Kasus positif corona di Indonesia makin meningkat tiap harinya. Jumlah dokter yang gugur dalam tugas penanganan pandemi ini mencapai titik terburuk. Mirisnya, masih ada saja yang menganggap corona itu konspirasi.

Suatu sore yang tenang, di sebuah jalan yang lengang, kamu melihat seorang ibu-ibu menenteng tas dan menuntun seorang anak, sepertinya itu cucunya. Tiba-tiba dari arah belakang, kamu mendengar ada kendaraan yang mendekat. Suara semakin jelas terdengar, kemudian tiba-tiba kendaraan itu mempercepat lajunya sampai kemudian berhenti mendadak di samping ibu itu. Ada dua orang menaiki motor itu dan orang yang ada di belakang membawa senjata tajam, ia berusaha merebut tas yang ditenteng ibu itu.

Kamu menutup mata dan meyakinkan diri tidak terjadi apa-apa.

Orang-orang mulai berkerumun mendekati si ibu yang berteriak histeris. Mereka menanyakan dengan berteriak tak kalah histeris tentang apa yang sakit dan apa yang hilang, dan si anak yang bersama ibu itu terus menangis.

Orang-orang menyadari ada kamu di sekitar lokasi ibu yang berteriak histeris itu, lalu ada seorang yang mendekatimu dan bertanya “apa yang terjadi?”. Kemudian kamu menjawab dengan tetap mencoba melegakan hati “tidak terjadi apa-apa”.

***

Menutup mata tidak akan mengubah keadaan, menutup mata juga tidak berarti tidak terjadi apa-apa. Dan inilah yang kita hadapi selama melewati pandemi covid-19 ini. Ada beberapa orang yang dengan sengaja ingin menutup mata dari realita bahwa corona ini ada. Mereka juga mencoba melegakan hati dengan menganggap bahwa sekarang ini masih baik-baik saja.

Hal semacam ini terjadi karena yang kita hadapi saat ini bukan hanya pandemi, tetapi juga infodemi.

Memang sudah risiko adanya sosial media, kencangnya informasi yang tersebar melalui sosial media bukan hanya soal update pandemi dengan cepat, tetapi juga informasi salah dan belum terverifikasi. Apalagi perkembangan seputar corona juga selalu berkembang, sehingga memang seolah-olah tidak ada yang pasti, tetapi ini lah proses yang harus kita jalani.

Saat awal mula pandemi diumumkan WHO, kita mendengar informasi bahwa yang memakai masker cukup mereka yang merasa sakit, yang sehat tidak perlu. Tetapi saat ini siapa saja perlu memakai masker, karena kita tidak tahu siapa yang sudah terjangkit corona. Selain itu, gejala-gejala awal corona juga berkembang, ketika dulu gejala awal hanya dideteksi dengan tubuh panas, sesak nafas dan tenggorokan sakit, saat ini muncul juga gejala berupa kehilangan kemampuan membau. Hal ini bukan berarti kedokteran plin-plan dan tak dapat dipercaya, tetapi memang pengetahuan selalu berkembang.

Orang-orang yang menutup mata dari keberadaan corona bisa kita temukan di berbagai kolom komentar akun-akun yang masih tetap istiqomah menginformasikan perkembangan corona, semisal akun @jaringangusdurian. Saya temukan, ada saja orang yang mencaci dan mengatakan kalau kasus positif corona akan menurun kalau admin akun Jaringan GUSDURian berhenti menginfokan perkembangan corona.

Mereka percaya bahwa corona ini tidak ada, corona hanya akal-akalan, dan kalau mereka percaya corona ada, ia tidak semengerikan yang diinfokan media. Sehingga jalan keluar yang mereka pilih adalah boikot media yang masih menginfokan perkembangan corona. Gelombang kepercayaan kalau corona ini tidak ada, masif terjadi setelah banyak public figure yang mengatakan bahwa corona adalah konspirasi.

Padahal, kita bisa dengan mudah sekali menemukan bukti bahwa corona ini memang ada, tetapi entah nalar seperti apa yang digunakan sehingga bisa mengatakan kalau corona hanya bualan WHO.

Apa harus positif corona sendiri dulu, agar bisa percaya corona itu nyata? Untuk percaya bahwa bumi itu bulat, apa ya semua orang di dunia harus dibawa ke luar angkasa untuk bisa melihat sendiri penampakan asli bumi dari luar angkasa? Untuk percaya bahwa paus adalah mamalia terbesar, apa semua orang harus menyelam laut dalam dan nguber paus? Tentu sangat merepotkan kalau semua yang harus kita percaya harus diawali dengan kita mengalaminya sendiri. Kadang-kadang kita cukup percaya dulu, sembari pelan-pelan mempelajari apa yang dialami dan akan terjadi.

Semisal saat kamu sakit panas dan dokter memberimu resep parasetamol. Apa ya kamu harus ngeyel dulu mau kuliah farmasi, kedokteran, biologi dan kimia dulu baru mau minum parasetamol? Ya bisa-bisa keburu parah sakitmu.

Kita tidak kurang-kurang bukti tentang pandemi yang sedang kita hadapi ini. Sederhana saja, seperti tidak hadirnya penonton di semua stadion di kompetisi Eropa. Kita pun tahu bahwa liga-liga top Eropa sempat terhenti lebih dari dua bulan. Dan kemudian saat pandemi mulai tertangani, liga kembali digelar tetapi tidak menghendaki adanya penonton yang hadir. Apakah 5 kompetisi top Eropa itu tunduk dengan konspirasi?

Kalau anda suporter Arsenal, anda tentu tahu bahwa pelatih Arsenal, Mikel Arteta, pernah dinyatakan positif corona. Untung ia selamat dan saat ini bisa mengantarkan Arsenal juara FA cup. Apakah Arteta selama ini bersandiwara?

Selain hiruk-pikuk sepak bola yang hilang, berita kematian juga selalu saja berdatangan. Ratusan sampai ribuan warga Amerika yang meninggal karena corona kemudian dikubur massal dengan mayat terbungkus plastik. Apa kita mau menutup mata dari realitas ini?

Belum lagi Indonesia saat ini menjadi negara dengan kasus kematian tenaga kesehatan terparah. Sudah lebih dari 70 tenaga kesehatan harus gugur dalam berjuang menyelamatkan warga yang terpapar corona. Apa kita juga mau menutup mata dari realita ini? Mbok ada empatinya, haduuuhh…

Kita menutup mata tidak akan mengubah keadaan. Kita menutup mata tidak akan mengembalikan nyawa para tenaga kesehatan yang sudah gugur. Kita pura-pura baik saja, tidak akan membuat ibu-ibu tadi selamat dari tindak penjambretan dan penganiayaan.

Yang perlu kita lakukan adalah membuka mata, melihat apa yang terjadi pada ibu itu tadi. Kenyataannya memang pahit, ternyata penjambret itu berusaha merebut tas yang ditenteng ibu itu. Si ibu berusaha melawan kemudian ia ditendang penjambret dan membuat ibu dan anak itu terpental. Si anak terluka di bagian lengan karena jatuh dengan posisi di bawah ibu.

Sekalipun kita tidak berani membantu si ibu yang tasnya raib dibawa penjambret, kita tidak boleh menutup mata bahwa telah terjadi realitas tindak kriminal.

Berita tidak melulu soal aksi heroik dan hal-hal positif. Yang perlu kita dengar adalah sebuah info yang kredibel dan dapat dipertanggung jawabkan.

Kita tidak bisa menutup mata kalau jumlah kasus positif corona di Indonesia memang masih saja tumbuh ribuan kasus, selain itu tingkat penularan di Indonesia juga masih tergolong tinggi dan jumlah pasien yang meninggal juga masih terus muncul setiap hari. Namun, di sisi lain kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ada peneliti kita yang tengah berusaha menemukan vaksin untuk virus corona.

Menutup mata tidak membuat problemnya hilang, yang perlu kita lakukan adalah membuka mata dan mencermati apa saja yang terjadi dengan tetap waspada dan selalu serius mencari tahu perkembangan informasinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here