Ru’ya Shadiqah disebut sebagai bagian dari nubuwwah. Di antara mimpi yang benar itu adalah mimpi bertemu Rasulullah SAW, dan nubuwwah hanya datang dari Allah (bagian dari wahyu), maka barang siapa berbohong bahwa dia mendapatkan Ru’ya Shadiqah, maka ia telah berbohong bahwa Allah telah memperlihatkan sesuatu kepadanya, padahal tidak. Dan berbohong atas nama Allah jauh lebih besar dosa dan kekejiannya daripada kebohongan biasa.

Berikut ini teks dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi:

قيل: قد صح الخبر أن الرؤيا الصادقة جزء من النبوة، والنبوة لا تكون إلا وحياً، والكاذب في رؤياه يَّدعي أن الله تعالى أراه ما لم يره، وأعطاه جزءاً من النبوة لم يعطه إياه، والكاذب على الله تعالى أعظم فرية ممن كذب على الخلق أو على نفسه

Di dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas, di mana Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلُمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ، وَلَنْ يَفْعَلَ» رواه البخاري

 وقوله: «تَحَلَّمَ بِحُلُمٍ» تكلف الحلم أو ادعى أنه رأى حلمًا. و«كُلِّفَ»: أي يوم القيامة، وذلك التكليف نوع من العذاب. و«يَعْقِدَ» يوصل. و«لَنْ يَفْعَلَ» لن يقدر على ذلك، وهو كناية عن استمرار العذاب عليه

Barang siapa mengaku-aku telah bermimpi sesuatu padahal ia tidak bermimpi seperti yang dikatakannya, ia akan disiksa di akhirat dengan siksa yang terus menerus. Siksa ini diistilahkan dengan “يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ ”: Menggabungkan dua butir biji gandum, dan dia tidak akan pernah bisa melakukannya, mengisyaratkan suatu adzab yang terus-menerus.

Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar, di mana Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِىَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ» رواه البخاري

قوله: «أفْرَى الفِرَى» أشد الكذب وأكذب الكذبات، والفِرَى جمع الفِريَة وهي الكذبة الفادحة التي يُتعجَّب منها

و«يُرِي عَيْنَيْه» يدَّعي أنه رأى رؤيا وهو لم ير شيئًا

Hadis di atas menjelaskan bahwa mengaku telah bermimpi melihat sesuatu, padahal tidak, merupakan seburuk-buruknya kebohongan yang diistilahkan dengan “Afral Fira”: Kebohongan paling dusta.

Imam Bukhari bahkan membuat bab khusus mengenai kebohongan mimpi ini, “Babu Man Kadzaba Fi Hulmihi.” Ibnu Hajar, Pensyarah kitab Shahih Bukhari mensyarah judul bab ini dengan mengatakan:

باب من كذب في حُلمه، أي فهو مذموم أو التقدير: بابُ إِثمِ من كذب في حُلمه

Meskipun berdusta tentang sesuatu di luar mimpi bisa berakibat fatal karena berpotensi menghilangkan nyawa orang dan kerusakan lainnya, tetapi kebohongan mengenai mimpi juga tidak kalah berbahaya, sehingga ada peringatan keras mengenai hal ini di dalam agama. Bagaimanapun, berbohong tentang mimpi adalah kebohongan atas nama Allah. Berikut ini pernyataan Imam Thabari:

إنما اشتد فيه الوعيد مع أن الكذب في اليقظة قد يكون أشد مفسدة منه إذ قد تكون شهادة في قتل أو حد أو أخذ مال لأن الكذب في المنام كذب على الله أنه أراه ما لم يره، والكذب على الله أشد من الكذب على المخلوقين؛ لقوله تعالى: ﴿وَيَقُولُ الأَشْهَادُ هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ…﴾ الآية، وإنما كان الكذب في المنام كذبًا على الله لحديث: «الرُّؤْيَا جُزْءٌ مِنَ النُّبُوَّةِ» وما كان من أجزاء النبوة فهو من قبل الله تعالى

Berbohong Tentang Mimpi Berjumpa dengan Rasulullah SAW Merupakan Kebohongan atas Nama Allah dan Rasulnya Sekaligus.

Jika di atas disebutkan bahwa orang yang berbohong mengenai “Ru’ya Shadiqah” merupakan pendusta yang paling keji karena “Mimpi yang benar” merupakan bagian dari nubuwwah yang datang dari Allah, dan ia berani berbohong atas nama Allah, maka jika ada orang yang berbohong telah bermimpi berjumpa dengan baginda Rasulullah SAW dan bahwa beliau SAW memberi wasiat tertentu atau mengatakan dan mengisyaratkan sesuatu tertentu, maka kedustaanya menjadi berlipat, karena ia berdusta dengan mengatas-namakan Rasulullah SAW. Na’udzu billah min dzalik.

Imam Muslim dan Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ومن رآني في المنام فقد رآني ، فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي

Hadis di atas menjelaskan bahwa jika para Sabahat Nabi RA melihat beliau SAW dalam mimpi, maka mereka betul-betul berjumpa dengan beliau SAW karena setan tidak akan bisa menyerupai wujud Rasulullah SAW.

Banyak orang yang tidak mempelajari syarah dan penjelasan mengenai hadis ini secara detail, sehingga jika ada orang mengaku berjumpa dengan baginda Rasulullah SAW dalam mimpi, maka banyak orang akan mempercayainya.

Jika orang yang mengaku telah bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW itu ternyata berbohong, maka akibatnya bisa sangat fatal. Tentu orang berdusta memiliki motif buruk di belakangnya; mencari ketenaran, mencari legitimasi atas sesuatu, dan lain sebagainya. Jika motif-motif buruk itu kemudian dilegitimasi dengan kebohongan telah bermimpi berjumpa baginda Rarulullah SAW, maka kerusakan yang ditimbulkannya bisa semakin besar.

Jangan lupa, hadis di atas itu masih ada sambungannya, yakni sabda beliau SAW:

ومن كذب عليَّ متعمدًا فليتبوأ مقعده من النار

“Barang siapa berdusta atas namaku, maka siap-siaplah bertempat di neraka.”

Peringatan dari beliau SAW mengenai bahayanya orang berdusta atas nama beliau SAW yang sering kita dengar ini, merupakan bagian dari hadis tentang bermimpi berjumpa beliau SAW dalam mimpi.  Melihat redaksi dan letak peringatan ini dalam hadis yang sama mengeni bermimpi berjumpa dengan beliau SAW, seharusnya membuat orang tidak lagi berani bermain-main dan berdusta tentang bermimpi berjumpa dengan beliau SAW, karena ancamannya adalah neraka.

Apakah Setan Berani Mengaku Diri Sebagai Nabi dalam Mimpi Seseorang?

Kita perlu membahas mengenai apakah setiap orang yang bermimpi “bertemu nabi SAW” itu telah mendapatkan Ru’ya Shadiqah, karena ada hadis yang menerangkan bahwa jika seseorang berjumpa dengan Rasulullah SAW, maka ia betul-betul berjumpa dengan beliau saw, sedangkan setan tidak bisa menyerupai beliau SAW. Ataukah ada kemungkinan setan berani mengaku sebagai Rasulullah SAW—dengan tetap tidak bisa menyerupai wujud fisik beliau SAW.

Sebelum membahas apakah setan bisa mengaku dirinya sebagai Rasulullah SAW dan menemui seseorang dalam mimpi, kita perlu mengingat bahwa di dalam kehidupan nyata, ada manusia yang mengaku sebagai tuhan, juga ada manusia yang mengaku sebagai nabi. Fi’aun mengaku sebagai tuhan, Musailamah mengaku sebagai nabi.

Banyak pula riwayat mengenai dua orang ‘alim yang berselisih tentang mana yang lebih buruk antara orang ‘alim yang fasiq dan orang bodoh ahli ibadah. Mereka kemudian berpura-pura memberikan wahyu kepada dua orang tersebut, dan terbukti bahwa orang ‘alim yang masih fasiq itu lebih baik daripada orang bodoh yang ahli ibadah, karena si bodoh percaya bahwa yang didengarnya adalah suara tuhan. Kisah ini di antaranya disebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyah karya Syeikh Nawawi.

Dalam riwayat yang populer juga disebutkan bahwa ada setan yang mengganggu Al-‘Alim al-waliy Syekh Abdul Qadir al-Jilani dengan cara mengaku sebagai Tuhan.

Mengenai kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jilani ini, berikut teks dari Syeikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, seorang Ulama Salafi (Wahabi) dari Syria, dalam salah satu fatwanya mengenai kemungkinan setan berani mengaku sebagai Tuhan dan sebagai Rasulullah SAW:

وقد وقع أعظم من ذلك للشيخ عبد القادر الجيلاني رحمه الله حيث رأى جالساً على عرش بين السماء والأرض يقول له : أنا ربك ؟ فقال: اخسأ عدو الله إنك إبليس  فقال : كيف عرفت أني إبليس قال : لأن الله عز وجل لا نراه في الدنيا حتى نموت ، ولأنك قلت : أنا ربك ، ولم تجرؤ أن تقول : أنا الله

Sebagaimana Dajjal dan Fir’aun, Setan juga berani mengaku sebagai tuhan untuk menyesatkan manusia. Maka ia juga pasti berani mengaku sebagai nabi. Setan juga tentunya berani mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang yang bodoh di zaman ini–yang tentu saja tidak pernah melihat fisik Rasulullah SAW serta tidak mengaji mengenai sifat-sifat fisik Rasulullah SAW dalam kitab-kitab hadis—lalu mengajarinya sesuatu yang menyimpang.

Mengenai hal ini, Syeikh Shalih Al-Munajjid berkata:

أما أن يأتي الشيطان في صورة أخرى سواء في اليقظة أو في المنام ثم يكذب ويقول : إني رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا من الكذب ، وليس هي رؤية النبي صلى الله عليه وسلم

Jadi, bisa saja setan menjumpai seseorang dalam mimpi maupun dalam keadaan terjaga, lalu mengaku dirinya adalah Rasulullah SAW. Orang bodoh yang tidak megerti sifat-sifat nabi, tidak mengerti ajaran Islam secara mendalam, bisa saja tertipu oleh setan yang mengaku-aku sebagai Rasulullah SAW. Bisa jadi setan akan menampakkan diri sebagai orang yang berwibawa dan bercahaya, lalu orang bodoh percaya bahwa itu adalah Rasulullah SAW, karena ia tidak pernah berjumpa langsung dengan beliau SAW, sehingga tidak tahu bedanya, berbeda dengan para sahabat yang pernah berjumpa langsung dengan beliau SAW.

Ibnu Taimiyah mengatakan jika ada orang (bukan sahabat nabi) mengaku bertemu Rasulullah SAW dengan ciri-ciri yang tidak sesuai yang dikhabarkan dalam hadis-hadis sahih, maka yang dilihatnya itu adalah setan yang berdusta. Ibnu Taimiyah mengatakan:

أن هذه الصورة كذب ، وهي من الشيطان

Artinya:

 “Setan berani mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang.”

Ibnu Baz, Ulama rujukan kerajaan Saudi mengatakan dalam fatwanya bahwa setan bisa dan berani  berbohong mengaku sebagai Rasulullah SAW dalam mimpi seseorang. Setan tidak akan bisa menyerupaki fisik Rasulullah SAW, tetapi ia berani mengaku sebagai Rasulullah SAW. Betikut ini teks fatwa Ibnu Baz:

أما من رآه عليه الصلاة والسلام على غير صورته فإن رؤياه تكون كاذبة كأن يراه أمرد لا لحية له، أو يراه أسود اللون أو ما أشبه ذلك من الصفات المخالفة لصفته عليه الصلاة والسلام؛ لأنه قال عليه الصلاة والسلام: «فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي» فدل ذلك على أن الشيطان قد يتمثل في غير صورته عليه الصلاة والسلام ويدعي أنه الرسول صلى الله عليه وسلم من أجل إضلال الناس والتلبيس عليهم

ثم ليس كل من ادعى رؤيته صلى الله عليه وسلم يكون صادقًا، وإنما تقبل دعوى ذلك من الثقات المعروفين بالصدق والاستقامة على شريعة الله سبحانه

Klaim tentang mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW dalam mimpi juga tidak boleh diterima dari setiap orang yang mengakuinya. Para ulama mengatakan, yang boleh diterima klaimnya adalah orang yang shalih, dan berjalan di atas ilmu dan syari’at Islam yang benar.

‘Ala Kulli Haal, mimpi itu bermacam-macam; tidak semuanya pasti benar dan merupakan bagian dari nubuwwah. Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis, di mana Rasulullah SAW bersabda:

وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ: فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنَ اللهِ، وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ

Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah mengatakan:

وقوله: «الرُّؤْيَا ثَلَاثَةٌ» فيه بيان أن ليس كل ما يراه الإنسان في منامه يكون صحيحًا، ويجوز تعبيره

Jadi namanya mimpi, bisa saja ia benar dari Allah sebagai “Busyra”, bisa juga dari setan, bisa juga “haditsunnafsi” atau bunga-bunga tidur.

Apa Tindakan Terhadap Pendusta atas Nama Allah dan Rasulnya?

Adapun orang yang berbohong bahwa dirinya telah bermimpi berjumpa atau didatangi Rasulullah SAW, maka ia adalah seorang pendusta besar. Ia telah berdusta atas nama Allah dan berbohong atas nama Rasulullah SAW. Jika dalam kebohongannya tersebut terbukti ia memiliki motif yang bisa menimbulkan kerusakan dan kegaduhan, maka pemerintahan yang sah perlu memberlakukan hukuman dan tindakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Pelaku kebohongan atas nama nabi SAW tidak dibenarkan mengaku melakukan kebohongan tersebut demi kebaikan atas nama apapun, misalnya untuk menghibur orang, atau membuat orang lebih semangat dalam ber-Islam. Dalam hal ini, Ibnu Hajar mengatakan:

قال ابن حجر : ومعناه – أي الحديث – : لا تنسبوا الكذب إليَّ ، ولا مفهوم لقوله : (عليَّ) ؛ لأنه لا يتصور أن يكذب له لنهيه عن مطلق الكذب . (انتهى) . و(لسان العرب) يفيد أن قوله: (عليَّ) يشمل كل كذب ينسب إليه ، ولحديث أنس : (من تعمد عليَّ كذبًا

Jadi tidak ada yang bisa dibenarkan melakukan dusta atas nama Allah dan Rasulnya demi “kebaikan” yang diklaimnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here