Dari sampah plastik, Rumah Literasi Hijau berhasil mendaur ulang hingga menjadi solar untuk nelayan.

Rambutnya gondrong, dialeknya Sunda, tapi dia tinggal di Pulau Panggang dan beraktifitas di pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Agak susah memang mendefinisikan asal muasalnya. hehe

Ia juga fasih bercerita keadaan Jakarta, Depok dan sekitarnya. Maklum, ia lahir dan tumbuh di Depok. Karena itu, sepertinya saya tak perlu ‘basa-basi’ dengan bercerita keadaan Jakarta dan sekitarnya, saya hanya perlu mendengarkannya bercerita.

Namanya Komarullah. Saya memanggilnya Bang Komar, si Manusia Sampah. Saya diperkenalkan oleh bu Mahariah, salah satu penerima Kalpataru 2017. Katanya, Bang Komar inilah yang mengelola sampah di Pulau Pramuka.

Saat bertemu pertama kali, ia sedang mengotak-atik mesin pengelola sampahnya. Di atasnya ada sebotol cairan berwarna seperti madu. Saya yang polos pun asal nyeletuk, “Ini madu dari mana, Bang?”

Mendengar pertanyaan saya, ia pun tersenyum. “Bukan, mas, itu solar hasil pengolahan sampah.” Bang Komar lalu menjelaskan panjang lebar terkait prosesnya. Saya masih tidak percaya. Ia membuktikan dengan menuangkan sedikit cairan itu dan membakarnya.

Wurrrr, seketika api menyambar.

“Nelayan di sini sudah banyak yang pake solar dari pengolahan sampah ini, mas,” ujarnya.

Bang Komar bercerita, ia dan teman-teman aktivis di Rumah Literasi Hijau sedang berjuang agar sampah-sampah yang dikumpulkan dari Pulau Pramuka dan laut sekitarnya tidak diangkut ke Jakarta, karena ujung-ujungnya sampah-sampah itu hanya menumpuk di Bantar Gebang.

Menurutnya, akan lebih baik jika sampah-sampah itu berhasil di kelola dan diselesaikan di Pulau Pramuka, dengan alat-alat pengelola sampah yang sudah cukup memadai.

“Dari pada diangkut ke sana, ngabisin banyak anggaran untuk bayar sampah ke Bantar Gebang, lebih baik anggarannya untuk kesejahteraan warga di sini,” lanjutnya.

Musuh utama pengelolaan sampah sebenarnya bukan hanya literasi sampah kepada warga, tetapi juga kepentingan-kepentingan yang ada pada birokrasinya. Bu Mahariah dan bang Komar sering menemukan kayu-kayu yang ditumpuk di kapal sampah agar sampah-sampah itu lebih berat saat ditimbang. Maklumlah, semakin berat sampah yang ditimbang, semakin banyak pula uang yang dikucurkan, bukan?

Untuk mengantisipasi itu, Bu Mahariah, Bang Komar dan kawan-kawan meminta agar kayu-kayu sampah tak perlu dibawa ke Bantar Gebang, biar dikelola saja oleh teman-teman Rumah Literasi Hijau. Perlahan usaha itu mulai membuahkan hasil. Kayu-kayu tak lagi diangkut ke Bantar Gebang, sampah-sampah plastik dipilah dan dikumpulkan di Rumah Hijau untuk dikelola.

“Kalau dibilang sampah kita berton-ton, sebenarnya nggak juga. Itu yang bikin berat ya, kayu-kayu begitu. Warga di sini saja, untuk ngumpulin sampah plastik sampai 3 Kg, butuh sebulan lebih. Ya artinya, mas Alvin bisa simpulkan sendiri, lah, hehe.”

Bang Komar punya motivasi sendiri terkait aktivitasnya saat ini, dari anak Depok, menjadi anak pulau kecil di Utara Jakarta.

“Saya berharap, dengan ini, saya bisa menebus dosa-dosa yang pernah saya lakukan sebelumnya.”

Memang, benar. Untuk menjadi orang yang punya kontribusi besar, tidak harus menjadi orang besar dan tinggal di kota besar. (AN)