Abdullah bin Umar, bersama Nafi’ dan beberapa orang pergi mengunjungi sebuah tempat di Madinah, bagian pinggir. Karena lelah dan lapar mereka beristirahat di suatu tempat untuk menyantap makanan. Saat itu, ada seorang budak yang sedang menggembala kambing lewat di dekat mereka.

Melihatnya, Abdullah bin Umar memangilnya untuk menawarinya mana, “Kesinilah! mari kita makan bersama.”

“Maaf, saya sedang berpuasa,” jawab penggembala itu singkat.

“Apa? Dalam keadaan menggembala kambing di tengah perbukitan seperti ini kamu masih berpuasa? Apalagi cuaca sedang panas-panasnya,” kata Abdullah bin Umar seakan tidak tidak percaya.

Penggembala kambing itu menjelaskan bahwa ia tidak ingin menyia-siakan hari-harinya. Ia berharap waktunya berjalan dengan penuh makna. Jawaban yang diutarakan penggembala itu membuat Abdullah bin Umar semakin takjub dengannya.

Abdullah bin Umar akhirnya ingin menguji ketaatan penggembala itu. Ia pura-pura menawarkan bantuan. Ia bertanya kepada penggembala itu, siapa tau ia berkenan menjual salah satu kambing yang ia gembala kepadanya (Abdullah). Alasan yang diutarakan Abdullah bin Umar adalah jika kambing itu bisa ia beli satu saja, maka ia akan potong.

Setelah dipotong, maka sebagiannya akan diberikan kepada penggembala itu agar bisa ia gunakan untuk berbuka puasa. Penggembala itu menjawab dengan penuh kepolosan dan apa adanya, “Kambing itu milik majikanku. Bukan milikku”.

Abdullah bin Umar masih mendesak agar penggembala itu mau menyerahkan/menjual satu kambing itu kepadanya. Bahkan ia juga mengajarkan dan menawarkakn satu trik untuk berbohong dan berkilah, “Kan nanti kamu bisa berkata kepada majikanmu bahwa kambingnya mati dimakan srigala”.

Ternyata penggembala itu tak mau tergiur sama sekali dengan trik yang disarankan Abdullah bin Umar. Ia justru mengatakan dengan jawaban yang sangat luar biasa. Ia berkata, “Lalu, dimana Allah?”.

Kalimat yang baru saja dikatakan penggembala itu membuat Abdullah bin Umar tertarik. Ia mengulang-ulang kalimat itu, “Lalu, dimana Allah?”

Mereka pun akhirnya berpisah. Dan setelah Abdullah bin Umar dll kembali ke kediamannya, ia menemui majikan penggembala itu. Ia membeli budak yang menggembala kambing itu. Juga, ia beli seluruh kambing miliknya.

Oleh Abdullah bin Umar, budak yang baru saja dibelinya itu ia merdekakan. Kambing-kambing itu pun ia berikan kepada penggembala itu. Alhamdulillah.

Kisah yang ditulis Ibnu Jauzi dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat di atas mengajarkan kepada kita betapa pentingnya sebuah kejujuran. Kejujuran berbanding lurus dengan harga diri seseorang. Semakin ia jujur, maka semakin ia memiliki harga diri, tidak saja di hadapan manusia, namun juga di hadapan Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah [9]: 119)

Dalam tafsir al-Muntakhab dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan perintah bagi orang beriman. Yakni untuk selalu berketatapan dalam katakwaan dan keimanan. Juga sebagai perintah untuk selalu bersama mereka yang senantiasa benar dalam ucapan dan perbuatan.

Dari sini dapat dipahami bahwa Islam menghendaki umatnya untuk selalu jujur. Namun, sayangnya menjadi orang yang konsisten dalam kejujuran tidak mudah—untuk tidak berkata tidak mungkin. Akan banyak godaan dan tantangan yang datang mengampiri, seperti dalam kisah di atas.

Walhasil, kejujuran adalah salah satu sifat penting yang dimiliki setiap orang. Memang tidak mudah menjadi orang yang jujur, namun begitulah seninya. Semoga Allah jadikan kita hambaNya yang memiliki sifat jujur. Amin.

 

Sumber:

Al-Azhar, Tim Lajnah Ulama. al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Mesir: al-Majlis al-A’la, 1995.

Ibn al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Farj bin. ’Uyun al-Hikayat. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here