Seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Darda’ mengatakan:

تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامَ

“Belajarlah untuk diam sebagaimana kalian belajar untuk berbicara.” (Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitabnya Makarim al-Akhlaq)

Sebagaimana kita perlu belajar untuk berbicara kita juga perlu belajar untuk diam dan tidak asal komentar. 

Yang dimaksud dengan belajar berbicara adalah belajar berbicara yang baik dan bijak. 

Berbicara yang bijak adalah membicarakan hal yang tepat, di waktu yang tepat dan dengan cara penyampaian yang tepat.

🔅Mewujudkan tiga hal ini bukanlah hal yang mudah, perlu latihan, perlu menerima teguran dan berbenah serta perlu sensitif untuk menimbang apakah suatu kalimat itu sudah memenuhi tiga kriteria di atas ataukah tidak. 

Yang dimaksud belajar diam adalah diam yang bijak karena tidak semua diam itu emas.

Diam pada saat kondisi mengharuskan untuk berbicara adalah tindakan yang tidak bijak. 

Diam dan tidak berbicara bukan dalam bidang yang dikuasai, 

Diam saat berbicara hanya akan menimbulkan keributan yang tidak perlu terjadi, 

Diam manakala berbicara itu dampak negatifnya lebih besar dibandingkan manfaatnya adalah contoh diam yang bijak. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

sumber: https://nasehat.net/belajar-diam-dan-belajar-berbicara/