Covid-19  hari ini tembus 100 ribu kasus, tepatnya 100,303 kasus terkonfirmasi. Tentu saja, angka ini harusnya membuat kita was-was dan menaikkan tingkat kewaspadaan. Tapi, apa daya, kita justru dibuat biasa saja terkait virus ini, dibuat kalem saja dan seolah kehidupan harus tetap berjalan meskipun korban terus bertumbangan.

Angka ini, anda tahu, seolah hanyalah berupa deretan angka saja di tengah masyarakat kita. Mengapa hal ini bisa terjadi? Paling tidak ada empat tipologi atau pandangan publik kita terkait Covid-19 dan percayalah, anda salah satunya.

Pertama, pandemi ini nyata, kita harus berhati-hati, apalagi jika berjumpa dengan manusia lain–dalam jumlah besar. Sebaiknya ikut menuruti pakar kesehatan dan epidemiologi.

Golongan seperti ini, anda tahu, belakangan dianggap sebagai agen WHO atau antek pemerintah atau hal buruk lainnya. Padahal, inginnya cuma satu; kehati-hati. Belum lagi tuduhan lain seperti ‘golongan penakut’ dan tidak memikirkan ekonomi. Padahal, percayalah, sebagian besar dari mereka hanyalah ingin hidupnya selamat. Hanya itu.

Kedua,  problem pandemi ini riil tetapi kita tetap optimis, tawakkal bahwa Allah akan melindungi kita. Karena itu kita tidak perlu khawatir berlebihan. Tampaknya, negara atau pemerintah kita memilih cara ini dengan pelbagai regulasi maupun penanganan Covid-19 ini. Percayalah, kelompok ini paling banyak di antara kita.

Ketiga, Problem pandemi ini tidak riil, terlalu dibesar-besarkan. Nyatanya sudah banyak korban, kok ya yang mati sedikit? Jika anda berjumpa dengan mereka yang pendapat ini, maka baiknya diajak bicara dan kasih pelbagai data. Jangan sampai, ia masuk ke golongan…

keempat, Problem pandemi ini tidak riil, merupakan konspirasi global. Terjadi rekayasa data sehingga pasien yang tidak mengidap COVID-19 pun diakukan sebagai pasien COVID-19. Karena itu, jalani hidup seperti biasa saja supaya kita tidak terjebak rekayasa.

Golongan keempat ini, biasanya, apa pun yang kita utarakan maupun data yang kita kasihkan hanya akan berujung pada satu hal; Anda memang sampah. Atau, ia bisa jadi seperti yang rama di twitter ini: golongan Covidiot.

Omong-omong, Presiden Jokowi saja ketar-ketir dan marah-marah. Negara juga mengingatkan, apabila persoalan regulasi dan administrasi menjadi kendala penangan virus ini, maka regulasi penghambat tu tersebut harus direvisi agar muncul kecepatan dalam penanganan dampak pandemi Covid-19.

“Jangan sampai ada yang namanya ego sektoral atau ego daerah. Saya kira penting sekali ini segera diselesaikan sehingga aura dalam menangani krisis ini betul-betul ada,” tutur Jokowi.

Tapi, jika melihat pelbagai regulasi dan banyaknya penyangkalan-penyangkalan oleh para pesohor terkait Covid-19, kita tinggal bisa mengelus dada. Sudah 100 ribu, Kawan. Mau sampai berapa lagi Covid-19 memakan korban dan kita tenang-tenang saja.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here