Dalam sejarah Islam, masuk Islamnya Umar bin Khattab dan Hamzah menjadi tanda di antara tanda-tanda akan kuatnya Islam. Umar dan Hamzah merupakan dua orang petinggi Quraisy yang disegani

Rasulullah SAW bersabda “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing seperti awal mula, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim)

Demikianlah, Islam dibawa Nabi Muhammad SAW ke tengah masyarakat jahiliyah yang sangat menjunjung tinggi agama nenek moyang dan fanatisme kabilah. Maka, merupakan hal niscaya bila pada awal perjalanan dakwah, Nabi SAW dihadapkan masa-masa terjal dan penuh darah.

Akan tetapi, lama kelamaan cahaya Islam semakin menyala, terlebih setelah dua orang ternama Quraisy memeluk agama keselamatan ini, mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin al-Khattab.

Keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib

Suatu waktu Abu Jahal berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW di bukit Shafa. Tanpa pikir panjang, lelaki bernama asli Amr bin Hisyam ini langsung menganiaya dan mengejek Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW hanya terdiam, tak mengucapkan sepatah kata pun, tak menggubris perlakuan Abu Jahal, dan tak juga melawan.

Melihat ketenangan lelaki di hadapannya, Abu Jahal kemudian memukul Rasulullah SAW dengan batu. Seketika kepala putra Abdullah itu bocor, darah bercucuran hingga turun ke wajahnya.

Merasa puas, Abu Jahal kemudian pergi menuju gerombolan kaum Quraisy di Ka’bah dan bergabung bersama mereka.

Rupanya, budak perempuan milik Abdullah bin Jad’an menyaksikan kejadian tersebut, saat itu ia tengah berada di kediamannya di Shafa. Sesaat kemudian, ia bertemu Hamzah bin Abdul Muthalib yang baru saja pulang berburu. Budak itu pun mengabarkan Hamzah tentang perlakuan Abu Jahal kepada keponakannya, Muhammad.

Mendengar aduan tersebut, Hamzah naik pitam, laki-laki yang dikenal paling disegani dan tegas ini segera menemui Abu Jahal.

“Hei kau lelaki lemah! Engkau berani menghina keponakanku sedangkan aku memeluk agamanya?”

Belum habis kemarahannya, Hamzah langsung memukul Abu Jahal dengan busurnya hingga ia terluka.

Pertikaian tersebut seketika menjadi sorotan. Orang-orang dari Bani Makhzum berupaya membela Abu Jahal. Sedangkan kaum Bani Hasyim berada di pihak Hamzah.

Akan tetapi keberanian Abu Jahal mulai menciut. Ia memilih mengalah. “Biarkanlah, sesungguhnya aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang buruk,” tuturnya.

Demikianlah, keberadaan Hamzah bin Abdul Muthalib membuat Islam semakin kuat dan disegani. Paman Nabi ini memutuskan beriman pada Allah dan Rasul-Nya pada bulan Zulhijah tahun ke-6 kenabian.

Kekuatan Islam setelah Umar bin Khattab memeluk ajaran Muhammad SAW

Belumlah usai kegembiraan umat Muslim atas keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib. Tiga hari setelahnya, kabar baik kembali menyeruak. Kali ini, Umar bin al-Khattab, sang singa padang pasir memutuskan untuk memeluk Islam.

Dalam ar-Rahiq al-Makhtum, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menuliskan, munculnya keimanan dalam hati Umar bin al-Khattab sejatinya berjalan berangsur-angsur.

Pertama, karena lantunan Al-Qur’an yang ia dengar langsung dari lisan Rasulullah SAW saat beliau sedang shalat, sedangkan Umar memperhatikannya diam-diam.

Kedua, peristiwa di kediaman adiknya, Fatimah binti al-Khattab yang kemudian mengantarkannya pada keimanan yang purna.

Setelah Umar masuk Islam, kebencian kaum Musyrikin Makkah kepada Rasulullah SAW semakin menjadi-jadi. Pasalnya, tokoh-tokoh pesohor Quraisy semakin berkurang dan kekuatan mereka semakin terhimpit. Sebaliknya, keberadaan Umar dalam Islam membuat agama Allah SWT ini semakin menguat di bumi Arab.

Sejak pertama kali mengucapkan syahadat, Umar tak pernah menyembunyikan keislamannya. Dalam ar-Rahiq al-Makhtum dikisahkan, setelah memeluk Islam, Umar beranjak menuju tempat tinggal pamannya, al-Ashi bin Hasyim dan mendeklarasikan keislamannya. Mendengar kabar tersebut, sang paman segera masuk ke rumahnya.

Umar kemudian mendatangi kediaman Abu Jahal.

“Selamat datang wahai Umar. Apa yang membuatmu datang kemari?” sambut Abu Jahal.

“Aku datang ke sini untuk mengabarkanmu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya Muhammad dan aku membenarkan apa yang ia bawa,” jawab Umar tanpa rasa takut sedikit pun.

Betapa kagetnya Abu Jahal mendengar pengakuan tersebut. Ia langsung masuk dan membanting pintu di hadapan Umar seraya berkata “Semoga Allah memberikan keburukan kepadamu dan ajaran yang ia (Muhammad) bawa.”

Tak cukup sampai di situ, Umar juga mendatangi Jamil bin Ma’mar al-Jumahi dan memberitakan keislamannya.

Jamil hanya berlalu dan Umar mengikutinya di belakangnya.

Dengan suara lantang, Jamil lalu menyeru ke segenap penjuru Makkah, “Umar telah murtad!!”

“Bukan, aku telah masuk Islam,” sanggah Umar.

Setelah kabar keislaman Umar diketahui masyarakat Makkah, para kafir Quraisy berupaya membunuh putra al-Khattab tersebut. Namun ia tak pernah gentar dan terus saja menampakkan keislamannya.

Pernah suatu hari, Umar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bukankah kita berada di jalan kebenaran, baik di dunia maupun akhirat?”

“Tentu saja, aku bersumpah demi Allah yang nyawaku berada di tangannya, sesungguhnya kalian berada di jalan yang benar, baik di dunia maupun akhirat,” jawab Rasulullah SAW.

“Kalau begitu mengapa kita bersembunyi? Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Kami akan keluar dari persembunyian ini,” ucap Umar.

Maka kaum Muslimin keluar dalam dua kelompok, Hamzah memimpin satu kelompok dan Umar di rombongan yang lain. Mereka beranjak menuju Masjidil Haram di siang bolong.

Saat itu kaum kafir Quraisy amat banyak jumlahnya. Mereka menatap Hamzah dan Umar yang telah bergabung dalam barisan Islam. Wajah mereka menjadi pucat, terlihat betul kesedihan dan kekesalan luar biasa yang tak pernah nampak sebelumnya.

Karena kejadian itu, Rasulullah SAW akhirnya menyebut Umar sebagai al-Faruq, sang pembeda antara yang hak dan batil.

Ibnu  Mas’ud berkata, “Kami tidak pernah bisa shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam.”

Demikianlah, cahaya Islam semakin terang benderang setelah Umar dan Hamzah memeluk Islam. Umat Muslim semakin berani menampakkan keimanannya. Mereka bahkan dengan leluasa bisa thawaf dan membuat halaqah di sekitar Baitullah.

Sebaliknya, kaum kafir Makkah terus terpojokkan, kekuatan mereka semakin melemah dan kekhawatiran akan berjayanya Islam semakin menjadi-jadi. (AN)

Baca juga tulisan lain tentang Sirah Nabawiyah di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here