Ternyata sudah enam kali Israel menyerang Masjidil Aqsa. Hal ini terhitung semenjak penyerangan pada tahun 1988.  Serangan terhadap tempat suci tiga agama ini dinilai oleh hukum internasional sebagai kejahatan perang .

Pada tahun 2021 ini, pasukan Israel menyerang saat para muslim melakukan doa khusus menyambut malam Lailatul Qadar. Polisi Israel menyerbu dengan menggunakan gas air mata dan peluru untuk membubarkan mereka yang kemudian disambut dengan balasan dari para jamaah.

Baca juga: Kompleks Al Aqsa Membara Lagi

Keganasan pasukan Israel ini digambarkan belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam satu dekade ini telah terjadi enam penyerangan terhadap Masjidil Aqsa dan sekitarnya. Berikut beberapa catatan ketika Israel menyerang Masjidil Aqsa, dilansir dari laman middleasteye.net.

Pertama, serangan pada Juli 1988. Peristiwa ini ditandai dengan penggalian yang dilakukan oleh para pekerja Israel untuk kepentingan arkeologi. Peristiwa ini terjadi di dekat Masjidil Aqsa dan Tembok Barat. Para jamaah mencoba menghentikan penggalian itu dengan melempari batu dan botol. Akibatnya kerusuhan pun pecah dan melukai 26 pengunjuk rasa.  Penggalian dimulai pada intifada pertama sekitar tahun 1987 dan berlanjut hingga 1993.

Kedua, penyerangan pada bulan April  1989. Saat itu, pihak Israel mencoba membangun Kuil Ketiga. Peristiwa ini bermula ketika kelompok ultransionalis religius Israel memutuskan membangun kuil ketiga bertepatan dengan perayaan pawai tahunan di Temple Mouny yang berada di kompleks Masjidil Aqsa. Kemudian terjadi pergolakan di mana pasukan Israel menembakkan gas air mata dan peluru tajam ke udara.

Ketiga, peristiwa berdarah pada Oktober 1990. Kejadian ini menewaskan 21 orang warga Palestina. Hal ini dipicu ngototnya kelompok ekstrimis Yahudi untuk membangun Kuil Ketiga dengan meletakkan batu pertama mereka. Bentrokan tak terelakkan dan pihak keamanan Israel menembakkan gas air mata dan tembakan peluru tajam. Peristiwa ini dikenal sebagai Senin Hitam. Pasukan Israel menembak warga secara membabi buta.  Ada 21 warga Palestina gugur dan lebih dari 100 luka-luka, dan 270 lainnya ditangkap.

Keempat,  Oktober 2000 yang dikenal dengan Intifada al Aqsa. Peristiwa ini dipicu kunjungan Perdana Menteri Israel kala itu Airel Sharon. Saat itu Sharon mengunjungi di Kompleks al Aqsa dengan keamanan sekitar 400 tentara. Tentu hal ini memancing reaksi keras dan memicu protes.  Setelah itu lahirlah intifada yang menewaskan 6.371 rakyat Palestina dengan 1317 di antaranya anak-anak. Tercatat pula pihak Israel juga kehilangan 1.083 warganya selama intifada tersebut.

Kelima, September 2015  ketika Masjidil Aqsa mendapat kunjungan Yahudi esktrimis. Peritiwa itu dipicu saat jamaah dikeluarkan dengan paksa oleh tentara Israel karena ada kunjungan dari kelompok Yahudi ekstrimis setelah solat subuh. Maka protes meledak. Tentara Israel menembakkan gas air mata dan peluru karet serta menghalangi jamaah ke masjid.

Memang sudah beberapa kali Israel menyerang Masjidil Aqsa. Hal ini jelas menjadi catatan buruk dalam sejarah dunia.

Keenam, Juli 2017. Peristiwa yang dikenal dengan Hari Kemarahan ini dipicu oleh kebijakan PM Benyamin Netanyahu. Dalam putusannya, Netanyahu memperkenalkan detektor logam dan kamera pengenal wajah di kompleks Masjidil Aqsa. Ia berdalih pemasangan ini untuk menjaga keamanan. Keputusan Netanyahu langsung diprotes warga Palestina. Para aktivisnya menyerukan hari kemarahan. Peristiwa ini menjadi pemicu tewasnya 6 orang Palestina oleh pasukan Israel. (AN)