“Shalat seringkali diajarkan hanya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, tanpa dilengkapi dengan pemahaman yang baik soal apa itu shalat dan untuk apa ia dilaksanakan.”

Pernahkah kamu merenungkan tentang “Apa itu shalat dan untuk apa kita melaksanakannya? Apakah shalat yang kita dirikan sudah baik dan benar, sehingga memberi energi positif untuk jiwa dan raga?” Jika belum, apa yang salah dengan shalat kita?

Banyak orang yang mempelajari shalat hanya dari pengertian dan tata caranya saja. Tanpa menggali lebih dalam esensinya. Padahal, jika kita merenungkan filosofi shalat, ada begitu banyak nilai, makna serta manfaat dari ibadah ini.

Secara harfiah, shalat berarti doa. Sedangkan dalam operasionalnya, shalat merupakan ritual peribadatan yang terdiri dari sekumpulan ucapan dan perbuatan, diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Di samping dua arti ini, Irfan L. Sarhindi dalam bukunya, Filosofi Shalat mengungkapkan beberapa makna lain, pertama, shalat sebagai kebaikan (khairu maudhu’in). Sejatinya, shalat dilaksanakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan ke dalam hati Muslim.

Kedua, shalat sebagai mikrājul mukmin dan muwājahah (titik temu), artinya ibadah ini merupakan kesempatan seorang pecinta untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Ketiga, saktah, shalat memberi “jeda” rutin bagi manusia untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas duniawi, demi mengingat tujuan hidup sebagai seorang hamba.

11 Nilai shalat

Lebih lanjut, Co-Founder Podcastren ini menemukan 11 nilai, lima misi, dan dua outcome dari shalat. 11 nilai itu berupa kontrol diri, introspektif, disiplin, integritas, loyalitas, rendah hati, istiqomah, penuh syukur, kasih sayang, respectful, serta mindful.

Jika kita perhattikan, 11 nilai ini diwujudkan melalui berbagai gerakan dan aksi dalam shalat. Misalnya nilai kontrol diri. Allah Swt telah berfirman bahwasanya shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar (Al-Ankabut: 45). Dalam shalat, kontrol diri ini diinternalisasi melalui “ihram” shalat.

Tak hanya haji yang memiliki ihram, shalat pun demikian. Ihram shalat adalah takbir, ia dimaknai sebagai tahrim, pintu masuk menuju ihram shalat. Artinya, saat melaksanakan ihram shalat, kita perlu mengontrol diri untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan shalat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu menjaga semangat ihram shalat ini, misalnya dengan hanya mengucapkan dan melakukan hal baik, serta tidak bersikap melampaui batas.

Baca juga: Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Masih Bisa Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar?

Lalu, mengapa banyak orang yang rutin shalat tapi masih tetap melakukan dosa dan maksiat? Menurut Irfan Sarhindi, problematika ini bisa disebabkan beberapa alasan, pertama, ia mendirikan shalat hanya sekadar ritual semata, tanpa melihat hubungan vertikal antara Tuhan dan hamba, juga garis horizontal antar sesama manusia yang diwujudkan dengan akhlakul karimah.

Kedua, tidak khusyuk dalam shalat, bisa jadi karena ia tak mengerti apa yang dibaca dan dikerjakan. Sehingga ibadah ini hanya dilaksanakan untuk menggugurkan kewajiban semata, tanpa menghadirkan makna ke dalam hati dan aktualisasi diri. Ketiga, tidak melihat fungsi dan tujuan kontrol diri dalam shalat. Padahal setiap mendirikan rukun Islam kedua ini, sejatinya kita tengah melatih kemampuan kontrol diri.

Lima misi shalat

Lima misi ini adalah menegakkan keadilan, menghadirkan kepatuhan total, mewujudkan perdamaian, memastikan keamanan, serta menjaga kebersamaan/persaudaraan. Sebagaimana nilai shalat, lima misi ini tersirat dalam berbagai gerakan, bacaan dan aksi shalat, misalnya misi “kepatuhan total” yang diwujudkan melalui sujud.

Sujud dapat dimaknai sebagai penghambaan total dengan sepenuh-penuhnya kepatuhan. Pasalnya, saat bersujud, kita berada di titik terendah. Meski demikian, gerakan itu justru merupakan momentum terdekat kita dengan Allah Swt. Dalam kehidupan sehari-hari, semangat kepatuhan total ini perlu dilaksanakan dalam semua aspek, tak hanya dalam sujud. Artinya, jika kita mampu patuh dan taat menjalani perintah Allah Swt dalam segala keadaan, kita juga akan mampu meninggalkan segala larangan-Nya.

Lalu apa outcome dari shalat?

Dari pelaksanaan shalat, sedikitnya kita akan mendapatkan dua manfaat/hasil (outcome), yakni ketenangan hati (muthmainnah) berdasarkan QS Ar-Rad: 28 dan kemenangan atas hawa nafsu di dalam diri, berdasarkan QS al-Mukminun: 1-2.

Shalat adalah ekspresi zikir yang apabila dilakukan dapat memunculkan ketenangan hati. Dalam ibadah lima waktu ini, ketenangan hati diinternalisasikan melalui thuma’ninah (berhenti sejenak) pada setiap rukun shalat.

Saat thuma’ninah, kita diajak untuk menghayati setiap doa dan ayat al-Qur’an yang dibaca. Supaya tak hanya lisan yang berucap, tetapi hati pun bisa terbawa khusyuk. Thuma’ninah ini apabila kita terapkan dalam berbagai aktivitas sehari-hari bisa membuat fikiran fokus dan tenang, sehingga segala aktivitas akan semakin optimal dan efektif.

Selanjutnya aspek kemenagan, Allah Swt berfirman dalam QS al-Mukminun: 1-2, bahwasanya orang-orang yang menang adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Kemenangan ini merupakan keberhasilan melawan nafsu dalam diri. Karena ketika kita mampu melaksanakan shalat dengan khusyuk, sejatinya kita telah menundukkan hawa nafsu, dengan berusaha menghindari segala hal yang dapat membatalkan shalat.

Sebelum terlambat, mari koreksi shalat kita. Apakah hanya sekadar ritual semata? Atau sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya taat? Agar kelak shalat tak lagi diiringi dengan perbuatan maksiat.

(AN)

Artikel ini merupakan kerja sama dengan Podcastren (Kajian Keislaman Kontekstual dan Kontemporer). Untuk penjelasan lebih detail, temukan dalam buku Filosofi Shalat atau klik http://bit.ly/podcastfilosofishalat