Oleh
Ustadz Said Yai Ardiansyah Lc MA

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun. [Al-Kahfi/18: 49]

TAFSIR RINGKAS
Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang suatu hari dimana amalan-amalan yang pernah dilakukan oleh manusia selama hidupnya akan diperlihatkan semuanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan diletakkanlah Kitab,” yaitu catatan kebaikan dan keburukan. Allâh Azza wa Jalla memberikan setiap orang catatannya masing-masing. Orang yang beriman mengambil Kitab tersebut dengan tangan kanannya, sebaliknya orang kafir akan mengambilnya dengan tangan kiri.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah” pada waktu itu, “ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya” yaitu dalam kitab tersebut yang berisi keburukan-keburukan mereka. “Dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami.” Mereka menyesal dan merasa sedih, sehingga mereka mengungkapkan bahwa mereka dalam kecelakan dan kebinasaan.

“Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,” perbuatan dosa-dosa kami “melainkan ia mencatat semuanya.”

Kemudian Allâh Azza wa Jalla berfirman di akhir penunjukan catatan-catatan tersebut, “Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis),” baik berupa kebaikan maupun keburukan, telah ditetapkan di dalam kitab mereka dan telah diperhitungkan dan mereka akan diberikan balasan atas apa yang telah mereka lakukan.

“Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun,” dengan menambah keburukan mereka dengan keburukan yang lain, atau kebaikan mereka dengan kebaikan yang lain. Dengan demikian, penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka.[1]

PENJABARAN AYAT
Beriman kepada hari akhir adalah salah satu kewajiban setiap kaum Muslim. Seorang Muslim mengimani semua yang dikabarkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an dan seluruh yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya yang shahih.  Diantara yang dikabarkan oleh Allâh Azza wa Jalla dan Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tentang yaumul hisâb (hari dimana amalan-amalan itu ditampakkan dan diperhitungkan oleh Allâh). Pada hari itu seluruh amalan-amalan kebaikan dan keburukan manusia akan diperlihatkan kepadanya dan dia tidak akan mengingkari hal tersebut.

Di antara hal yang harus diimani pada hari tersebut adalah keberadaan suatu kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan manusia, baik amalan yang bagus maupun amalan yang buruk. Tidak ada yang terluput dalam kitab tersebut. Semuanya telah tercatat. Ayat yang sedang kita bahas ini berbicara tentang kitab tersebut.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ

Dan diletakkanlah Kitab [Al-Kahfi/18: 49]

Para Ulama berselisih pendapat dalam mengartikan kata ‘Kitab’ pada ayat ini. Pendapat-pendapat yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut:

Kitab tersebut adalah kitab yang berisi catatan-catatan amalan kebaikan dan keburukan manusia dan akan diberikan catatan tersebut kepada manusia dan diterima dengan tangan kanan atau tangan kiri.
Kitab tersebut adalah kitab yang diletakkan di hadapan Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Kata ‘Kitab’ tersebut hanyalah kiasan yang berarti al-hisâb yaitu hari perhitungan amalan-amalan para hamba. [2]
Pendapat yang benar adalah pendapat pertama, karena Allâh Azza wa Jalla menyebutkan setelah itu:

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Ini menunjukkan bahwa Kitab tersebut adalah kitab yang bisa dilihat oleh orang-orang yang bersalah pada hari tersebut.

Penulisan ‘Kitab’ dalam bentuk mufrad (kata benda bentuk tunggal yang bermakna sebuah kitab) pada ayat ini, tidak berarti bahwa kitab tersebut hanya satu saja. Ini hanya menunjukkan jenis kitab. Adapun kitab-kitab catatan amal sangatlah banyak. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. [Al-Isrâ’/17:13]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ

Lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘kamu’ pada ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada orang tertentu dan yang diajak bicara pada ayat ini bukanlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu berada pada kedudukan yang lebih tinggi dari tempat tersebut.[3]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan pada ayat ini bahwa mereka sangat ketakukan setelah melihat catatan keburukan yang pernah mereka lakukan. Mereka takut karena mereka tahu bahwa setelah menerima catatan amal tersebut, mereka akan mendapatkan kesusahan yang lebih parah dan azab yang pedih dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Oleh karena itu, mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kami.”

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا

Dan mereka berkata, “Aduhai celakalah kami.” [Al-Kahfi/18: 49]

Perkataan ‘Aduhai celakalah kami,’ menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyadari kesalahan yang telah mereka kerjakan karena telah menyia-nyiakan umur yang telah mereka jalani selama hidup di dunia. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mengumumkan kebinasaan yang mereka akan dapatkan setelah menerima kitab tersebut.

Kemudian mereka mengatakan:

مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا 

Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya [Al-Kahfi/18: 49].

Mereka keheranan dengan detailnya pencatatan dosa yang mereka lakukan. Allâh Azza wa Jalla mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) maksudnya tersenyum, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya tertawa dengan suara keras.”

Sa’id bin Jubair rahimahullah mengatakan, “Ash-Shaghîrah (yang kecil) artinya dosa kecil, memegang dan mencium, sedangkan al-kabîrah (yang besar) artinya perbuatan zina.” [4]

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Kitab ini tidak menyisakan yang kecil dari dosa-dosa dan amalan-amalan kami, begitu pula amalan-amalan yang besar.”[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ

Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil (yang diremehkan)! Sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti suatu kaum yang turun di dalam wadi (lembah). Kemudian orang yang ini membawa satu kayu dan yang itu membawa satu kayu, sehingga mereka bisa memasak roti-roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil jika dikerjakan terus-menerus oleh pelakunya maka dia akan membinasakannya.[6]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا

Dan mereka dapati apa yang telah kerjakan ada (tertulis). [Al-Kahfi/18: 49]

Ada dua pendapat dalam mengartikan kata hâdhiran pada ayat ini. Di antara Ulama ada yang mengartikan bahwa “mereka mendapatkan perhitungan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka,” dan ada juga yang mengatakan bahwa “mereka mendapatkan balasan atas apa-apa yang mereka kerjakan benar-benar ada di hadapan mereka.” Allâhu a’lam, arti yang pertama lebih tepat, karena ayat ini berbicara tentang hari perhitungan (yaumul hisâb).[7]

Ada beberapa ayat yang hampir semakna dengan ayat ini, di antaranya adalah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Dia ingin kalau kiranya antara dia dengan hari itu ada masa yang lama. Dan Allâh memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya. Dan Allâh sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. [Ali ‘Imrân/3:30]

Begitu pula firman-Nya:

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. [Al-Qiyâmah/75:13]

Dan juga firman-Nya:

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Pada hari dinampakkan segala rahasia. [Ath-Thâriq/86:9]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang pun [Al-Kahfi/18: 49]

Allâh Azza wa Jalla mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya. Allâh Azza wa Jalla tidak akan berbuat zalim kepada siapa pun. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا

Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman pada diriku dan Aku jadikan kezaliman haram di antara kalian.[8]

Begitu pula dalam hal pencatatan amal, Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menghukum seseorang kecuali sesuai dengan kesalahan yang telah dia lakukan. Allâh Azza wa Jalla juga tidak akan mengurangi pahala orang yang taat kepada-Nya.[9]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al-Anbiyâ’/21: 47]

Begitu pula firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allâh akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [An-Nisâ’/4:40]

Ini merupakan bentuk kasih sayang Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beramal shalih. Allâh Azza wa Jalla tidak akan mengurangi pahala-pahala mereka, justru Allâh akan melipatkangandakannya.

Dan di antara bentuk keadilan Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Allâh akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain, padahal kita ketahui bahwa hewan bukanlah makhluk yang terbebani syariat. Rasûlullâh n bersabda:

إِنَّ الْجَمَّاءَ لَتُقَصُّ مِنَ الْقَرْنَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya hewan-hewan yang tidak bertanduk akan diberikan hak qishaash (membalas) kepada hewan-hewan yang bertanduk di hari kiamat.[10]

KESIMPULAN

Beriman kepada hari akhir adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim.
Kita wajib mengimani bahwa di hari perhitungan ada kitab yang mencatat seluruh amalan-amalan, baik yang baik maupun yang buruk. Setiap orang akan mendapatkan satu kitab catatan amalnya.
Orang-orang bersalah akan merasakan ketakutan setelah menerima catatan tersebut, karena mengetahui keburukan dan siksaan apa yang akan menerima setelah itu.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat seluruh dosa mereka dalam kitab tersebut, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kezaliman pada diri-Nya dan pada makhluk-Nya.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengadili hewan yang berbuat zalim karena telah menzalimi hewan lain.
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat. Mudah-mudahan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencatat kita sebagai orang-orang yang menerima catatan amal kita dengan tangan kanan kita dan dimudahkan untuk menuju surga. Âmîn.

DAFTAR PUSTAKA

Aisarut Tafâsîr li Kalâm ‘Aliyil Kabîr Wa bi Hâmisyih Nahril Khair ‘Alâ Aisarit-Tafâsîr. Abu Bakr Jâbir bin Musa al-Jazâ 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
At-Tahrîr wa at-Tanwîr. Muhammad Ath-Thahir bin ‘Asyur. 1997. Tunisia: Dar Sahnû
Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
Jâmi’ul Bayân fii Ta’wîlil Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Ma’âlimut Tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh:Daar Ath-Thaibah.
Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzhîm. Ismaa’iil bin ‘Umar bin Katsiir. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
Taisîr al-Karîm ar-Rahmân. Abdurrahmaan bin Naashir As-Sa’di. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIX/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]


Footnote
[1] Lihat Aisarut Tafâsîr, hlm. 841
[2] Lihat Tafsîr al-Baghawi, V/177; Tafsîr Al-Qurthubi, X/418 dan Tafsîr Ibni Katsîr, V/165.
[3] Lihat at-Tahrîr wat Tanwîr, XVIII/18.
[4] Tafsîr Al-Baghawi, V/177.
[5] Tafsîr Ath-Thabari, XVIII/39.
[6] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 22808. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahîhah, no. 3102.
[7] Lihat Tafsîr Al-Qurthubi X/419.
[8] HR Muslim, no. 2577/6572.
[9] Tafsîr Al-Baghawi, V/178.
[10] HR Ahmad dalam Musnad-nya no. 520. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits tersebut dalam ash-Shahîhah no. 1588.

Referensi : https://almanhaj.or.id/5839-catatan-amal-orang-yang-berdosa.html