Tahun 2014, sepulang dari program summer school di Wina Austria, secara tiba-tiba saya diundang oleh salah satu pesantren mahasiswa di Jogja. Saya diminta untuk mengisi sebuah acara bedah film yang saat itu sedang ramai diperbincangkan, 99 Cahaya di Langit Eropa (2013).

Saya, yang saat itu baru saja menyelesaikan kuliah S1, merasa tidak punya kapasitas mumpuni untuk membedah sebuah film. Alasan yang diajukan oleh panitia ternyata sederhana, “Mas kan baru pulang dari Wina, Austria. Nanti sharing pengalaman seperti Mas Rangga (tokoh utama di film 99 Cahaya di Langit Eropa) selama di sana.”

Saya terkekeh mendengar alasan tersebut. Saya bukan Rangga dan saya pun saat itu tidak tertarik amat dengan filmnya. Apalagi untuk berbagi seputar kehidupan sebagai mahasiswa Muslim di Eropa, karena toh saya di sana hanya menempuh summer school studi satu bulan saja, sehingga saya anggap pengalaman saya tidak bisa memberi gambaran yang utuh.

Akhirnya permintaan itu saya iyakan. Dari situ saya dipaksa memahami betapa perjalanan ke luar negeri menjadi idaman bagi banyak santri dan mahasiswa saat itu. Pengalaman kecil itu menyadarkan saya pada dua hal: Indonesia sedang dilanda tren film-film yang menyodorkan ‘inspirasi’ melintasi batas ke luar negeri, dan riuhnya film dengan tema semacam itu membuat pergi ke luar negeri menjadi impian bagi banyak anak muda Muslim saat itu.

Enam tahun berselang, ingatan itu dihidupkan lagi oleh Madani Film Festival 2020. Pada gelarannya yang ketiga, Madani Film Fest mengambil topik “Film Dakwah dan Migrasi Transnasional” sebagai salah satu mata acaranya. Film-film dengan tema serupa disediakan melalui platform digital untuk dinikmati secara gratis. 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Emak Ingin Naik Haji (2009), Kukejar Cinta ke Negeri Cina (2014) dan Haji Backpacker (2014) adalah di antara judul yang lolos kurasi dan ditayangkan dalam festival film ini di platform Kwikku.com

Melalui tulisan ini saya merangkum sedikit dari perbincangan saya dengan Mas Hikmat Darmawan, Board Madani Film Festival, dan Feby Indirani, penulis karya sastra Bukan Perawan Maria dan Memburu Muhammad, pada sesi diskusi Islami Talk oleh Islamidotco. Untuk sesi diskusi selengkapnya bisa disaksikan lewat tautan ini.

Tema Mencari Islam ke Luar Negeri dan Pasar Kelas Menengah Muslim

Film bertema Islam dan perjalanan menembus batas negara dan benua pernah meramaikan dunia perfilman Indonesia pada dekade awal 2000an. 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) tentu bukan yang pertama. Sebelum publik terkesima dengan tokoh Mas Rangga yang kuliah PhD di Universitas Wina, pertengahan dekade 2000an menghadirkan film Ayat-ayat Cinta (2008) besutan Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel laris Habiburrahman el-Shirazy.

Rasanya tidak salah ketika Ariel Heryanto (Identitas dan Kenikmatan, 2015) menabalkan film ini sebagai penanda gelombang baru budaya populer Islam di Indonesia. “Untuk pertama kalinya anak muda Muslim menemukan representasi diri mereka, atau setidaknya citra yang mereka idamkan” kata Ariel. Film ini mengisi absennya representasi umat Islam di layar lebar. Setelah anak muda gaul Jakarta menemukan dirinya lewat tokoh Rangga di film Ada Apa dengan Cinta (2002), anak muda Muslim berhasil menemukan sosok “Rangga” yang Islami di layar bioskop lewat penokohan Fahri, tokoh protagonis mahasiswa Al-Azhar yang santun, pintar dan taat beragama.

Novel Ayat-ayat Cinta hadir bertepatan saat saya belajar di Madrasah Aliyah dan tinggal di pesantren pada pertengahan tahun 2000. Dari novel yang kami baca secara bergiliran sampai lecek dan kusam, mimpi untuk “menjadi Fahri” dan bisa melanjutkan kuliah di Al-Azhar pun menyeruak di kepala anak-anak pesantren di kabupaten Kudus saat itu. Termasuk saya sendiri, dan mungkin ribuan santri di pesantren lain.

Feby Indirani, penulis buku Memburu Muhammad, menjelaskan bahwa tema migrasi lintas negara adalah hal yang sangat disenangi oleh orang Indonesia, terlepas itu dibingkai dalam konteks dakwah atau tidak. Feby yang sempat tinggal di London dan menerima beasiswa Chevening dari Kerajaan Inggris menilai tema perjalanan ke luar negeri adalah “Indonesian dream” yang sangat khas anak-anak Indonesia.

Feby merujuk pada beberapa karya sastra yang juga diadaptasi ke layar lebar, seperti Negeri 5 Menara (2012) karya A. Fuadi yang mempopulerkan anak pesantren Gontor dan kredo kesuksesan man jadda wajada, juga tokoh Ikal, siswa sekolah Muhammadiyah di dalam film Laskar Pelangi (2008) yang menggenggam impian meraih beasiswa ke Sorbonne, Prancis. Itu merupakan impian banyak orang Indonesia, yang juga membentuk pasarnya sendiri.

Di tengah kritik yang menyebut tokoh Fahri terlalu ‘malaikat’, kharisma seorang Fahri sebagai sosok ideal seorang Muslim tidak terbantahkan. Bahkan sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu berulang kali diberitakan “menyeka air mata” menonton film ini, yang rilisnya bertepatan ketika pemerintahan SBY sedang mesra dengan kelompok Islamis konservatif.

Habiburrahman el-Shirazy, penulis novel Ayat-ayat Cinta sendiri, justru melontarkan pernyataan mengejutkan yang saya kutip dari Hikmat Darmawan “Tokoh Fahri yang sangat ngetop di Ayat-ayat Cinta, popularitasnya mencerminkan betapa dekadennya masyarakat Indonesia sekarang, ketika disodorkan tokoh Fakhri sudah dianggap sudah Islami banget.”

Hikmat Darmawan mengatakan bahwa kehadiran film tersebut tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan entertainment kelas menengah Muslim yang di masa sebelunya akrab dengan media cetak gaya hidup Islami di tahun 90an. Sejak awal 90an Muslim terdidik dan sejahtera menyeruak ke permukaan dan telah terwadahi lewat momentum berdirinya ICMI. Secara politik, perubahan arah angin politik Orde Baru yang makin menghijau menjelang senjakalanya turut menjadi lahan subur terbentuknya komunitas sastra yang lahir dari para aktivis dakwah kampus, kebanyakan di kampus sekuler.

Kalangan aktivis dakwah yang sebelumnya akrab dengan novel genre teenlit Islami yang dipelopori oleh Forum Lingkar Pena, pelan-pelan beranjak dewasa dan kebutuhan akan representasi Islam di layar lebar menjadi semakin kompleks. Sehingga mulai tahun 2000an genre novel remaja Islam (NORI) menjadi pasar yang fixed. Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman lahir menyambut pasar itu, dengan positioningnya yang sudah masuk pada konflik dewasa dan makin kompleks.

Pencarian Nilai Spiritual atau Narsisme Muslim Kelas Menengah?

Kembali ke tema film Islam dan migrasi. Hikmat Darmawan mengatakan, film ini bisa masuk ke dalam kategori film dakwah, di mana menempatkan Islam sebagai value yang diyakini, sebagai solusi atas permasalahan sosial yang ditampilkan sebagai cerita. Selain itu ada trajectory yang mengarahkan perkembangan karakter di dalam filmnya dalam mencari makna dan spiritualitas, dari kehidupan yang sebelumnya hedonis, sekuler, menuju ke pemaknaan agama yang mengubah karakternya.

Hal ini senada dengan kategorisasi Ekky Imanjaya dalam menguraikan film profetik dalam buku Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam. Mengutip Kuntowijoyo, yang menegaskan bahwa di dalam kesenian Islam tidak ada istilah seni untuk seni. Seni harus selalu bertujuan, bertendensi, yang bertujuan untuk memanusiakan, membebaskan, dan oerientasi transenden.

Akan tetapi, film bertema Islam dan migrasi tersebut menjadi sedikit problematis ketika konflik yang dibangun justru leading menuju ke wilayahnya yang sifatnya sangat personal, juga khas dengan persoalan khas keberagamaan ala kelas menengah perkotaan.

Feby Indirani juga menggarisbawahi problem tersebut. Dalam film yang berbingkai dakwah dan Islam, biasanya dihadapkan pada benturan budaya dan nilai yang sifatnya cukup personal, seperti persoalan makanan halal, keputusan kepantasan berpakaian, berhadapan dengan upacara ala Barat, menimbulkan representasi pergulatan batin dan kelabilan seorang muslim dalam menghadapi benturan budaya dan nilai-nilai yang kontras dari apa yang dia yakini.

Kurang lebih ada tiga aspek yang ditekankan Feby. Pertama, bahwa dilema-dilema yang dihadirkan dalam film masih terbatas pada unsur permukaan, identitas yang obvious dan visible. Dilema itu lagi-lagi bersifat sangat personal dan sangat bisa diselesaikan secara personal. Namun dalam layar film, problem personal itu dicitrakan mewakili problematika umat Islam secara keseluruhan.

Kedua, tafsir yang digunakan dalam menyikapi persoalan hanya sepihak saja dan tidak memberi ruang diskursus sebagai sebuah perdebatan. Tokoh protagonis dalam film-film bertema Islami juga menjadi sorotan Feby. Tokoh-tokoh yang beyond manusia normal, yang tanpa cacat cela dihadirkan sebagai gambaran ideal seorang muslim. Karakter protagonist tanpa cela ini tidak memberi gambaran tentang dilemma manusia biasa.

Film-film bertema Islam dan migrasi, kadang mengetengahkan Islam ala Indonesia sebagai balancing atas nilai modernisme, sekuler, atheisme di satu sisi, dan nilai Islam ekstrem yang mentoleransi kekerasan di sisi lain. Namun ketika bicara dari sisi ideologi, sebenarnya yang muncul adalah semangat pan-Islamisme yang lahir dari konteks respon kekalahan umat Islam terhadap kolonialisme dan westernisasi. Perasaan keterancaman atas dan romantisme membangkitkan kejayaan masa lalu merupakan khas gagasan pan-Islamisme yang pernah disebut oleh Hikmat sebagai “Nalar Kekalahan” umat Islam.

Dari segi nilai yang dimunculkan, menurut Hikmat, bahwa nilai islam yang disodorkan dalam film-film seperti 99 Cahaya di Langit Eropa adalah panggung nilai Islam yang dianut kalangan Muslim kelas menengah yang sebenarnya hidup dengan penuh privilege. Alih-alih menampilkan misi universalisme ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, secara tidak langsung film-film dengan imaji ketokohan ala Fahri dan Rangga bisa terjebak dalam narsisme Muslim kelas menengah yang sedang disibukkan dengan urusan personal yang bisa mereka selesaikan sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here