Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan beberapa keutamaan menjadi umat Nabi Muhammad. Pada artikel berikut, akan dilanjutkan lagi sebagian keutamaan umat Nabi Muhammad.

  1. Ditutup rapat-rapat aibnya

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, dahulu, Jika Bani Israil melakukan dosa atau maksiat, maka pada pagi harinya di pintunya terdapat sebuah tulisan yang menunjukkan bahwa ia telah melakukan dosa, berikut juga hukuman yang harus diterima.

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang aibnya selalu ditutup rapat. Bahkan dilarang mengumbar aib orang lain. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukharī dan Muslim disebutkan,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang menampak-nampakkannya dan sesungguhnya di antara menampak-nampakkan (dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Allah telah menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata: ‘Wahai fulan semalam aku telah melakukan ini dan itu, ‘ padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah’.”

  1. Yang dikenai hukuman hanyalah tindakan badan, bukan perbuatan hati

Para umat nabi terdahulu pernah protes kepada nab-nabinya karena mereka mendapatkan hukuman atas perbuatan yang dilakukan dengan anggota badan dan perbuatan yang dilakukan oleh hati. Namun mereka kemudian dianggap kafir karena menolak perintah Tuhan. Mereka berkata “sami’na wa ashaina” (Kami menaati dan kami melanggarnya)

Sedangkan umat nabi Muhammad, mereka akan bilang “Sami’na wa atha’na” karena bagi umat nabi Muhammad, yang dikenai hukuman hanya tindakan dengan anggota badan, bukan yang ada dalam hati. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ

Allah SWT hanya mewajibkan sesuatu yang bisa dilakukan oleh hamba-Nya. Mereka akan diberi pahala atas perbuatan baik yang dilakukan (oleh anggota tubuh mereka) dan mereka akan diganjar dosa atas perbuatan buruk mereka.

Dalam ayat tersebut dijelaskan secara gamblang bahwa mereka hanya diberi pahala dan dosa atas perbuatan anggota tubuh mereka, bukan yang tersimpan dalam hati mereka.

  1. Tidak dihukum saat lupa

Umat Nabi Muhammad SAW tidak dihukum saat lupa, salah, atau meninggalkan kewajiban karena dalam kondisi tertentu, seperti sakit, dan lain-lain. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban, al-Hakim, Ibnu Majjah, al-Thabarani, al-Daruqutni dengan sanad hasan menurut an-Nawawi.

Hal ini tentu berbeda dengan umat nabi terdahulu yang disegerakan hukumannya ketika melakukan sebuah dosa, baik kecil maupun besar. Menurut Sayyid Muhammad Alawi, hukuman yang diterima bisa berupa keharaman makan makanan tertentu.

  1. Diperbolehkan bekerja walaupun hari raya

Umat Yahudi terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dilarang untuk bekerja selama hari Sabtu, karena hari tersebut adalah hari raya mereka. Mereka harus beribadah dan dilarang bekerja. Namun umat Yahudi saat itu sangat licik. Mereka sengaja menebar jala pada hari Jumat dan memasangnya di sungai. Sehingga walaupun tidak bekerja, mereka tetap mendapatkan uang.

Allah lalu menghukum mereka dengan ‘wajah kera’ (kūnū qiradatan khāsyi’īn) surat al-Baqarah 65.

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِـِٕيْنَ – ٦٥

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”

Ada dua tafsiran atas ayat ini. Pertama, mereka memang benar-benar berubah menjadi kera. Kedua, mereka dipermalukan secara sosial, ‘wajah kera’ diartikan sebagai muka yang penuh malu.

Namun larangan bekerja di hari raya ini tidak berlaku bagi umat Nabi Muhammad. Mereka diperbolehkan bekerja kapan saja, walaupun saat hari raya. Dalam surat al-Jumuah hanya disebutkan larangan bekerja hingga menjelang shalat Jumat, setelah itu, umat Nabi Muhammad malah diperintahkan untuk bekerja.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

  1. Musibah Wabah Bukanlah Azab melainkan Rahmat

Buat para penonton sinetron azab, pasti akan terbawa dan main vonis bahwa semua musibah yang menimpa orang atau kelompok terntu adalah azab. Padahal ini hanya terjadi pada umat-umat sebelumnya.

Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky menyebut bahwa umat terdahulu memang mendapatkan musibah dan wabah sebagai azab. Namun bagi umat Nabi Muhammad, musibah dan wabah adalah rahmat dan ujian, agar umat Nabi Muhammad semakin meningkat ketakwaannya. Itulah keutamaan menjadi umat Nabi Muhammad.

Bahkan, al-Razi mengutip surat al-Nahl ayat 61, jika semua orang yang melakukan salah atau maksiat mendapat azab, maka tidak akan ada lagi manusia di bumi ini.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ

Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan.

Menurut al-Razi, yang dimaksud dengan waktu yang ditentukan adalah hari pembalasan kelak.

Itu lah beberapa lanjutan dari keutamaan menjadi umat Nabi Muhammad. Beberapa bagian lain bisa dibaca pada artikel bagian terakhir.