“Lebih dari 266 hektar sawah terendam air dan mengalami gagal panen. Juga, terdapat sedikitnya 94 kerbau milik warga yang mati dalam waktu dua bulan. Padahal kerbau itu adalah tabungan mereka.”

Saya miris mendengar cerita itu dari Lian Gogali saat kami melakukan pertemuan daring beberapa hari lalu. Pendiri Insititut Mosintuwu tersebut bercerita tentang perjuangan masyarakat adat di tepian danau Poso melawan PT Poso Energy yang sedang mengerjakan proyek bendungan PLTA. Kerugian besar dirasakan langsung oleh masyarakat. Bahkan, jika proyek itu terus dilanjutkan, beberapa desa di tepian danau Poso terancam musnah terendam air.

Kisah masyarakat adat di tepi danau Poso yang ruang hidupnya terancam tenggelam mungkin adalah satu contoh kecil dari dampak keserakahan korporasi besar. Itu pun, kita tahu, kerugiannya bisa luar biasa hebat. Lalu, bagaimana jika skala itu membesar dalam lingkup global, di mana bumi dan seisinya menjadi pertaruhan dari akumulasi keserakahan manusia?

Barangkali kita bisa menilik jawabannya dalam film Before the Flood (2016). Dokumenter produksi National Geographic itu memberi gambaran cukup rigid mengenai kondisi bumi hari ini yang makin memprihatinkan. Pemanasan global, perubahan iklim, kebijakan tentang iklim, korporasi besar perusak alam, potensi bumi terendam banjir; semua dikemas dalam perjalanan dua tahun Leonardo DiCaprio menjelajahi belahan dunia untuk mencari jawaban.

Kita mungkin mengenal Leonardo DiCaprio sebagai pemain film Titanic yang populer itu. Tapi perlu diketahui, Leo juga merupakan aktivis lingkungan yang vokal sejak lama. Dalam Before the Flood, ia berperan sebagai narator sekaligus pembawa acara yang selalu tersorot kamera.

“Aku ingat kemarahanku, saat membaca kisah-kisah para penjajah dan pemukim yang memusnahkan seluruh spesies. Dalam prosesnya, mereka memusnahkan seluruh ekosistem,” kata Leo mengingat premis film The Revenant yang sedang dilakoninya. “Perbedaannya sekarang adalah kita melakukannya secara sadar. Hanya saja skalanya jauh lebih besar.”

Saat itu, Leo belum lama diangkat menjadi duta PBB untuk perubahan iklim. Tapi ia mengaku kalau sebenarnya pesimis dengan kondisi bumi hari ini.

“Cobalah bicara pada siapa pun tentang perubahan iklim. Orang-orang akan berhenti mendengarkan,“ selorohnya.

Sejak awal perjalanan dokumenter ini, Leo memang sering dibuat bergidik dengan kondisi alam dan ancamannya. Ia berangkat ke Alaska untuk melihat rumor yang mengatakan bahwa kutub utara mencair. Di sana ia ditemani oleh Dr. Enric Sala dari National Geographic dan Jake Awa, penduduk asli Pond Inlet sekaligus pemandu Arktik.

Jake Awa bercerita kalau dulu ia pernah melihat es berwarna biru yang membentang di kutub utara. Tapi sekarang es-nya cenderung menyerupai es krim: mencair lebih cepat dari sebelumnya. Jake bercerita pada Leo dan Enric dengan bahasa Inggris beraksen khas. Ia mengenakan topi hitam dan mantel dari bulu beruang kutub hasil buruannya saat masih muda.

Ketika perjalanannya berpindah ke Greenland, Leo mendapati fakta yang tak jauh berbeda. Es di sana sudah menyusut sangat cepat. Cairan esnya langsung mengarah ke laut. Di masa depan, seluruh lapisan es di Greenland terancam mencair seluruhnya akibat pemanasan global.

Permasalahan mencairnya es di dua kutub bumi sebenarnya adalah berita lama. Tapi kita barangkali baru tersentil setelah mengetahui kalau volume air laut meningkat dan berpotensi menenggelamkan kota-kota di pesisir utara pulau Jawa, termasuk Jakarta.

Leo memang tidak datang ke Jakarta untuk membuktikan peningkatan volume air laut. Tapi ia pergi ke Florida dan beberapa kepulauan Pasifik seperti Kiribati dan Palau yang berpotensi tenggelam di masa depan.

“Kita harus memikirkan solusi. Sayangnya kita punya gubernur dan kabinet yang tidak percaya itu masalah besar,” terang Philip Levine, walikota Miami saat ditemui Leo di kantornya. Ketika ditanya bagaimana bisa orang-orang cerdas pemangku kebijakan itu malah menentang sains, Philip pun menjawab dengan yakin, “Kurasa itu politik. Itu terkait lobi dan industri. Aku selalu bilang, Leo, lautan bukan Republik dan Demokrat. Lautan hanya bisa naik.”

Begitulah. Kepongahan politisi dan keserakahan pemodal adalah kawin-mawin yang sempurna untuk merusak bumi. Saat menjabat sebagai presiden, Trump adalah puncak penentang perubahan iklim yang paling sarkastik. Belum lagi para politisi di level bawahnya yang tak kalah menjamur secara jumlah.

“Mereka tahu tidak perlu menang dari debat ilmiah yang sah. Mereka cukup membagi opini publik,” kata Dr. Michaele E. Mann. Dr. Mann adalah profesor terkemuka di bidang ilmu atmosfer di Universitas Penn State. Ia salah satu peneliti perubahan iklim yang sering mendapat cemoohan dan ancaman dari para penentang perubahan iklim. Dr. Mann meyakinkan Leo kalau kampanye anti perubahan iklim yang dilakukan media, politisi, bahkan saintis telah didanai oleh perusahaan besar semacam Shell, Exxon Mobil, Koch Industries, hingga Chevron.

Kongkalikong seperti itu tak hanya terjadi di Amerika atau Eropa. Leo pun melanjutkan perjalanannya ke selatan. Di atas helikopternya, ia melihat kabut tebal di sebuah hutan hujan tropis. Hutan itu sebagian sudah gundul akibat kebakaran. Sebagian lagi berjajar rapi berhektar-hektar tanaman hijau, menggantikan pohon-pohon endemik hutan itu sendiri.

“Di Indonesia, kita melihat kebakaran yang sengaja disulut untuk membuat perkebunan kelapa sawit,” kata Farwiza Farhan dari Yayasan Haka. Ia mendampingi Leo sepanjang kunjungannya ke Kawasan Ekosistem Leuser di Sumatera. Farwiza menunjukkan pada tamunya bahwa tanaman hijau yang berjajar menggantikan pepohonan itu adalah kelapa sawit.

“Pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia telah mengambil alih sekitar 80 persen hutan kami. Perusahaan menyuap pejabat pemerintah untuk mengizinkan mereka membakar lahan,” lanjut perempuan berambut pendek itu.

Selama ini permintaan kelapa sawit di dunia masih sangat besar. Minyak kelapa sawit paling banyak digunakan di beberapa perusahaan besar untuk keperluan produk mereka, seperti Burger King, Tyon, Kraft Heinz, Nissin, hingga Pepsico yang menghasilkan Quaker dan Doritos.

Masalahnya, deforestasi masal itulah yang turut mempercepat pemanasan global. Lalu pemanasan global membuat es di kutub mencair. Ketika es di kutub terus mencair, maka volume air laut akan naik dan menenggelamkan bumi. Selalu seperti itu siklusnya.

Di akhir film, Before the Flood menunjukkan perjumpaan Leo dengan Paus Fransiskus yang terasa begitu intens. Sebelumnya, Paus Fransiskus sendiri telah menerbitkan surat ensiklik soal lingkungan. Dokumen itu menyerukan tindakan untuk menghentikan pemanasan global dan tuntuan keadilan untuk kaum miskin.

“Salah satu pemimpin agama paling penting di dunia. Dia sudah menyerukan masyarakat dunia untuk menerima ilmu modern tentang perubahan iklim. Paus tidak pernah melakukan ini sepanjang sejarah,” terang Leo.

Apa yang terjadi di Poso, Alaska, Florida, Greenland, Kiribati, Palau, hingga Sumatera merupakan dampak yang tak terbantahkan dari relasi tidak sehat antara manusia dengan alam. Selama eksploitasi terhadap alam demi energi kotor terus berlangsung tanpa memperhatikan aspek lingkungan, maka ancaman terhadap manusia adalah keniscayaan. Mungkin hari ini kita tak terdampak langsung, tapi bagaimana dengan anak cucu kita?

Ah, semoga banjir Nabi Nuh tidak terjadi dalam dua jilid.

*) Artikel ini adalah hasil kerjasama islami.co dengan Greenpeace dan Ummah for Earth