Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy menjadi gunjingan publik. Pasalnya, ia bicara soal keluarga miskin di Indonesia.

Bagi Muhadjir, jumlah keluarga miskin yang masih tinggi di Indonesia adalah akibat dari pernikahan sesama keluarga miskin.

“Sebagaimana kita ketahui bapak ibu sekalian, rumah tangga miskin di Indonesia itu jumlahnya masih sangat tinggi, masih sekitar 76 juta rumah tangga miskin di Indonesia itu,” kata Muhadjir, dikutip Detikcom.

Lantas, Muhadjir menyebut bahwa jumlah rumah tangga miskin yang terus meningkat itu lantaran keluarga miskin menikah dengan keluarga miskin lain, sehingga memunculkan rumah tangga miskin baru.

“Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru,” terangnya lebih lanjut.

Untuk itu, dia menyarankan agar mata rantai rumah tangga miskin yang semakin hari terus bertambah itu diputus. Salah satu program yang dijalankan oleh pihak Muhadjir saat ini adalah pembekalan bagi para calon pengantin.

Pembekalan calon pengantin ini, kata Muhadjir, sifatnya berupa perencanaan membangun keluarga antara dua pasangan yang hendak menikah. Pernikahan tanpa perencanaan bukan tak mungkin akan menjadi salah satu rumah tangga baru yang miskin.

Muhadjir menyebut perencanaan juga tak hanya berkisar pada bagaimana cara menjalani pernikahan, tetapi juga berkaitan dengan perencanaan memiliki keturunan, ekonomi, hingga perencanaan masa depan anak.

“Tentu saja harus dimulai dengan adanya perencanaan keluarga, karena itu harus ada bimbingan rumah tangga calon pengantin yang itu menjadi program utama Kemenko PMK,” ujarnya.

“Itu kita harapkan rumah tangga baru akan siap untuk menyiapkan generasi Indonesia yang maju, yang unggul sesuai arahan dari Bapak Presiden,” tambah Muhadjir.

Meski begitu, dia mengatakan bilamana program bimbingan pranikah yang mestinya mulai berjalan 2020 ini ditunda lantaran pandemi virus corona (Covid-19). Rencana bimbingan pranikah atau pembekalan kepada calon pengantin telah disampaikan sejak 2019 lalu.

“Tapi karena kena Covid-19 terpaksa kita tunda,” ujar mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu.

Yah, begitulah. Di negara +62 ini kita memang dilarang miskin. Sebab, udah miskin, masih disalahin lagi!!

Padahal kalau mau lebih mudah, untuk mengatasi kemiskinan yang semakin meningkat itu sebetulnya gampang saja: turunkan standar kekayaan yang dibikin pemerintah, maka angka kemiskinan akan landai, tanpa perlu repot-repot nyalahin sesama keluarga miskin yang menikah.

Lagi pula, apa yang ditudingkan oleh Pak Muhadjir itu gak sepenuhnya benar kok. Buktinya adalah pemuda ini:

 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here