Pernahkah kita mendengar ungkapan ini; bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok. Usut punya usut, ungkapan tersebut merupakan terjemahan dari sebuah riwayat yang konon kabarnya merupakan hadis Nabi Saw. Berikut redaksinya:

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

i’mal li dunyāka kaannaka ta’īsyu abadan, wa’mal li ākhiratika kaannaka tamūtu ghodan

“Beramallah untuk duniamu seolah-olah engkau hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati esok.”

Telaah Sanad: Rawi yang Lemah dan Riwayat bi al-Ma’na yang Keliru

Usut punya usut, para ulama menyimpulkan kalau ungkapan tersebut sebenarnya bukan hadis Nabi Saw. Syaikh Abdullah Shiddiq al-Ghumari menganalisis secara lengkap teks tersebut dalam sebuah risalah berjudul Subul al-Hudā fi Ibṭōl Hadīts I’mal li Dunyāka.

Menurutnya ungkapan “bekerjalah untuk duniamu…” merupakan pelafalan ulang (parafrase) dari riwayat hadis yang bersumber diantaranya dari Sunan al-Baihaqi dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash,

اعمَلْ عمَلَ امرئٍ يَظُنُّ أن لن يَموتَ أبَدًا، واحْذَرْ حَذَرَ امْرِئٍ يَخشَى أن يَموتَ غَدًا

Beramallah dengan amalan orang yang mengira dirinya tidak akan pernah mati. Dan berhati-hatilah dengan kehatian-hatian orang yang khawatir ia akan mati esok hari.

Hadis serupa juga dapat ditemukan dalam kitab Musnad al-Firdaus yang dikompilasi oleh Ad-Dailami. Namun, hadis ini dinilai lemah/daif di antaranya oleh as-Suyuti dalam kitab al-Jami’ al-Saghir. Menurut al-Munawi, ketika mensyarahi kitab al-Jami’ as-Saghir tersebut, menyebutkan kalau sebab lemahnya hadis riwayat al-Baihaqi tersebut karena ada perawi-perawi yang majhul dalam sanad hadis tersebut.

Baca juga: Islam dan Fungsi Keadilan

Syaikh ‘Abdullah al-Ghumari dalam Subul al-Huda’, menjelaskan bahwa perawi yang disebut sebagai majhul (tidak dikenal) tersebut dapat ditemukan dalam riwayat yang disebut dalam Musnad al-Harits. Dalam sanad riwayat tersebut, ada seorang perawi dari tingkatan tabi’u at-tabi’in bernama ‘Abdullah bin al-‘Ayzar. Ia menyebutkan kalau ia bertemu seorang syekh tua dari kalangan Arab badui (al-A’rab). ‘Abdullah bin al-‘Ayzār kemudian mengatakan,

 أما لقيت أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال (الشيخ): نعم فقلت: من ؟ قال: عبد الله بن عمرو بن العاص. فقلت له: فما سمعته يقول؟قال: سمعته يقول: احرز لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

“Abdullah bin ‘Ayzar mengatakan: “apakah engkau pernah bertemu seorang dari sahabat Rasulullah Saw. ?” (Syekh) berkata: “ya, pernah.” Aku (bin ‘Ayzar) berkata: “siapa?” (Syekh) berkata: “Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash” Aku berkata kepadanya: “Apa yang engkau dengar darinya.” (Syekh) berkata: “raihlah duniamu (dengan sikap) seolah-olah engkau hidup terus selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah engkau mati esok hari.”

Jadi, asal sosok yang disebut majhul menurut al-Munawi tersebut, dapat ditemukan dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Ayzar yang berdialog dengan seorang syekh yang menceritakan riwayat yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ashr. Artinya, ‘Abdullah bin ‘Ayzar tidak mendengar langsung dari ‘Abdullah bin ‘Amr.

Pemahaman Hadis

Menurut al-Ghumari, sebenarnya, riwayat “i’mal ‘amal imri’in…dst.” tersebut memiliki redaksi yang lebih jelas dan konteksnya lebih menjelaskan apa maksud hadis tersebut. Hadis tersebut disebutkan dalam riwayat al-Baihaqi namun dari jalur Ibn ‘Ajlan, mawla (budak yang dimerdekakan) Umar bin ‘Abdul al-‘Aziz, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, dari Rasulullah Saw.

إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق ولا تبغض إلى نفسك عبادة ربك فإن المنبّت لا سفرا قطع ولا ظهرا أبقى فاعمل عمل اكرئء يظن أن لن يموت أبدا واحذر حذر امرىء يخشى أن يموت غدا

Sesungguhnya agama ini sangat kuat. Maka berkecimpunglah di dalamnya dengan perlahan-lahan, dan jangan paksa jiwa untuk terlalu keras menyembah Tuhanmu. Karena sesungguhnya orang kelelahan ini, tidak ada perjalanan yang bisa ia lanjutkan dan tidak orang yang bisa ia jadikan tempat berdiam. Maka beramallah dengan amalan orang yang hampir yakin kalau dia tidak akan mati selamanya, dan waspadalah dengan kewaspadaan orang yang takut ia (pasti) akan mati esok hari.

Baca juga: Kaum Beriman, Bernyanyilah!

Redaksi i’mal li dunyaaka (bekerjalah untuk duniamu) yang akhirnya masyhur di mana-mana tersebut mengarahkan kepada pemahaman yang tidak sepenuhnya tepat. Di antara pemahaman yang muncul adalah riwayat tersebut jadi dalil seseorang untuk bekerja sekerasnya di dunia seolah-olah ia hidup selamanya, dan beribadah sekuat mungkin di saat yang sama seolah-olah ia akan mati esok hari (h. 9).

Al-Ghumari juga mengkritik pandangan al-Munawi yang mensyarahi hadis “bekerjalah untuk duniamu…” tersebut dengan penjelasan kalau riwayat tersebut maknanya mendahulukan amalan akhirat dibandingkan dengan amalan dunia. Justru, kedua redaksi tersebut sama-sama mengarah kepada pemahaman agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadah dan berhati-hati untuk tidak jatuh kepada maksiat. (AN)

Wallahu A’lam.