Desember adalah bulan Gus Dur. Bulan Gus Dur meninggalkan kita semua untuk menghadap Sang Maha Pencipta. Berbagai warisan yang ditinggalkan Gus Dur membuatnya dikenal dan dikenang banyak orang. Jiwa aktivismenya dan kesediaannya membela minoritas menjadi nilai plus yang dimiliki Gus Dur.

Dengan berbagai kebaikan dan warisannya itu, banyak orang yang mengenang Gus Dur dengan menyebutkan berbagai kelebihannya. Marzuki Wahid mengenang Gus Dur, dalam catatan Buya Husein Muhammad, sebagai seorang yang humanis, pluralis dan ulama besar.

“Gus Dur bukanlah guru bangsa, bukan bapak pluralusme, bukan ulama besar, bukan seorang humanis, bukan negarawan, bukan waliyullah, dan bukan lain-lain, tetapi Gus Dur adalah semuanya,” kenang Marzuki Wahid dalam catatan Buya Husein Muhammad.

Baca juga: Kisah Arab Badui Bergantung di Tirai Ka’bah

Seperti Marzuki Wahid, kita juga boleh mengungkapkan semua kenangan dan kekaguman kita terhadap Gus Dur dengan ungkapan yang merepresentasikan semua perjuangan, karya, dan warisannya. Hal itu lah yang dilakukan oleh Buya Husein Muhammad.

Ulama asal Cirebon ini juga menjelaskan kekagumannya kepada sosok Gus Dur. Menurutnya segala kebesaran yang dimiliki Gus Dur bukan karena Gus Dur bergantung pada nama besar nasab, baik ayahnya: K.H Wahid Hasyim, ataupun kakeknya: K.H Hasyim Asy’ari. Namun Gus Dur bergantung pada dirinya sendiri.

“Kebesaran Gus Dur, bukan karena beliau putra dan cucu ulama besar, guru para ulama, bukan juga karena pernah menjadi pemimpin berjuta kaum santri (NU), dan bukan karena pernah memimpin bangsa besar, sebagai Presiden/Kepala Negara, melainkan karena dirinya sendiri,” tulis pengasuh pesantren di Cirebon ini.

Laku Gus Dur yang ini mungkin jarang kita tahu. Semua orang mengira bahwa kebesaran Gus Dur selama ini hanya karena beliau anak seorang tokoh besar dan cucu kiai besar. Bahkan hal ini mungkin terjadi di sekitar kita. Seorang yang mengaku sebagai putra, saudara, atau kerabat tokoh besar dengan seenaknya memanfaatkan kekerabatan dan nasabnya itu untuk kepentingan dirinya sendiri.

Baca juga: Kisah Dzun Nun al-Mishri: Bergantunglah pada Allah, Jangan Bergantung pada Amal Perbuatan Sendiri

Menjadi cucu tokoh besar, bahkan cucu Rasul pun, kalau tidak diikuti dengan sikap rendah hati, perjuangan, dan kemampuan yang mumpuni, hanya lah sekedar menyombongkan diri. Yang penting dari semua hal itu adalah, ketergantungan kita hanya kepada Allah SWT.

“Gus Dur mencari kebesaran itu dari dalam dirinya sendiri. Ia tak berteduh dan bergantung di bawah kebesaran semua itu, melainkan hanya kepada Allah,” pungkas Buya Husein Muhammad.