Bagaimana orang menjadi radikal? Proses radikalisasi tidak berlangsung dalam sekejap loh. Dan tidak seperti banyak disangka orang, proses radikalisasi itu tidak tampak seperti “indoktrinasi” yang memaksa atau “pembodohan”. Subjek atau target bukanlah orang yang begitu saja dibodohi atau dipaksa menerima doktrin.

Setidaknya, proses radikalisasi melibatkan empat proses. (1) Pembukaan persepsi, (2) Pencarian identitas, (3) Penyelarasan bingkai, (4) Sosialisasi atau Enkulturasi.

(1) Pembukaan Persepsi. Individu yang terpapar ideologi ekstremisme tidaklah memandang dirinya “ekstrem” atau “tidak rasional”. Mereka memiliki persepsi yang berbeda. Bagaimana persepsi itu masuk dalam pikiran dan kesadaran mereka? Keterbukaan persepsi itu biasanya muncul dari krisis hidup yang dialami individu–krisis yang mengguncang keyakinan dalam diri dan lingkungannya, sehingga membuat orang reseptif terhadap persepsi yang berbeda. Krisis hidup ini bisa sangat personal, seperti kehancuran keluarga, kematian orang yang dicintai, menjadi korban kejahatan, dan sejenisnya.

Krisis hidup personal sering juga berpadu dengan krisis umum yang dialami banyak orang, seperti krisis ekonomi (pengangguran massal, melam

bungnya harga kebutuhan pokok), sosial-budaya (penghinaan identitas, pengucilan kelompok), dan politik (diskriminasi politik, penyiksaan, penindasan).

Selain dipicu oleh berbagai krisis, pembukaan persepsi juga kerap didorong oleh kencangnya serbuan ideologi dari kelompok ekstremis itu sendiri. Mereka memanfaatkan banyak saluran, mulai dari jalur keluarga, pertemanan, kegiatan sosial, acara keagamaan hingga jaringan Internet.

Mereka mengeksploitasi berbagai krisis untuk membangkitkan sentimen moral dan mengarahkan pada pembukaan persepsi yang berbeda, sehingga target merasa ideologi ekstrem yang mereka anut sebagai solusi yang masuk akal dan dibutuhkan secara mendesak.

(2) Pencarian Identitas. Setelah keyakinan, kesadaran dan persepsi yang selama ini dipegang terguncang, dan individu mulai terbuka untuk mengisi dengan persepsi yang baru, maka berlangsunglah proses pencarian identitas. Untuk memuaskan pikiran, perasaan dan kesadaran yang sedang kosong, individu mulai mencari arti menjadi bagian dari kumpulan yang lebih besar (agama, ras, gerakan, etnis, dst). Individu mulai mencari dalil-dalil keyaki

nan, bukti-bukti keunggulan kelompok, tokoh-tokoh panutan dalam gerakan maupun keyakinan-keyakinan tentang keistimewaan identitas (agama, ras, etnis, gerakan, dst.).

Pencarian identitas ini berlangsung dalam dua cara. Pertama, dengan belajar secara independen, yaitu mencari informasi di Internet, membaca buku, atau mendapat informasi dari teman dan keluarga. Proses ini ibaratnya belanja di pasar gagasan secara bebas.

Kedua, melakukan pencarian melalui pemandu yang dianggap otoritatif. Ini khususnya terjadi sebagai tindak lanjut dari proses penjangkauan oleh kelompok ekstremis itu sendiri. Pada proses ini, pemandu menyediakan jenis-jenis informasi yang cocok dan mengarahkan target ke arah kesimpulan bahwa ideologi gerakan/identitas ini lah yang paling masuk akal dan paling mendesak dibutuhkan.

(3) Penyelarasan Bingkai. Pada tahap ini, individu menyelaraskan atau mencocokkan bingkai persepsinya dengan keseluruhan krisis hidup yang ia alami dan keseluruhan masalah hidup eksternal yang diamatinya; dari yang mikro (personal) hingga yang makro (global).

Individu melihat seluruh problema hidupnya, masalah sosial, krisis politik, kebangkrutan ekonomi dan masalah lainnya berakar pada sumber masalah yang sama, yaitu pada ditinggalkannya agama, misalnya, atau dilemahkannya kelompok ras dan etnis tertentu, dan sejenisnya. Pada tahap ini, individu sangat teguh dan tanpa ragu memeluk identitas yang dipilihnya dan siap mengambil risiko.

(4) Sosialisasi atau Enkulturasi. Pada tahap ini, individu “resmi” bergabung dalam kelompok ekstremisme kekerasan tertentu. Ia mulai dikenalkan, mengadopsi dan menginternaliasi keseluruhan cara hidup dalam budaya organisasi ekstremisme kekerasan tertentu.

Individu terlibat dalam berbagai aktivitas kelompok, melalui dari interaksi interpersonal, kegiatan sosial, protes dan aktivitas pergerakan lainnya. Individu juga mulai mendapat peran dalam berbagai agenda kelompok. Pendeknya, individu menjadi murid yang aktif untuk menjadi bagian sosial dan hidup dalam budaya kelompok ekstrem.

Referensi

  • Quintan Wiktorowicz, “Joining the Cause: Al-Muhajiroun and Radical Islam,” Paper pre- sented at “The Roots of Islamic Radicalism” Conference, Yale University, May 8–9, 2004.
  • Quintan Wiktorowicz, Radical Islam Rising: Muslim Extremism in the West (2005).
  • Nava Nuraniyah, “Not just Brainwashed: Understanding the Radicalization of Indonesian Female Supporters of the Islamic State, Terrorism and Political Violence” (2018).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here