Sebagian orang yang membenci para penggiat puasa Rajab menyatakan sahabat Nabi tidak mengenal puasa Rajab. Mereka juga menyatakan bahkan ada beberapa sahabat yang dengan tegas menunjukkan sikap benci pada orang yang puasa di bulan Rajab atau melarang puasa Rajab. Di antaranya adalah sahabat Umar Ibn Khattab, Ibnu Abbas, dan Abu Bakar. Benarkah hal itu? Dan apakah dengan fakta tersebut lantas para pegiat puasa Rajab harus berhenti berpuasa Rajab maupun mendorong orang lain untuk berpuasa Rajab?

Adanya sahabat Nabi yang melarang puasa Rajab adalah benar adanya. Berikut redaksi lengkap riwayat bagaimana para sahabat tidak menyukai orang yang berpuasa di bulan Rajab:

Pertama, dalam kitab al-Mushannaf  karya Abdur Razzaq

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ : كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَنهَى عَن صِيَامِ رَجَبَ كُلِّهِ، لِاَنْ لَا يُتَّخَذَ عِيْدًا

Diriwayatkan dari Atha bahwa ia berkata: Ibnu Abbas melarang puasa seluruh rajab, agar Rajab tidak dijadikan hari raya

Kedua, dalam kitab al-Mu’jam al-Ausath karya at-Thabrani:

عَنْ خَرَشَة بنِ الحُرِّ قَالَ : رَأَيتُ عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ ، يَضْرِبُ أَكُفَّ الرِّجَالِ فِي صَوْمِ رَجَبَ ، حَتَّى يَضَعُوْنَهَا فِي الطَّعَامِ ، وَيَقُوْلُ : « رَجَبُ وَمَا رَجَبُ ؟ إِنَّمَا رَجَبُ شَهرٌ كَانَ يُعَظِّمُهُ أَهلُ الْجَاهِلِيَّةِ ، فَلَمَّا جَاء الْإِسْلَامُ تُرِكَ »

Diriwayatkan dari Kharasyah Ibn Al-Hurri bahwa ia berkata, “Aku melihat Umar ibn Khattab memukul telapak tangan beberapa lelaki sebab puasa Rajab, sampai mereka meletakkannya pada makanan. Dan beliau berkata: ‘Rajab, kenapa dengan Rajab? Rajab adalah bulan yang dimuliakan kaum jahiliyah. Saat Islam datang, ia ditinggalkan.

Ketiga, dalam kitab Majmu’ul Fatawa karya Ibnu Taimiyah disebutkan bahwa suatu kali sahabat Abu Bakar masuk menemui keluarganya, dan mendapati mereka membeli beberapa tempat air dan bersiap puasa. Abu Bakar berkata: “Apa ini?” mereka menjawab: “Rajab”. Beliau lalu berkata: “Apa kalian mau menyerupakannya dengan Ramadhan?” Abu Bakar lalu memecahkan tempat-tempat air tersebut.

Sekilas beberapa riwayat tersebut menguatkan anggapan dilarangnya puasa Rajab. Namun, sebenarnya larangan tersebut didasarkan untuk menjauhkan umat muslim Arab saat itu dari tradisi Arab jahiliyah yang saat itu masih amat kental. Dan itu tidak berlaku di Indonesia yang notabene jauh dari tradisi Arab jahiliyah.

Kesimpulan ini dapat diperoleh salah satunya dari keterangan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Tabyinul Ajab bima Warada fi Syahri Rajab, sebuah kitab yang secara khusus mengulas hadis-hadis tentang keutamaan bulan Rajab. Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang menyatakan para sahabat tidak menyukai para penggiat puasa Rajab, itu diperuntukkan bagi orang yang berpuasa di bulan Rajab untuk satu atau dua hal yang mereka yakini di tradisi Arab jahiliyah.

Sebaliknya, ada keterangan riwayat yang mengindikasikan bahwa di kalangan sahabat ada tradisi puasa Rajab. Puasa Rajab dan Ramadhan sungguh masyhur di kalangan sahabat sampai-sampai mereka lupa akan puasa di bulan Sya’ban. Keterangan tersebut diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i, Abu Dawud, dan disahihkan oleh Ibu Khuzaimah:

قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah ibn Zaid berkata, aku berkata: wahai Rasulullah, aku tidak melihat Engkau berpuasa pada bulan di antara sekian bulan, seperti halnya engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Nabi bersabda: “Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia di antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut, amal-amal diangkat kepada Allah tuhan semesta alam. Maka aku ingin diangkat amalku dalam keadaan aku berpuasa”.

Bila diperhatikan secara seksama, hadis di atas sedang berbicara tentang adanya tradisi puasa Rajab di antara para sahabat. Dan kebetulan apa yang mereka lakukan tersebut membuat mereka lalai pada puasa di bulan lain, yaitu bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam.