“Celananya cingkrang, jangan jangan teroris?”

“Mau berteman sama dia, tapi dia kan Kristen, takut ah.”

“Mbaknya pake cadar, hati-hati alirannya sesat”

“Awas tuh, Kong Hu Cu komunis!”

“Katanya dia Islam, akhlaknya kok kayak gitu?”

Sering denger?

Aku adalah salah satu pengurus organisasi keagamaan di sekolahku, Rohis. Tidak hanya Rohis di lingkup sekolah, aku juga diberi amanah untuk menjadi pengurus di Rohis SMA tingkat Kota. Image apa yang kalian bayangkan saat pertama kali mendengar Rohis? Kebanyakan teman-temanku berkata,

“Wah, anak alim nih. Pasti kesayangan guru.”

Tidak selalu. Ada banyak murid kesayangan guru yang bukan anak Rohis, atau mungkin dari teman-teman non-Muslim juga banyak, bukan?

Gak mau temenan sama dia deh, ga asik.

Kenali aku dari aku apa adanya. Bukan dari ‘katanya’. Jika sudah mengenalku, kamu akan menyesali ucapanmu.

“Haha, anak Rohis pasti jarang jalan-jalan. Kan hobinya kajian mulu.”

Tidak juga, aku punya keluarga yang hobi travelling. Aku juga punya banyak teman yang menyenangkan.

“Rohis? yang tas punggungnya selalu besar ga modis isinya buku semua itu ya?”

Entah bagaimana ‘tas besar’ bisa dianggap sebagai tas anak rohis, tapi perlu kalian ketahui, aku tidak memilikinya.

“Dia pasti orangnya close minded, gak bisa toleransi.”

Aku menghargai dan bersikap terbuka terhadap perbedaan. Agamaku mengajarkan untuk bertoleransi, lantas mengapa memaksakan kehendak kepada orang lain? Bukankah kita selalu diajarkan di dunia pendidikan atau sekolah untuk saling menghargai dan saling berprasangka baik khususnya meski berbeda agama? Namun ada saja kasus-kasus yang menjadikan agama menjadi bahan perpecahan.

Obrolan diatas adalah beberapa contoh yang sering aku dengar dari teman-teman di lingkungan sekolah. Dan benar, setelah mereka mengenalku, mereka menyesali prasangka buruknya tentangku. Menurutku, keragaman masyarakat Indonesia yang terdiri dari suku, bahasa, adat istiadat dan lain lain merupakan anugerah yang Tuhan berikan kepada bangsa ini.  Meski dengan latar belakang yang berbeda-beda, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama di Indonesia. Termasuk hak memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan yang dianut.

Akan tetapi, perdamaian dan kemanusiaan yang telah terbentuk itu sering kali dirusak oleh orang-orang yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan. Seperti menebar prasangka, mempermasalahkan perbedaan, menyalahkan orang yang tidak sama dengannya, bahkan menyulut api permusuhan. Agama dijadikan sebagai alat untuk menindas, menyakiti, mempersikusi, bahkan membunuh. Intoleransi seringkali muncul berawal dari prasangka terhadap perbedaan sehingga menimbulkan kecurigaan kepada kelompok yang berbeda, bahkan di dalam satu agama sekalipun.

Yang aku tahu tidak ada satupun agama yang mengajarkan para pemeluknya untuk mencurigai, bermusuhan, menindas, apalagi saling membunuh. Untuk itu, proses belajar mengenal keberagaman agama yang telah diajarkan di sekolah ataupun di dalam keluarga bisa menumbuhkan sikap saling menghargai. Terutama nilai-nilai suci ajaran agama tidak hanya dipahami dari satu sudut pandang saja. Tetapi, masing-masing pemeluk agama menyelami lebih dalam kandungan dari ajaran itu sendiri dan menyesuaikan dengan konteks hari ini.

Ketika sudah baca ini, kira-kira apa yang kalian pikirkan? marah? geram? Atau biasa saja?

Di sini aku akan berbagi beberapa cara agar tidak saling berprasangka dan memandang buruk agama lain. Kalian bisa memulainya lewat enam langkah dibawah ini!

  1. Yakini dalam hati bahwa kita semua manusia terlahir setara dan sama.
  2. Cobalah untuk berteman dengan orang yang berbeda, baik beda ras, beda suku maupun beda agama. Pertemanan semacam ini akan menimbulkan rasa toleransi yang tinggi di antara perbedaan.
  3. Jika tiba-tiba ada orang yang bersikap rasis kepada kamu, lawanlah dengan berani! Tindakanmu itu akan memberi pesan kepada mereka kalau kamu menolak segala bentuk rasisme.
  4. Kalau kamu sedang beradu argumen dengan orang yang berbeda ras atau agama denganmu, cobalah untuk menggunakan kata-kata yang halus dan bijak. Berpikirlah secara kritis sebelum meresponnya.
  5. Sering-seringlah membaca buku, sehingga kamu tidak mudah mentafsirkan segala bentuk pendapat orang secara subjektif dan pengetahuanmu akan terus bertumbuh. Pengetahuan yang luas tidak membuat kamu mudah untuk membenarkan atau menyalahkan pendapat orang.
  6. Cobalah untuk terbuka dengan mempelajari dan memahami agama orang lain. Belajar dan pahami tentang agama lain bukan berarti pindah agama. Tetapi, kamu mau bertanya dan belajar dengan siapa saja tanpa mempermasalahkan keyakinan yang mereka percayai.

Gimana? Tidak terlalu rumit kan? Mari kita biasakan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi mulai dari hal-hal yang kecil. Tid ak ada kata terlambat. Bukankah menjadikan Indonesia dan bumi ini penuh kedamaian adalah mimpi kita bersama?

Salam damai!

 

Tulisan ini adalah hasil karya dari peserta penerima beasiswa mentoring pada program Peaceful Digital Storytelling, pelatihan kampanye cerita baik dan positif bagi siswa SMA yang didukung oleh US Embassy dan Wahid Foundation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here