Ketika kabar perceraian Larissa Chou dan Alvin Faiz beredar luas, bagi sebagian orang mungkin sulit untuk tidak nyinyir, termasuk saya sendiri. Glorifikasi “Pernikahan Usia Muda” yang diselipkan lewat pernikahan keduanya kemarin sedikit banyak bertentangan dengan prinsip yang selama ini saya pegang. Terlebih, wacana pernikahan di usia muda sedang populer di kalangan anak muda.

Bahkan, jika ada mengulik akun media sosial milik anda, maka wacana tersebut telah menjelma dalam berbagai pelatihan, workshop, hingga acara khusus “temu jodoh”. Akhirnya, wacana tersebut tidak lagi sekedar wacana, ia telah menjelma sebuah bisnis yang cukup besar, bahkan disambut meriah di kalangan anak muda.

Waktu pernikahan Alvin-Larissa sedang menjadi perbincangan publik, karena banyak yang menganggap sebagai “impian” bagi pasangan muda yang ingin menikah. Bahkan, salah satu organisasi mahasiswa kampus terkemuka di Banjarmasin sempat mendatangkan keduanya untuk membicarakan (baca: mengampanyekan) pernikahan mereka. “Jika pasangan tersebut baru saja menikah tentu perjalanan membangun keluarga masihlah panjang, kok malah dijadikan panutan” fikir saya.

Dus, ketika mendengar kabar perceraian mereka, saya terkejut. Terlebih ketika mengikuti pemberitaan yang ditampilkan oleh media, saya malah tambah bingung mendengar alasan mereka harus mengakhiri pernikahan yang dulu dielu-elukan. “Ketidakcocokan” menjadi narasi utama yang memicu keretakan keluarga muda tersebut.

Namun, segalanya menjadi berubah ketika sebuah postingan dari Larissa beredar luas di media sosial. Di mana dia menyebutkan beberapa alasan mendasari keputusannya mengugat cerai putra salah satu ulama terkenal tersebut. Dari sekian banyak alasan, beberapa alasan cukup mengejutkan, bahkan mencengangkan, karena dianggap bertolakbelakang dengan wacana pernikahan muda, yang dulu mereka kampanyekan.

Di tengah kisruh rumah tangga anak muda tersebut, persoalan yang perlu disoroti adalah kenyinyiran publik, termasuk kita sendiri. Sebab, jika mengulik dinamika Larissa-Alvin sejak mereka memutuskan untuk menikah, maka kita perlu melihat bahwa pernikahan mereka tidak seperti pada umumnya, di mana Larissa-Alvin tidak saja menjadi ikon pernikahan usia muda, namun di saat bersamaan ia adalah bagian dari persoalan pergeseran wajah Islam di tengah kemajuan teknologi.

***

Mungkin sejak fenomena Televangelisme Islam mulai marak di Indonesia, kehidupan pribadi otoritas agama makin sering muncul di televisi. Ditengarai fenomena tersebut dimulai sejak popularitas sosok Abdullah Gymnastiar atau akrab dengan AA Gym di televisi, yang ditengarai sebagai awal dari fenomena tersebut.

Televangelisme Islam sebenarnya telah menjadi bagian yang akrab dalam kehidupan kita minimal sejak dibukanya akses televisi swasta. Kita mengenal fenomena tersebut dengan semacam dakwah (misi keagamaan) melalui media saluran televisi, di mana merupakan vektor baru untuk transmisi keilmuan Islam.

Walaupun perkembangan distribusi kitab dan buku-buku keislaman sangat pesat, namun transmisi keilmuan Islam melalui tradisi komunikasi lisan tetap penting bagi komunitas Muslim. Terlebih, teknologi televisi menjadikan masyarakat Indonesia sekarang sering mengakses khotbah atau ceramah berbasis televisi, bahkan sekarang ada media sosial, yang dibawakan oleh da’i populer seperti Aa Gym dan Yusuf Mansur.

Perubahan dalam transmisi atau televangelisme Islam tidak saja membawa dampak pada wajah keilmuan Islam, namun terdapat efek domino yang mulai bermunculan. Di antara efek yang bisa kita lihat sekarang ini adalah kehidupan otoritas agama bak selebritas. Tidak saja kekayaan yang mulai mendekati, tapi kehidupan pribadi mereka juga menjadi santapan publik.

Dalam dunia selebritas adalah sebuah kewajaran jika kehidupan pribadi mereka menjadi konsumsi publik. Chris Rojek, sosiolog asal Inggris, menjelaskan fenomena tersebut bagian dari perkembangan teknologi. Dia menambahkan kehadiran selebritas turut merangsang sarana komunikasi baru seperti budaya media cetak yang masif, kamera, urbanisasi dalam skala besar, dan komersialisasi waktu luang yang berlangsung di bawah revolusi industri.

Mulai sejak itu, media mulai perang “rating” dengan cara menampilkan kehidupan orang-orang terkenal. Hal ini disebabkan dalam tayangan terkait pribadi selebritas terdapat bangunan narasi “intimitas” atau kedekatan semu dengan masyarakat. Melalui berbagai bentuk representasi yang diperantarai oleh media, khalayak memperoleh akses ke dalam kehidupan tokoh publik.

Akhirnya, masyarakat tidak saja bisa “mengenal” para selebritas, tapi juga bisa membeli, mengonsumsi, dan memiliki sebagian dari diri selebritas. Masyarakat mengonsumsi apa yang disajikan oleh selebritas, mulai dari kemampuannya melakukan sesuatu hingga membeli barang yang berkaitan dengan selebritas tersebut.

Beberapa nama ulama di Indonesia “dianggap” berkelindan dengan fenomena televangelisme Islam. Almarhum Arifin Ilham adalah salah satu diantaranya. Arkian, kehidupan pribadi sosok ulama yang dikenal masyarakat lewat gerakan zikirnya tersebut menjadi konsumsi publik sekarang.

***

Kembali dalam kasus Larissa-Alvin. Nah, persoalan Larissa-Alvin memiliki irisan dalam persoalan ini. Almarhum Arifin Ilham yang notabene ayah kandung dari Alvin adalah salah satu pendakwah yang berkelindan dengan Televangelisme Islam. Sehingga, wajar jika kemudian Alvin mendapatkan juga sorotan sebagai bagian dari ekspose atas kehidupan pribadi sang ulama.

Apapun yang terjadi dalam keluarga almarhum Arifin Ilham, termasuk anak-anaknya, menjadi konsumsi publik karena posisi beliau sebagai ulama cum selebritas. Wajar jika kemudian perceraian Larissa-Alvin mendapat atensi publik, karena posisi Alvin sebagai anak dari Arifin Ilham. Sebab, hal yang sama juga terjadi ketika mereka menikah dulu. Saat itu glorifikasi pernikahan usia muda menjadi narasi populer di masyarakat.

Dus, perceraian Larissa-Alvin memiliki variabel rumit bak benang yang kusut. Kritik atas pernikahan usia dini yang sebelumnya mereka glorifikasi tidak serta merta menjadi senjata untuk menyerang balik. Sebab, persoalan kegagalan pernikahan harus dilihat dalam persfektif yang lebih dalam dan luas.

Kegagalan pernikahan mereka mungkin bisa saja terkait dengan kritik yang sebelumnya disampaikan waktu menikah dulu, seperti ketidaksiapan dan kematangan secara psikologis. Ketika terjadi perceraian, maka arah dan fokus kritik tetap pada variabel yang bisa saja terjadi kepada siapa saja, bukan pada pribadi. Dalam bahasa gamblangnya, kita tidak boleh nyinyir hanya bisa mengkritik dengan adil.

Sebagaimana dijelaskan di atas, baik Alvin dan Larissa adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan selebritas. Oleh sebab itu, fokus berita dari media biasanya lebih banyak menyoroti pribadi. Wajar jika postingan Larissa di media sosial dijadikan bahan bakar untuk menyerang pihak Alvin, begitu juga sebaliknya.

Sebaiknya, perceraian ini seharusnya bisa diredam sebagai konsumsi terbatas antar keluarga saja. Sebab, kerahasiaan atas penyebab perceraian dan kehidupan pribadi keduanya, seharusnya bisa menjadi bahan renungan dan pertimbangan masyarakat, mereka berdua, dan keluarga untuk menghentikan permasalahan ini menjadi konsumsi publik.

Namun, yang perlu dan seharusnya diperhatikan adalah Larissa-Alvin mendapatkan proses yang adil, terlebih Larissa sebagai perempuan yang sering dirugikan dalam proses perceraian. Oleh sebab itu, kritik atas glorifikasi pernikahan usia muda yang seharusnya diarahkan kepada mereka, bisa diajukan secara proporsional.

Arkian, kritik kita harus diarahkan pada proses glorifikasi tersebut, bukan kepada sosok atau persoalan pribadi, sebagaimana jamak terjadi di media gosip.