misalnya ada dalam QS. Al-Baqarah: 29,

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dan ayat tentang manusia sebagai manifestasi dari wakil Allah di muka Bumi yang terdapat dalam QS. al-Baqarah: 30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Semua ayat tersebut, jika disatukan maupun secara parsial, seakan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang bias antroposentrisme. Namun, perlu dicermati bahwa pada konteks manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, misalnya, ayat tersebut hanya merujuk pada kesempurnaan fisik manusia. Di sisi lain, al-Qurthubi dalam tafsirnya menegaskan bahwa dimensi kesempurnaan manusia tidak hanya secara fisik, melainkan juga yang metafisik. Artinya, kesempurnaan fisik yang tidak diimbangi dengan keshalihan spiritual dan amal yang baik hanya akan menurunkan derajat manusia itu sendiri.

Dalam hubungannya dengan alam, oleh karenanya, al-Qur’an tidak meletakkan kesempurnaan fisik manusia sebagai variable yang dominan. Pun dengan manusia sebagai makhluk yang paling berakal. Dengan akal, manusia diharapkan mampu mengelola alam dan lingkungan dengan baik. Karena sejatinya manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi dan bukan untuk sebaliknya. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat al-Hud: 61,

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”

Pehamaman al-Qur’an secara parsial dan atomistic menjadi salah satu factor munculnya tuduhan terhadap Islam sebagai agama yang bias antroposentrisme. Ayat tentang  konsep sukhriya’ misalnya, bahwa Allah menciptakan alam dan bumi hanya untuk manusia. Jika ditelaah lebih jauh, Allah menciptakan alam dan bumi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia, melainkan bagi seluruh makhluk Allah. Sebagaimana yang tertulis dalam surat ar-Rahman: 10,

وَٱلْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya).

Kata al-anam dalam ayat ini ditafsiri oleh al-Syinqithi dengan akhalqu yaitu semua ciptaan Allah (seluruh spesies), sedangkan menurut al-Qurtubi makna al-anam adalah apapun yang merayap dan hidup di atas bumi secara umum. Sebagaimana makhluk yang bisa berpikir, manusia harusnya menghayati mengapa Allah dalam QS. al-Baqarah: 30 tetap keukuh menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi meskipun malaikat sedikit skeptis dan takut jika manusia justru akan menghancurkan bumi, bukan malah memakmurkannya.

Secara bahasa, khalifah berarti orang yang datang (ada) belakangan yang menggantikan orang sebelumnya. Dalam hal ini Ibnu Ishaq, sebagaimana dijelaskan at-Thabari dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, menafsiri khalifah sebagai penduduk dan pembangun bumi yang menggantikan peran iblis sebelumnya yang telah menempati bumi. Karena iblis cenderung merusak di bumi, maka mereka dibinasakan oleh malaikat dan diganti oleh Adam sebagai khalifah fil ardh pertama.

Dengan demikian, jelaslah bahwa manusia sebagai khalifah bukanlah sebagai penguasa bumi, melainkan penerus yang secara fungsional memelihara dan memakmurkan bumi. Islam melarang keras antroposentrisme. Lagipula, antroposentrisme sangat menegaskan supremasi kekuatan dan kesempurnaan manusia di atas segala-galanya. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang menganggap bahwa semua yang diberi Allah, termasuk alam dan lingkungan, hanyalah sebuah titipan yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat.