Seorang teman bercerita, tekanan kerjaan dan lingkungan membuat kepalanya serasa pecah. Efeknya, ia sulit tidur dan sering berantem dengan pasangannya.  Belum lagi, kini ia merasa tidak bergairah melakukan pekerjaan itu, padahal dulu ia tidak begitu. Ia begitu bersemangat.

Di kantor, ia memang baru dipindah-posisikan di bagian yang bukan kapasitasnya. Ia ahli di editing naskah tapi harus pindah ke bagian marketing. Alasan kantor: tim sudah gemuk, ia mungkin berguna di divisi lain.

“Aku bisa saja mempelajari posisi ini, tapi kan butuh waktu. Biasanya kerja lebih sunyi, tim lebih sedikit, saat ini pusing sekali. Riuh banget WA, notifikasi, target macam-macamlah pokoknya,” tuturnya. “Apakah gua kena mental health apa sekadar burn out saja?”

Saya lantas bertanya balik, memangnya sudah begitu parahkah? Ia lalu memberi tahu, ia ingin resign dan lari saja dari dunia ini. Terkadang, ia sempat berpikir untuk menutup segala akses komunikasi terhadnya. Kabur entah ke mana. Namun, ia punya kontrak yang harus dihormati.

Saya sedikit terhenyak. Kawan saya ini kelihatan baik-baik saja—paling tidak di media sosialnya ia masih cerewet seperti biasa, kerap posting vakansi ke tempat-tempat asyik dan makan ragam makanan yang tampak menggoda.

Lantas saya bercerita kepadanya, apa yang ia alami bukanlah mental health. Mental health atau Kesehatan mental  tidak ada yang perlu ditakuti dari istilah ini, justru yang kita harus adalah, mental health adalah bagian dari kita yang dekat. Memahami ini akan membuat kita lebih mengerti diri kita sendiri dan segala hal yang membuat kita berarti.

Mental Health ini mencakupi segala hal tentang diri kita, pemahaman akan lingkungan hingga pengalaman dari seseorang yang memengaruhi hidupnya. Ini sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Untuk itu, kesehatan mental dan kesehatan fisik begitu krusial untuk sama-sama dijaga, begitu penting untuk terus menerus dipahami dan diperkuat.

Jika merunut  pada konsepsi World Health Organization (WHO) mental health ini bahkan merujuk kondisi kesejahteraan individu dan ia mampu mengatur segala emosi, stress dan segala hal yang mungkin akan berpengaruh pada dirinya dalam kehidupan yang normal. Hingga akhirnya ia jadi produktif, menghasilkan sesuatu (kepuasan) bagi dirinya dan berefek a lingkungan sosialnya.

Dalam islam ada konsep yang cukup dekat pemakan itu. Yakni konsep memahami diri kita dengan lebih dekat. Konsep ini bahkan diajarkan oleh Rasulullah sendiri Rasulullah SAW bersabda: من عرف نفسه، فقد عرف ربّه “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu,” artinya: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.

Nah, kesepahaman akan diri sendiri ini sebenarnya bisa jadi titik tolak untuk lebih memahami mental health. Setiap orang, anda tahu, punya titik lemah dan kekuatan masing-masing. Jika ia mengetahui dirinya dengan begitu matang, maka di sana ia berpotensi untuk menemukan cahaya Tuhan dalam dirinya. Cahaya yang termanifestasi dalam pemaknaan yang mendalam terhadap diri sendiri. Hingga ia mampu mengenal dengan sangat baik dirinya.

Lain halnya ketika menyebut istilah ganggual mental (mental illness) dan saya rasa kawan saya mengalami ini.

Dalam pekerjaan, ia mengalami burn out dan merasa segalanya berubah dengan begitu cepat, membuat dirinya lunglai tidak berdaya. Hingga akhirnya kemasan timbul dan overthingking (berpikir terlalu berlebihan hingga membuat cemas dan sakit) dan ingin secepat-cepatnya menjauh dari realitas yang menghantam dirinya. Tubuhnya mungkin tampak sehat, tapi percayalah jauh di dalam dirinya terasa hampa dan mungkin retak.

“Apakah aku tidak memahami diriku sendiri?” tanya kawanku.

Sejujurnya, pertanyaan ini membuat saya kebingungan. Karena jawaban itu justru ada pada dirinya sendiri.

Yang bisa saya katakan kepadanya, agar ia tidak menahan dengan berlebihan (represi) perasaannya saat ini dan mungkin ia bisa cerita ke manajer maupun Human Resource di kantor tentang kondis saat ini. Mungkin ia bisa bicara tentang bagaimana kecemasan yang melanda dirinya dan tekanan pekerjaan yang membuat dirinya tidak bergairah lagi.

“Kalau begitu, apa aku kena mental illness?” tanya dia sekali lagi.

Saya balik bertanya sekali lagi, apakah ini sudah benar-benar menganggu hidupnya? Apakah ia mulai berpikir untuk ‘menyakiti diri’ sendiri? Perubahan drastis dalam hidup; pola makan, hidup dll?

Ia mengangguk.

Maka saya meminta untuk segera menghubungi psikolog, dari sana mungkin ia akan tahu, sejauh apa mental illness ini menggangu dirinya (mental health) dan berpotensi merusak dirinya sendiri.

Hal ini penting untuk dilakukan mengingat fungsi psikolog bukan sekadar sebagai teman bicara semata. Berbicara dengan psikolog mungkin akan membantu dirimu menemukan solusi atas persoalanmu hari ini. Bahkan tidak mungkin, ia bisa memberikan alternatif solusi yang lebih tepat berdasarkan disiplin ilmu yang telah ia pelajari bertahun-tahun. Bisa jadi ia akan merujuk ke psikater apabila kondisinya mengharuskan.

Tidak perlu takut ke psikolog maupun psikiater jika kondisi dirimu sudah separah itu. Kalau toh tidak, penting untuk bertemu dan bicara dengan sahabat/pasangan yang dipercaya. Mungkin sahabatmu itu tidak serta merta memberi solusi jitu atas pelbagai masalah, tapi paing tidak beban yang menggelayut di pundakmu akan sedikit berkurang.

Mental health perlu dipelajari dan dipahami biar tidak terjebak pada kondisi mental illness yang justru membuat kita kehilangan potensi terbaik kita sebagai manusia.

 

*Artikel ini hasil kerjasama Islami.co dan Celengan Pemuda Tersesat. Anda juga bisa klik di Kitabisa untuk tahu aktivitas dan ikut serta menjadi bagi gerakan kampanye ini