Leluhur kita yang pernah hidup di periode kolonial barangkali tidak pernah membayangkan, bahwa perjalanan peristiwa-peristiwa berdarah yang dialami era itu dapat dinikmati di masa depan sebagai sebuah pameran kesejarahan berwajah artistik? Pakaian, benda pakai, dan alat perang menjelma artefak-artefak seni yang epik. Seluruh pengalaman kemanusiaan mematikan dalam momen penjajahan dikonversi menjadi sajian pertunjukan historiografi yang nir-emosi. Begitulah Museum Bronbeek berhasil mengemas arsip dan produk warisan sejarah kolonialisme Belanda di Hindia Timur (sekarang Indonesia). Berdiri di bawah naungan Kementerian Pertahanan Belanda, museum ini berfokus pada narasi sejarah Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).

Belum lama ini, sebuah pameran karya perupa-perupa Indonesia dihadirkan di Museum Bronbeek. Bertempat di kota Arnhem, Belanda, pameran senirupa bertemakan Story and Tension itu berlangsung dari tanggal 4-23 Mei 2024. Story and Tension merupakan rangkaian kegiatan dari Festival Islam Kepulauan, “The Voices of Archipelago”, yang diinisiasi anak-anak muda penggerak dari PCI NU Belanda (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda) dan Islami.co yang bekerja sama dengan Museum Bronbeek dan Sarang Art Project.

Hairus Salim selaku penulis ekshibisi Story and Tension memaparkan, inisiatif memamerkan lukisan-lukisan para seniman Nasirun, Jumaldi Alfi, Tisna Sanjaya, dan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri) bertolak dari visi konektivitas histori Indonesia dengan Belanda. Konektivitas tersebut dieksplorasi dan dielaborasi secara tematik melalui gagasan ‘dekolonisasi’ yang menjadi benang merah atas kumpulan karya rupa dari keempat seniman (khusus Gus Mus: seniman cum kiai) yang dipamerkan di Museum Bronbeek tersebut.

Entah lebih dimaknai sebagai suatu konsep atau gerakan pembebasan, praktik dekolonisasi merebak di ekosistem akademik, politik, maupun artistik untuk mengaktualisasikan semangat anti kolonial sejak periode pasca kemerdekaan. Upaya kritis ini sebagai respons atas fenomena keterjajahan yang bagi negara-negara ex kolonial melahirkan benih trauma dari generasi ke generasi. Semata-mata agar bisa melepaskan diri sepenuhnya dari jerat pengaruh sisa kolonialisme dalam segala aspek, terutama aspek kesadaran.

Kesadaran dan Kemerdekaan Jiwa

Dalam karya seni, elemen kesadaran menjadi fondasi proses kreatif sekaligus substansi subtil yang coba digemakan ke publik. Jumaldi Alfi, Nasirun, Gus Mus, dan Tisna Sanjaya yang masing-masing membawa tiga karyanya ke Bronbeek, menyajikan gambaran ironi kehidupan masyarakat Indonesia dengan berbagai ketegangan antara tradisi–sejarah–kultur agama–politik negara-bangsa. Ketegangan yang bukan sekadar jalinan kisah di atas kanvas, melainkan kompleksitas dalam realitas sosial yang membutuhkan ruang permenungan sekaligus jembatan penyelesaian masalah.

Tugas utama perupa, tentu saja bukan untuk mengentaskan problem sosio historis yang telah mengakar tersebut, melainkan berpusat pada tindakan menghayati dan mencipta. Di titik itulah ide-ide anak karya mereka sejatinya mampu membuka kunci kesadaran terhadap spektrum khalayak yang lebih luas. Jika targetnya hendak menyasar resolusi konflik dan perubahan politik, maka harus menjangkau kesadaran di lingkaran aktivis, politisi, cendekiawan, serta pengambil kebijakan. Akan tetapi, seberapa besar dari kelompok-kelompok itu yang dengan kepekaan dan rendah hati mau melihat karya seni, dalam hal ini lukisan, sebagai sumber refleksi dan evaluasi?

Isu dekolonisasi bermaksud meluruhkan cara pandang dari alam bawah sadar yang meniru, merepetisi, juga melanggengkan perilaku kaum penjajah dalam hal penindasan hak-hak asasi. Cara pandang, mencakup tatanan nilai dan moral, yang perlu dibongkar lalu direkonstruksi demi mewujudkan martabat kemanusiaan. Salah satu lukisan, milik Tisna Sanjaya berjudul “Rakus” (2023), memvisualkan sifat ketamakan penguasa yang menghisap dan menelan apapun sumber daya di sekelilingnya. Baik berupa harta, jabatan, atau eksploitasi manusia.

Praktik penghisapan semacam itu menunjukkan mental kolonialisme masih menjangkiti masyarakat Nusantara, yang berbeda hanyalah aktor dan korbannya. Dengan demikian, ada ketidaksinkronan antara kemerdekaan raga (negara berdaulat secara hukum) dengan kemerdekaan jiwa (bangsa bermartabat secara mental). Poin ‘kemerdekaan jiwa’ tersebut masuk dalam ranah kesadaran yang terkait dengan mental dan karakter. Misal, memandang Indonesia dengan kacamata eksotisme sebagaimana perupa melukis dengan gaya Mooi Indie patut dikritisi, menurut Jumaldi Alfi dalam karyanya “Re-Reading Landscape Past Future #01” (2024). Sebab, di balik kilau eksotisme tersebut terjadi pergulatan hidup tanpa henti.

Bangkitnya kesadaran untuk merdeka di tengah kungkungan represi dan intimidasi, baik sebagai individu ataupun bangsa, dimanifestasikan Nasirun lewat karya “Rampogan” (2023). Sebuah tradisi lampau, pertunjukan perburuan harimau yang biasa dinikmati para elit Belanda dan priyayi Jawa. Harimau tersebut adalah simbol kekuatan karakter yang berupaya mempertahankan (jati) dirinya dalam tantangan dan ketegangan arus zaman. Tidak menindas, meski sebagai penguasa; dan tidak tunduk, saat ingin dikuasai. Untuk menggapai maqam berdaulat dan bermartabat tersebut, manusia Indonesia hakikatnya akan mengalami proses pengasahan terus-menerus “menjadi” (becoming) kepribadian yang merdeka jiwa-raga dalam rentang sejarah peradaban.