Bagaimana kita proporsional terhadap kasus Nissa Sabyan dan Ayus Sabya? Tidak ada satu pun orang yang tidak ditimpakan masalah oleh Allah. Masalah itu akan selalu ada, sampai kelak kita tiada. Masalah pribadi, pertemanan, keluarga, istri-suami, organisasi, perusahaan, masyarakat dan lain sebagainya. Sekali lagi, aturan Allah ini berlaku bagi saya dan siapa saja.

Oleh karena itu, manakala Allah menimpakan masalah kepada Ayus Sabyan dan Nissa Sabyan, kita tetap harus proporsional dalam menyikapinya. Memang emosi warganet tak bisa kita kendalikan, tetapi minimalnya pribadi kita tidak ikut-ikutan begitu saja seperti kebanyakan orang. Lagi-lagi ini semata-mata karena saya dan kalian semua bisa menghadapi kasus serupa Ayus-Nissa. Bahkan bisa jadi jauh lebih berat. Tersisip simpati dan empati di sini, bagaimana kalau masalah berat itu menimpa kita atau orang terdekat kita.

Ririe sebagai istri Ayus tentu saja sakit hati. Dan itu sangat manusiawi. Maka untuk Ririe pilihannya sedikitnya ada dua: apakah bertahan atau berpisah. Keduanya punya konsekuensi masing-masing. Tetapi berlarut dalam penderitaan, apalagi karena masalah ini terekspos media, bukanlah jalan keluar terbaik.

Jauh-jauh hari saya selalu mengedepankan agar para perempuan dan istri tetap mandiri, sebelum maupun setelah menikah. Satu sama lain tak boleh ada yang ketergantungan. Istri dan suami hanya ditugaskan untuk saling mengingatkan, saling terbuka. Kalau di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, marah barangkali boleh saja asal dalam batas wajar, selebihnya tetap proporsional.

Inilah salah satu bentuk betapa Allah Maha Adil. Bahwa pernikahan itu bukan berarti hidupnya finish. Pernikahan yang memang harus kita jalani sebagai sebuah proses panjang yang membutuhkan ikhtiar dan doa yang tiada henti setiap hari. Sehingga bagi yang sudah menikah, tetap berhati-hati karena masalah bisa datang kapan saja.

Kita harus lebih waspada dan belajar dari kasus-kasus berpisahnya istri dan suami karena tak tahan oleh masalah. Begitu pun bagi yang belum menikah, tidak perlu merasa gengsi, apalagi takut tidak kebagian jodoh, nikmati saja masa muda dengan belajar dan meraih prestasi.

Lalu apa yang harus dilakukan Ayus?

Ayus sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan. Itu baik. Namun Ayus tidak boleh sekadar kata-kata manis. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Untuk itu Ayus harus meminta maaf satu per satu, terutama kepada istri, mertuanya dan orang tuanya. Ayus bisa menyatakan bahwa ia akan mempertahankan atau berpisah baik-baik.

Masing-masing keputusan ada akibatnya. Terus meminta pertolongan Allah dengan tobat nasuha, sambil terus berupaya memperbaiki keadaan dan terus berkarya. Namun tentu Ayus harus tegas, tidak boleh plin-plan. Tegas dengan satu keputusan yang bertanggungjawab.

Cinta itu Buta?

Itulah mengapa kemudian ada istilah “cinta itu buta.” Di satu sisi faktanya memang demikian. Cinta yang entah dibalut nafsu, cinta yang sejati atau cinta apa, tak pernah ada yang tahu apa makna cinta itu sendiri. Ayus yang telah menikah dengan istri yang cantik, dikaruniai buah hati yang lucu. Sementara Nissa, masih gadis, cantik dan pasti banyak yang berebut cinta Nissa. Kita sebagai orang lain pasti punya pikiran demikian. Minimalnya menyayangkan. Tapi inilah realitas. Sebagaimana masalah-masalah cinta yang lain seperti nikah siri, poligami dan masalah lain serupanya.

Nissa kena hukuman sosial. Ia pasti tengah terpuruk dan malu yang berkepanjangan. Nissa manusia biasa sebagaimana kita, hanya ia diberikan Allah keistimewaan bersuara halus dalam melantunkan lagu-lagu religi atau shalawat. Banyak yang terpikat suara, selain juga kecantikannya. Bahkan sikapnya yang ramah terhadap fans. Takdir Allah siapa tahu. Masalah datang seperti tak diundang. Jangankan kita, Ayus dan Nissa pun manakala dalam keadaan sadar pasti tidak ingin berada dalam kondisi sekarang. Saya pikir hukuman sosial sudah cukup, tinggal hukuman dari Allah yang kita tidak tahu.

Selebihnya mari kita fokus kembali pada orientasi dan prioritas hidup. Terus menata diri. Apabila tidak bisa meringankan beban orang lain, minimalnya kita diam, biar masalah tidak semakin runyam. Bukankah ketika kita punya masalah, kita pun selalu segera ingin tuntas dan mudah solusinya? Demikian yang sedang Ayus dan Nissa Sabyan rasakan. Mari kita ambil hikmahnya. Caci-maki, perundungan tak akan menyelesaikan masalah. Ini pelajaran dari Allah untuk kita semua, bahwa air yang tenang bukan berarti aman dari arus. Arus air di bawah malah terbukti bisa lebih mengerikan. Mari sekuat tenaga terus berikhtiar dan berdoa agar Allah berkenan menjaga diri dan keluarga.

Akhirnya, hidup ini memang terlalu mahal kalau hanya diisi dengan sedikit saja keburukan. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti belajar, terus berbuat baik, agar ketika ada masalah, Allah berikan jalan mudah, selain juga kesabaran. Atau Allah bisa menutup aib kita.

Sebagaimana kata dawuh Nabi Saw., “Barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari Kiamat kelak.” Yang namanya manusia, sering kali senang melihat orang lain susah dan susah ketika melihat orang lain senang. Ini indikasi yang dekat dengan dengki. Terus berdoa buat Nissa, Ayus dan Ririe, tak ada masalah yang tak ada hikmahnya.

Silakan jeda, tapi jangan terlalu lama, teruslah berkarya hebat untuk Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here