Konten Pemuda Tersesat yang disajikan Habib Husein Ja’far al-Haddar dan MLI mengajarkan kepada kita cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak-anak seputar agama.

Selepas mengaji Al-Qur’an setelah Maghrib sebagaimana biasanya, suatu hari saya berbincang sebentar dengan adik saya yang duduk di bangku kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (SD). Awalnya ia penasaran pada makna di balik permainan Rambatan dan Delikan yang sering ia mainkan bersama teman-temanya. Setelah menjawab rasa penasaranya dengan jawaban lewat metode utak atik matuk dan memberikan beberapa contoh agar penjelasan saya diterima, ia kembali melemparkan pertanyaan yang mengejutkan saya, “ Mas, Setan kan diciptakan dari api, tapi kok saat Mama membakar sampah aku nggak lihat?”. Di kesempatan lain, ia juga bertanya, “Mas, kalau Allah dan iblis main panco, siapa yang menang?” Nah, lho.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mengingatkan saya pada pertanyaan-pertanyaan di konten Kultum Pemuda Tersesat di channel Youtube MLI dan Jeda Nulis. Di konten itu, Habib Husein Ja’far Hadar yang dijuluki The Protector Helm Level 3 diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para pemuda tersesat –panggilan jamaah untuk kultum ini- yang nyeleneh, mind blowing dan kadang menjebak. Saat adik saya bertanya seperti itu, saya lalu kepikiran, wah masak ya adik saya sudah “tersesat” sejak kecil? Haha.

Tapi alih-alih khawatir, saya justru terkagum-kagum dengan cara dia mengelaborasikan antara pengetahuan agama yang ia dapat dan pengamatanya terhadap peristiwa sehari-hari. Sejak kecil, adik saya dan anak-anak pada umumnya dalam belajar agama memang biasanya diajarkan perkara penciptaan makhluk. Bahwa manusia diciptakan dari tanah, jin dari api, sedangkan malaikat dari cahaya. Adik saya merekam dengan baik pengetahuan itu –walau mungkin ia kurang tepat mengira setan sama dengan jin yang diciptakan dari api-, lalu menggunakanya untuk melihat fenomena api yang digunakan ibunya untuk membakar sampah. Sayangnya ia harus kecewa, karena “setan” yang ia yakini berasal dari api tidak dilihatnya. Kejanggalanya itu yang membuatnya melemparkan pertanyaan yang kurang lazim dalam pelajaran agama.

Atau ketika adik saya mempertanyakan siapa yang lebih menang antara Allah dan iblis bila bermain panco. Sehari-hari, ia biasa bermain panco dengan teman-temannya. Anak yang paling jago dalam panco, biasanya mendapat ‘kedudukan terhormat’ dalam pergaulan anak-anak. Di sisi lain, dalam pelajaran agama, adik saya diajari bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dan iblis merupakan makhluk yang mampu membuat Adam dan Hawa diusir dari Surga. Kemudian adik saya mengelaborasikan pengetahuan itu pada pengalamanya sehari-hari : main panco.

Kemampuan anak kecil menangkap informasi dan mengolahnya dalam pikiran memang sering membuat kita terkejut dan agak gelagapan menanggapinya. Namun pertanyaan kritis dan rasa penasaran yang muncul dari anak-anak ini harus ditanggapi dengan jawaban yang baik, dengan cara yang baik pula, karena kemungkinan jawaban itu akan bertahan lama dalam pikiranya dan cara kita menanggapi akan direkam pula mereka.

Presiden Jancukers Sudjiwo Tejo di salah satu episode ILC pernah mengatakan, “Aku bisa menjawab seenaknya pertanyaan yang diajukan orang dewasa, karena jawabanya akan segera dilupakan. Tapi aku akan berpikir keras untuk pertanyaan anak kecil, karena mungkin jawaban itu akan dipegangnya sampai mati.”

Apalagi kalau pertanyaanya menyangkut agama. Jawaban yang didapatkan anak-anak ini mungkin akan berpengaruh pada cara pandangnya terhadap agama saat dewasa kelak, tergantung  bagaimana orang di sekitarnya memberi kesan soal agama pada mereka seperti apa. Apakah nantinya anak-anak akan memandang agama hanya mentok pada persoalan pengotak-kotakan surga dan neraka, atau agama akan mereka jadikan solusi dalam persoalan kemanusiaan dan sosial, atau gambaran yang bagaimana, kurang lebihnya tergantung pada jawaban dan kesan yang mereka terima dari orang sekitarnya.

Baca juga: Pertanyaan Kubur untuk Semua Manusia atau untuk Muslim Saja?

Vitalnya jawaban yang kita berikan pada pertanyaan anak-anak, mengharuskan kita untuk hati-hati dan perlu belajar menjadi The Protector layaknya Habib Ja’far pada para pemuda tersesat. Dari cara Habib Ja’far menjawab pertanyaan para pemuda tersesat yang tidak lazim dalam diskursus pengetahuan agama, kita bisa belajar beberapa hal kunci untuk menjawab pertanyaan anak-anak seputar agama.

  1. Modal pengetahuan agama yang mendalam

Dalam menjawab pertanyaan yang nyeleneh, Habib Ja’far tentu sebelumnya sudah memiliki penguasaan terhadap ilmu agama dengan mendalam. Beliau tercatat pernah mondok di Pesantren Bangil, Jawa Timur, alumni S1 filsafat di UIN Syarif Hidayatullah, dan sekarang menempuh program master Tafsir Hadits di kampus yang sama. Dengan bekal pengetahuan agama tersebut, ia tidak asal menjawab pertanyaan para pemuda tersesat, tapi berdasar dengan Al-Qur’an, Hadits, pendapat ulama’ dan tetap berpegang pada ilmu fiqih.

Misalnya dalam salah satu episode Pemuda Tersesat di channel Jeda Nulis, Habib Ja’far ditanya bagaimana hukumnya meminum khamar tidak sampai habis, padahal ada ayat yang menyebutkan berbuat mubadzir itu temanya setan. Habib Ja’far tidak saja menjelaskan kesalahan pemaknaan ayat tersebut oleh penanya, tapi juga memberikan pengetahuan baru dari salah satu hadis, bahwa hal yang dalam kadar banyaknya haram, dalam kadar sedikit pun tetap haram.

Untuk membahas pengetahuan agama, apalagi untuk menjawab pertanyaan anak-anak soal agama yang krusial itu, memang diperlukan pengetahuan agama yang mendalam. Hanya karena anak yang bertanya adalah saudara sendiri, tidak lantas membolehkan seseorang menjawab soal agama seenaknya. Pengetahuan agama memiliki standar sendiri dan menentukan siapa saja yang punya otoritas untuk menjawab pertanyaan agama.

Jika pengetahuan agama kita belum mencukupi untuk menjawab pertanyaan adik-adik, paling tidak kita mau berteman dengan orang orang yang cukup menguasai ilmu agama, seperti anak-anak lulusan pesantren atau mahasiswa kampus Islam, sebagai narasumber bagi pertanyaan yang tidak bisa kita jawab. Pentingnya memperbanyak relasi bukan dalam masalah duniawi saja, tapi masalah ukhrowi juga.

  1. Kreatif menerjemahkan ajaran agama dalam bahasa anak milenial

Habib ja’far pernah ditanya, kalau dalam timbangan di akhirat amal dosa lebih berat, apa tidak ada calo masuk surga? Kemudian beliau menjawab, “Ada dong. Nabi Muhammad bisa kasih syafaat agar masuk surga. Kuncinya banyak bersalawat & teladani akhlaknya. Tapi jangan diniatkan, itu namanya mencurangi”. Pertanyaan yang kelihatanya tidak lazim itu, dapat dijawab dengan baik olehnya sesuai dengan ajaran agama. Kalau kita merujuk pada ilmu agama secara tekstual, tentu akan kesulitan kalau mencari teks ajaran agama tentang adanya calo surga. Tapi Habib Ja’far mampu menangkap esensi dari calo surga yang digambarkan penanya, untuk kemudian mengaitkanya dengan ajaran agama, bahwa Nabi Muhammad bisa memberikan syafaat pada umatnya. Menurut saya, ini jawaban yang brilian.

Baca juga: Orang Islam Menjawab Pertanyaan Pemuda Katolik tentang Islam Indonesia

Nah, dalam menghadapi pertanyaan anak-anak, kita juga sebaiknya menjawabnya dengan penjelasan yang dekat dan mudah diterima mereka. Jangan memberikan mereka mentah-mentah ajaran agama, tapi diolah lebih dulu, agar lebih mudah bagi mereka untuk mengunyahnya. Bukan apa-apa, kalau mereka terbiasa dengan penjelasan yang berat, takutnya mereka malah akan perlahan menjauh dari pembelajaran agama.

Gus Baha’ pernah dawuh, “Obsesi terbesar saya saat ngaji, saya ingin orang mukmin itu bahagia. Dengan mereka bahagia saat ngaji, mereka tidak akan neko-neko mencari kesenangan lewat maksiat.”

  1. Bercanda dan Tidak Menghakimi

Dalam menjawab pertanyaan para pemuda tersesat, sesekali Habib Ja’far berusaha menjawabnya dengan disisipi guyonan. Walau kebanyakan guyonanya kurang lucu, sampai diberi istilah jokebib oleh Muslim karena tidak lucunya, tapi usahanya patut dihargai. Karena penting untuk memberi kesan rileks dalam pembawaan pengajaran agama pada umat, apalagi pada anak-anak yang punya pembawaan riang. Jangan sampai doktrin agama, merampas keriangan itu dan malah mengisinya dengan doktrin kebencian pada liyan.

Selain itu, penting juga untuk tidak menjustifikasi anak-anak yang bertanya, senakal apapun pertanyaanya. Jangan sampai karena saking jengkelnya dengan mereka, kita menghentikan kekritisan mereka dengan misalnya mengatakan pertanyaan itu tidak layak ditanyakan, karena seorang mukmin tidak boleh membantah apapun perintah agama.

Memang benar, kita harus mentaati perintah agama, tapi kita kan perlu juga memberinya alasan yang logis, agar mereka juga bisa menghayati nilai-nilai agama dalam melaksanakan ajaran dan ritual agama.

Layaknya Habib Ja’far yang menjadi “The Protector” bagi agama dari kenakalan pertanyaan para pemuda tersesat, orang-orang dewasa juga perlu belajar menjadi “The Protector” bagi agama, dengan memberi kesan yang baik pada anak-anak yang belajar agama.

Bila anak-anak diajari dengan pendidikan agama yang benar, riang dan toleran, saat dewasa nanti mereka akan punya kenangan indah dalam belajar agama. Sehingga diharapkan nantinya saat dewasa, mereka beragama dengan nyaman dan membuat nyaman orang lain.

Kalau kita bisa berbuat seperti itu, hitung-hitung kan kita sedang investasi pahala jangka panjang di bank yang dijaga Malaikat Rokib, untuk melebur celengan dosa kita di catatan Malaikat Atid . Tidak masalah sekarang jadi jamaah Pemuda Tersesat-nya Habib Ja’far, tapi mari kita naik level dengan belajar menjadi The Protector untuk adik-adik kita. (AN)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here