Islam merupakan agama yang diyakini, dianut, dipelajari, kemudian diamalkan, baik aspek lahirnya maupun substansinya. Islam bukan berarti berambisi untuk mencapai keselamatan dan kedamaian dunia dan akhirat diri sendiri, akan tetapi keselamatan dan kedamaian juga terhadap orang lain.

Islam sebagai agama dengan tegas menyatakan bahwa ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Rasulullah Muhammad SAW merupakan utusan Allah yang di pundaknya ajaran Islam yang penuh dengan nilai humanis, pembela kebenaran dan hak asasi manusia (HAM). Islam adalah kabar gembira bagi seluruh isi dunia, karena ajaran dan nilai-nilainya mengangkat derajat manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Tuhan.

Dalam al-Qur‘an, surah al-Anbiya:107, dijelaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi bukan lain adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Inti dari ajaran Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bersifat universal. Disebut universal disebabkan karena nilai-nilai Islam dapat dengan mudah diajarkan kepada siapapun, di manapun serta meliputi segala aspek sosial maupun individu. Ajaran Islam memuat kandungan dan pemahaman yang menjadikannya tidak hanya sebatas agama bagi umat Muslim melainkan juga pandangan dunia (woldview) untuk seluruh manusia (Rahmat Lil Alamin).

Islam yang disandarkan pada konsep dasar kasih sayang dan cinta bagi seluruh alam merupakan visi utama diturunkanya agama Islam itu sendiri. bagaimanapun harus mampu memberikan kesejukan dan kedamaian dalam menyikapi setiap perbedaan dan pertentangan yang muncul dalam masyarakat sehingga dapat mengayomi setiap manusia yang terlahir di dunia tanpa memandang asal usulnya.

Makna Rahmat lil Alamin yang disandarkan pada Islam diambil dari kata rahmah (Harjani. 2017). Rahmah dalam kajian tekstual dan kontekstual yang terdiri dari dua arah yakni vetikal dan horisontal atau yang dikenal dalam Islam dengan istilah hablu minallah dan hablu minannas. Rahmah dimaksud adalah dengan menciptakan rasa cinta, keakraban, kelembutan dan kasih sayang tanpa mengesampingkan nilai keseimbangan yaitu tegas dan bijaksana.

Seluruh muslim harus memegang teguh dasar tersebut sebagai landasan dalam mengahadapi persoalan kehidupan yang berkembang. Akan tetapi banyaknya golongan dan kelompok umat Islam yang berbeda -beda dalam memahami makna Rahmat lil Alamin sebagian dari mereka sampai keluar dari makna Rahmat lil Alamin. Terbukti dengan banyaknya propaganda buruk terhadap Islam di media sosial. Aksi intoleran dan kekerasan yang disandarkan atas nama Islam sangat bertolak belakang dengan Islam sebagai agama rahmat yang tujuannya menciptakan kedamaian dan keselamatan untuk alam semesta.

Lantas Bagaimana mungkin dunia akan meyakini bahwa Islam adalah agama Rahmat lil Alamin apabila ekspresi serta manifestasi para pemeluknya intoleran dan membenarkan kekerasan yang bersifat verbal maupun fisik terhadap yang lain hanya karena yang lain berbeda pendapat tidak satu visi ataupun berbeda yang menjadi sosok panutan.

Ekspresi pemeluk Islam yang kasar dan keras ini dilandaskan oleh bayang-bayang kecemasan dan ketakutan terhadap orang lain yang berbeda dengan dirinya. Atau akibat ketidakmampuan diri, keterbatasan, atau kekerdilan dalam memahami teks-teks ketuhanan/keagamaan ataupun barangkali mengikuti panutan yang salah. Dengan dasar itu kemudian mereka mempertontonkan keangkuhan mereka seakan-akan memandang yang lain diluar mereka tidak ada yang benar.

Pemahaman penganut Islam yang seperti inilah yang menjadikan citra Islam tercoreng dan direndahkan di mata dunia sebagai agama yang tidak ramah dan bahkan kasar. Karena pada dasarnya agama apapun hadir tidak untuk menciptakan keonaran, kekacauan sosial, dan memusuhi ciptaan Tuhan melainkan untuk mempersatukan, mempersaudarakan, menciptakan kedamaian dan kasih sayang.