Ketika bom bunuh diri di Makassar meletus dan terjadi aksi teror di Markas Besar Polri, Kramat Jati, media sosial terseret menjadi salah satu biang kerok kejadian memalukan tersebut. Namun, apakah media sosial kita memang sudah rusak berat?

Konsumsi atas narasi intoleran dan kebecian kelompok liyan dianggap bertanggungjawab menjadikan seseorang sebagai teroris. Sekilas wacana ini mungkin sulitnya dibantah, padahal kita juga perlu menyadari bahwa konten-konten perdamaian dan kebaikan bersama bukan sama sekali hilang dari peredaran.

Di sini saya mencoba menelusuri dua akun Instagram milik pribadi atau kelompok yang cukup getol mengampanyekan narasi perdamaian dan toleran, yakni @Islamidotco, @husien_alhaddar dan @kalis.mardiasih. Tiga Influencer tersebut hanya secuil bukti bahwa para pendakwah yang toleran dan moderat tidaklah sulit dijumpai di jagat maya.

Namun, para influencer moderat dan toleran tersebut memiliki beberapa persoalan yang mengakibatkan minimnya konsumsi warganet, atas konten yang mereka produksi. Mulai dari permasalahan pengintil, konten, hingga algoritma ditengarai menjadi permasalahan di atas.

Ketika pengintil (follower) akun media sosial influencer toleran dan moderat yang masih dibilang kecil, terutama jika dibanding para penganjur dari kelompok Islam reaksioner, tentu mempengaruhi peredaran konten yang mereka telah unggah. Dalam amatan saya, ketiga akun tersebut memiliki pengintil tidak ada yang mencapai jutaan apalagi hingga puluhan juta.

Permasalahan lain yang menyebabkan minimnya resepsi warganet terhadap narasi damai dan toleran, adalah konten perdamaian dan toleran masih belum sebagus dan semenarik milik kelompok Islamis. Hal ini mungkin disebabkan para influencer belum melakukan pengelolaan konten secara profesional. Lihat saja, hampir seluruh para pendakwah Islamis reaksioner yang tenar di media sosial memiliki pengelola media sosial yang resmi.

Selain persoalan pengintil dan konten, dalih pengaturan algoritma yang menganalisa selera dan model konten yang dikonsumsi seseorang, sebenarnya menjelaskan bahwa apapun yang kita konsumsi di media sosial sangat dipengaruhi oleh sesuatu yang selama ini sering kita akses. Akan tetapi, hal ini juga menjelaskan bahwa konten perdamaian dan ajakan untuk hidup bersama masih belum banyak diakses oleh warganet.

Terlebih, jika ditelisik dari keterlibatan warganet dalam setiap unggahan, baik like, share hingga reproduksi konten, para pendakwah Islamis tersebut sangat tinggi. Wajar kemudian jika narasi islam reaksioner lebih mudah dijumpai dan dikonsumsi lebih banyak oleh warganet.

Apakah permasalahan influencer moderat dan toleran yang minim diakses oleh warganet berhenti di sana? Tentu saja tidak, ada banyak dalam dakwah di media sosial yang masih perlu didalami lagi agar pendedahan ajaran Islam yang toleran dan moderat tidak terjebak pada hal-hal yang tidak esensial.

Simalakama Dakwah di Media Sosial

Firly Annisa, dosen dari Yogyakarta, menyebutkan bahwa para pendakwah Islam di media sosial rentan terjebak dalam fenomena micro-celebrities, yakni menekankan keterkenalan orang biasa di jagat media sosial, yang aktif membuat konten visual hingga memiliki banyak pengikut. Sehingga, mereka dapat mengelola kepopulerannya untuk dikapitalisasi atau barang jualan mereka adalah perhatian masyarakat.

Arkian, para micro-celebrities memiliki strategi yang sedikit berbeda dengan selebriti dunia entertainment, yakni kehadiran mereka dalam konten harian menjadi hal yang wajib. Sebab, lewat konten keseharian yang menceritakan aktivitas mereka di ruang publik adalah syarat menjadi terkenal di dunia maya.

Dalam bahasa lain, micro-celebrities adalah orang-orang yang menjual kepribadian dan citra diri untuk aktif dijadikan komoditas. Akhirnya, pundi-pundi uang sekaligus ketenaran banyak menggoda kaum muda yang berlomba-lomba menjadi populer di sosial media di masa sekarang, termasuk para pendakwah.

Dikutip dari kolom Annisa di rahma.id, “dunia digital pada kenyataanya memberikan peluang yang lebih besar kepada individu dan kelompok untuk berpartisipasi membuat konten agar menjadi viral. Bahkan konten-konten mereka diambil dan digunakan oleh siaran televisi.” Tulis Annisa. Kondisi serupa dapat dijumpai dalam fenomena pendakwah di media sosial, di mana ada beberapa ustadz yang menjadi penceramah di televisi atau diundang untuk berbicara soal Islam karena konten yang mereka unggah menjadi viral.

Dalam diskusi saya dengan Annisa beberapa hari lalu melihat bahwa dunia digital manjadikan dakwah tidak lagi soal ajaran agama, namun turut melibatkan komoditas atas diri sendiri atau yang biasa disebut self-entrepreneurship. Dalam hal ini, para pendakwah media sosial dituntut untuk menghadirkan berbagai cerita pribadi atau keseharian mereka kepada publik, untuk menciptakan keintiman yang menjadi komoditas dan peraup perhatian warganet.

Adapun inti hadirnya platform media sosial ketika perhatian warganet yang dapat memiliki nilai komoditas, membuat pendakwah agama di media sosial melakukan hal-hal serupa seperti selebritis, yakni memunculkan drama-drama yang dapat mengumpulkan dan menahan perhatian publik terhadap akun mereka. Selain mendapatkan keuntungan dari sisi ekonomis, para pendakwah juga dapat mempengaruhi opini publik.

Kembali ke masalah pendakwah toleran dan moderat di media sosial, kondisi di atas tentu juga terjadi di kalangan mereka. Menurut saya, hal tersebut menjadikan dakwah rentan terjebak dalam posisi simalakama, karena influencer moderat dan toleran dituntut untuk menjadi lebih nyeleb, tidak saja dari konten, bahasa, hingga bahasa tubuh, tapi juga menghadirkan diri sebagai selebritas di tengah publik.

Kondisi tersebut jika dinilai dari segi ekonomis jelas sangat menggiurkan, namun jika ditelisik dari segi etika pendakwah tentu sedikit bermasalah. Sebab, drama-drama yang dihadirkan rentan mendangkalkan narasi dakwah toleran pada hal-hal yang kurang esensial. Oleh sebab itu, kita semua harus menemukan formulasi dakwah media sosial yang dapat menarik perhatian warganet tanpa harus mengorbankan narasi ajaran yang menjadi dangkal.

Dakwah Agama dan Kesopanan

Baru-baru ini kita disodorkan sebuah kesimpulan penelitian yang cukup mengejutkan, yakni posisi Indonesia sebagai salah satu negara paling tidak sopan. Fakta ini mungkin sedikit memalukan bagi sebuah bangsa yang paling sering mengagungkan diksi etika “budaya timur”. Ketika membaca kesimpulan kontroversial tersebut terlintas sebuah pertanyaan di pikiran saya, bagaimana dengan kesopanan dalam diskursus agama di media sosial?

Telah kita ketahui bersama bahwa “kesopanan” dan “agama” memiliki posisi adiluhung di sebagian besar masyarakat Indonesia. Tentu fakta ketidaksopanan warganet kita tersebut jelas mengkhawatirkan, apakah keberagamaan kita memiliki nasib yang sama dengan persoalan etika atau moral tersebut.

Memang banyak perubahan di wajah agama pasca perjumpaan dengan media baru (baca: internet). Di antara perubahan yang bisa kita lihat bersama adalah diskursus agama di internet yang makin bertumbuh dan menyesaki ruang digital.

Presiden Jokowi pernah menyinggung bahaya media sosial dalam kehidupan beragama. Dikutip dari tirto.id, Jokowi bahkan menyebut media sosial sebagai racun yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Pernyataan ini dilontarkan Jokowi pembukaan Rakornas Forum Kerukunan Umat Beragama di Jakarta, selasa, (3/11/2020).

Untuk itu Jokowi menilai pelaksanaan moderasi agama perlu tokoh agama yang mempersatukan di tengah menghadapi bahaya media sosial dan ekstrimisme. Dia menilai, para tokoh agama harus mampu merangkul, melunakkan perbedaan dan pilihan. Kekuatan tersebut penting agar umat tidak terjebak pada pandangan ekstrim dan melegalkan kekerasan. Jika memang begitu, moderasi beragama menjadi salah satu faktor penentu dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Kehadiran akun media sosial yang mengampanyekan narasi toleransi dan moderatisme beragama menjadi sangat urgen. Sebab, walau sering berkelindan dengan narasi politik atau sosial lainnya, beberapa keributan di media sosial masih terkait dengan persoalan agama.

Menurut Carool Kersten, akademisi asal London, ketegangan antar umat beragama atau maraknya intoleransi di tengah masyarakat Indonesia tidak lagi soal semantik, tapi sudah berubah menjadi konflik sosial yang merebak dari jalanan perkotaan hingga kampung pedesaan. Hal yang serupa terjadi di ranah dakwah media sosial yang sering menjadi arena konflik yang tidak berkesudahan dan wadah berbagai ujaran tak etis.

Hal ini tentu menjadikan kehadiran pendakwah yang toleran dan moderat semakin urgen, sebab harapan besar untuk bisa membawa dakwah Islam ke ranah yang lebih terhormat juga terletak di pundak mereka. Untuk itu dakwah toleransi dan moderatisme Islam harus disandarkan pada standar moral yang tinggi, jangan sampai para influencer moderat dan toleran malah menjadikan ketegangan dengan kelompok Islam reaksioner dan intoleran, sebagai wadah untuk mengejek atau berkata tidak sopan kepada mereka.

Arkian, tugas seorang influencer yang beraliran moderat dan toleran jelas sangat berat. Namun, bukan berarti menghadirkan dakwah Islam yang ramah, moderat dan toleran adalah tugas mereka, karena beban tersebut juga diletakkan ke bahu kita semua sebagai warganet.

Fatahallahu alaina futuh al-arifin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here