Seiring menjalani kehidupan, manusia mengejar kepastian dalam segala hal. Terutama pada aspek finansial atau keuangan. Keinginan supaya hidup mapan dan terjamin mendorong orang untuk memiliki simpanan harta sebanyak mungkin. Baik dengan cara menabung, investasi, atau kepemilikan harta lainnya demi masa depan.

Untuk sebagian orang, ada yang secara sengaja menghindari orientasi ekonomi dalam kehidupan. Harapannya, supaya hidup dengan zuhud, tidak terlalu dekat dengan keserakahan dan nafsu duniawi. Namun terkadang, ada saja orang yang hidup zuhud secara keterlaluan. Bahkan, sampai kerap menuding, seolah-olah menabung harta adalah perbuatan serakah, bahkan dosa. Padahal, menurut KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), menabung harta itu sah-sah saja, bahkan baik jika digunakan demi kemaslahatan dan membentengi agama.

“Nabi bersabda, orang yang paling beruntung itu adalah yang punya uang atau jabatan yang bisa dipakai untuk membentengi agamanya.” Demikian tutur Gus Baha dalam sebuah video pengajiannya.

Hidup zuhud bukan berarti tidak mempertimbangkan harta dunia sama sekali. Apalagi kalau menabung dengan tujuan membentengi keimanan anak setelah kita meninggal dunia, itu tidak mengurangi kezuhudan seseorang. Gus Baha mengisahkan sebuah cerita yang diambil dari ayat surat Al-Kahfi, ketika Nabi Musa protes atas perbuatan ganjil yang dilakukan Nabi Khidir AS.

Kisahnya sebagai berikut. Ada anak kecil, putra dari orang yang sholeh yang telah meninggal. Semasa hidup, sang ayah menyimpan emas batangan yang dia disembunyikan di dalam tembok. Seiring waktu, tembok itu hampir rubuh. Seandainya tembok itu rubuh, konsekuensinya emas batangan itu akan ketahuan oleh orang-orang yang jahat, demi mengincar hartanya. Maka ketika melihat tembok yang hampir rubuh itu, Nabi Khidir membangunnya kembali.

Nabi Musa yang menyaksikan ‘keanehan’ Nabi Khidir tersebut lalu memprotes: kenapa tembok yang hampir rubuh itu kau bangun lagi? Sementara penduduk sekitar sini itu jahat-jahat.

Lantas Nabi Khidhir menjawab sebagaimana tertera dalam Surat Al-Kahfi ayat 82:

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ ࣖ

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

Cerita di dalam surat Al-Kahfi ini cukup jelas. Bahwasanya ada orang saleh yang menyimpan emas batangan dengan cara disembunyikan di dalam tembok, sebagai tabungan masa depan dan demi keberlangsungan kesalehan sang anak. Sang ayah, yang menyimpan emas batangan dalam jumlah yang banyak di dalam tembok demi si anak, di ayat ini tetap disifati oleh Allah SWT sebagai orang yang saleh.

Kata Siapa Zuhud itu Menderita? Kalau Bisa Harus Kaya!

 

Dari kisah ini, Gus Baha memberi kesimpulan bahwa menabung itu tidak mengurangi kesalehan seseorang. Tapi jangan dipahami secara terbalik: kalau tidak menabung, berarti tidak saleh.

Inti dari kisah ayat ini adalah, bahwa ketika kita menabung atau berinvestasi untuk masa depan, bukan lantas menjadikan kita sebagai orang yang serakah atau gila harta. Jika diniati demi tujuan yang baik, terutama dari kisah tersebut demi anak supaya kesalehan dan imannya terjaga ketika ditinggal wafat oleh orangtuanya.

“Jadi, fatwa-fatwa zuhud berlebihan yang sampai melarang kita menabung itu omong kosong!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here