Islam memang satu, tapi pemahaman terhadap Islam bisa banyak. Dalam Islam sendiri ada banyak aliran pemikiran dan madzhab, baik dalam bidang akidah maupun fikih. Bagi sebagian orang perbedaan pendapat seperti itu membingungkan, tapi bagi orang yang belajar agama, perbedaan madzhab merupakan kenikmatan. Ragam aliran itu tidak perlu dipusingkan, apalagi sampai saling menyalahkan, toh semua aliran dalam Islam ingin menuju kebenaran.

Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Semua saudara kita, bahkan semuanya mau mengikuti sunnah. Semua mau ikut berjamaah. Semua mau mengikuti Nabi. Hanya jalurnya beda-beda.”

Kalau ditanya pada masing-masing aliran, pasti mereka semua ingin mengikuti perintah Allah dan Nabi Muhammad. Semuanya pasti ingin masuk surga, dan takut masuk neraka. Hanya saja pemahaman mereka tentang ajaran Nabi Muhammad itu bisa berbeda-beda, apalagi tidak ada satupun di antara kita yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad. Semuanya hanya bisa menafsirkan dari teks yang ada. Penafsiran terhadap teks agama bisa berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya.

Saking lumrahnya perbedaan dalam Islam, dalam satu madzhab saja itu rinciannya juga macam-macam. Seperti yang dikatakan Prof. Quraish Shihab, dalam aliran Ahlussunnah wal Jama’ah saja ada banyak aliran. Bahkan salafi juga mengklaim bagian dari Ahlussunnah. Dalam fikih, ahlussunnah terdiri dari beberapa madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang akidah: ada Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

“Syiah begitu juga, ada bermacam-macam. Ada yang sesat, tapi ada yang beda dengan kita, tidak bisa kita sesatkan. Itu Syiah Zaidiyyah. Di Yaman Syiah Zaidiyyah. Buku-bukunya diajarkan di pesantren. Nailul Awthar diajarkan di pesantren. Syiah Imamiyah. Kami di al-Azhar diajarkan ini semua. Itu sebabnya, bukan muji diri, lulusan al-Azhar itu lebih terbuka dibanding lulusan yang lain.” Tutur Prof. Quraish Shihab.

Perbedaan pendapat tersebut tidak bisa ditolak. Ia bagian dari anugerah Tuhan. Selama seseorang mengakui Allah dan Nabi Muhammad tidak boleh dikafirkan. Apalagi sampai menutup pintu surga untuk orang lain. Prof. Quraish Shihab menegaskan, “Selama Syahadat, masuk surga. Kunci surga bukan di tangan ustadz. Kunci Surga di tangan Allah. Minta sama Allah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here