oleh Ustadz. Abu Muhammad Syihabuddin Al-Atsary

Kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla- merupakan salah satu pondasi keimanan. Yaitu kecintaan yang berupa pengagungan hati dan pengakuan lisan, berikut realisasi dari hal-hal yang menjadi konsekuensinya, termasuk didalamnya mengikuti Sunnah Nabi-Nya -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-didalam mewujudkan ‘ubudiyyah kepadan-Nya.

_ MENGIKUTI RASULULLAH SEBAGAI BUKTI CINTA KEPADA ALLAH _

Al-Imâm Ibnul Qayyim -Rahimahullâh- mengatakan : “Mahabatullâh (kecintaan kepada Allâh -‘Azza wa Jalla-) adalah sebuah kelaziman (keharusan) bagi yang mengaku beriman kepada-Nya, baik dia lelaki maupun perempuan. Bahkan cinta ini termasuk syarat laa ilâha illlallâh, dan merupakan asas atau landasan dalam beramal.” _ Ad-Dâ’ wad-Dawâ’ : 303.

Allâh -‘Azza wa Jalla- berfirman :

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Jika Kalian (benar-benar) mencintai Allâh, maka ikutilah aku; niscaya Allâh mencintai Kalian dan mengampuni dosa-dosa Kalian.’ Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” _ QS Ali Imran : 31.

Al-Imâm Al-Hasan Al-Bashriy -Rahimahullâh- dan selainnya dari Salafush-Shâlih berkata : “Ada orang-orang yang mengaku mencintai Allâh -Subhânahu wa Ta’âlâ-, maka Allâh -Subhânahu wa Ta’âlâ- uji mereka dengan ayat ini.” _ Tafsiir Ibnu Katsiir : 2/25.

Al-Imâm Ibnul Qayyim -Rahimahullâh- mengatakan : “Karena itulah, kata ayat ini dinamakan ayat mihnah/ujian.” _ Tafsiir Ibnu Katsiir : 2/25.

Al-Imâm Ibnu Katsiir -Rahimahullâh- berkata : “Ayat yang mulia ini merupakan hakim pemutus bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allâh -Subhânahu wa Ta’âlâ-, sementara orang itu tidak di atas thariiqah muhammadiyah (yaitu jalan yang ditempuh oleh Râsul Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-). Orang itu dusta dalam pengakuan cintanya sampai dia mau mengikuti syariat Muhammad -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, tunduk pada ajaran nabawiyyah dalam seluruh ucapan, perbuatan dan keadaannya.” _ Tafsiir Ibnu Katsiir : 2/25

Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân Ibnu Nâshir As-Sa’diy -Rahimahullâh- ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan : “Tidaklah cukup bagi seseorang hanya mengklaim semata bahwa ia mencintai Allâh. Ia harus jujur dalam klaimnya tersebut. Dan diantara tanda kejujuran klaimnya adalah ia mengikuti Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- dalam segala keadaan, dalam perkataan dan perbuatan, dalam pokok agama maupun cabangnya, zhahir dan batinnya, barangsiapa yang mengikuti Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- maka hal ini menunjukkan kejujuran klaim cintanya kepada Allâh.” _ Tafsir As-Sadiy Surat Ali Imran : 31.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullâh berkata : “Barangsiapa yang mengklaim dirinya mencintai Allâh -‘Azza wa Jalla-, akan tetapi ia tidak mengikuti Sunnah Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-, maka sungguh ia telah berdusta.” _ Majmu’ Fatawa : 8/360.

Asy-Syaikh Shalih Fauzân Al-Fauzân -Hafizhahullâh- menjelaskan: “Dalam ayat ini ada penjelasan tentang bukti cinta kepada Allâh, manfaat dan buahnya. Bukti dan tanda cinta kepada Allâh adalah mengikuti tuntunan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam-. Manfaat cinta kepada Allâh serta buahnya adalah mendapatkan kecintaan dari Allâh, rahmat-Nya serta ampunan-Nya.” _ Al-Irsyâd Ilâ Shahiihil I’tiqâd : 55.

Maka di antara konsekuensi dari mencintai Allâh dan mengimani kerasulan Rasûlullâh -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- adalah mengikuti syari’at Beliau yang tercakup di dalamnya urusan ibadah. Bahkan mengikuti apa yang Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- syari’atkan merupakan salah satu hak Beliau -Shallallâhu ‘Alaihi Wassalam- yang teragung yang harus Kita tunaikan. __ Syarh Tsalâtsatul Ushûl [Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Shâleh Al Utsaimiin] : 98

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here