Setiap menjelang akhir tahun, umat Muslim seolah dipaksa terlibat dalam perdebatan yang menjenuhkan dan cenderung jalan di tempat. Beriringan dengan baliho-baliho diskon Natal & Tahun Baru, fatwa sejumlah ulama pun secara sporadis melimpah ruah di lini masa media sosial, dan bahkan merangsek ke grup-grup jama’ah Whatsapp rahimakumullah.

Salah satu ulama yang cukup banyak dikutip namanya adalah Buya Hamka. Tidak saja sebagai seorang penulis Tafsir al-Azhar, rekam jejaknya sebagai ketua pertama MUI menjadikan nama Buya Hamka otoritatif dalam hal fatwa.

Sayangnya, jika ada di antara kamu yang pernah mencatut atau menyebarkan quote Buya Hamka sehubungan dengan fatwa haram mengucapkan selamat Natal, tampaknya harus meluangkan waktu untuk ber-istighfar sebanyak mungkin.

Pasalnya, Buya Hamka sendiri ternyata tidak pernah mengeluarkan fatwa tersebut. Ini seperti diterangkan oleh cucu beliau, Naila Fauzia, lewat akun Twitter @nailafzv.

“Setiap tahun, selalu saja terjadi #PencatutanNamaBuyaHAMKA tiap kali ada perdebatan mengenai halal atau haramnya mengucapkan selamat hari natal. Saya sebagai cucu kandung beliau juga setiap tahun terpaksa harus buat klarifikasi,” tulis Naila.

Lebih jauh, menurut dia, bahwa Buya Hamka pernah mengharamkan “perayaan Natal bersama”, itu benar adanya. Ini tertuang pula dalam buku karya Buya Hamka berjudul “Pribadi dan Martabat”.

Hanya saja, mengatakan bahwa Buya Hamka pernah mengharamkan ucapan selamat Natal kepada mereka yang merayakan, yang demikian itu menurut Naila adalah sebuah kekeliruan.

Buya Hamka, demikian Naila, malah bertetangga dengan umat Kristiani sewaktu tinggal di bilangan Kebayoran Baru.

Dan, sewaktu Natal tiba, sanak famili Buya Hamka pun turut maramaikan hari besar tetangganya yang Kristiani itu dengan memasak rendang untuk kemudian diantar sendiri kepada mereka yang merayakan Natal.

Begitulah, sebagai ulama dan guru besar agama Islam, Buya Hamka telah  mencotohkan sikap saling menghormati dan menjaga persaudaraan antar umat beragama sebagai wujud dari ajaran Islam yg rahmatan lilalamin.

Jadi, buat kamu-kamu yang hobi julidin kebhinekaan dan kerukunan, besok-besok jangan sembarangan ya kalau mau cari pembenaran dari fatwa yang bertebaran di media sosial.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here