Hidup di abad ini, nyaris mustasil untuk kita menghindar dari musik. Di angkutan umum, di lampu merah perempatan jalan, bahkan di gadget kita telah tersedia berbagai macam musik dengan segala ragam genre dan aplikasinya.

Meski begitu, terkadang kita dibuat bingung oleh ceramah-ceramah keagamaan yang mengatakan bahwa Islam mengharamkan musik. Segenap dalil-dalil pun lalu ditebarkan, mulai dari mengutip sabda Nabi, sampai menyeret ayat Quran untuk ditafsirkan seolah-olah musik adalah terlarang secara mutlak.

Lalu, bagaimana semestinya kita bersikap?

“Biasa Saja!!” demikian keterangan KH. Bahauddin Nur Salim atau akrab disapa Gus Baha.

Keterangan ini mengemuka sewaktu Gus Baha menjelaskan Tafsir Jalalain Surat al-Luqman ayat 1-11 dalam kajian rutinnya (videonya bisa cek di sini).

Gus Baha menjelaskan bahwa yang menjadi persoalan sebetulnya adalah aspek “asbabun nuzul-nya”, dan bukan pada aspek hukumnya. Hukum itu pada dasarnya bergantung pada seberapa jauh pertimbangan manfaat dan madaratnya.

Ceritanya, Nabi Muhammad SAW satu waktu sedang berkhotbah Jum’at. Lalu, datanglah sekelompok kafilah dagang yang besar. Bersamaan dengan itu, kafilah tersebut menggelar live music, genap dengan biduannya.

Segera setelah itu, para sahabat yang sedianya menyimak Rasul bubar seketika. Lalu, tersisalah 12 orang yang menurut rekaman mutafaqun alaih (Bukhari-Muslim) termasuk di dalamnya adalah Abu Bakar, Umar, Jabir dan sejumlah sahabat senior lain. Ditengarai, kejadian itu lalu menjadi latar belakang turunnya ayat 11 Surah al-Jumu’ah.

Uniknya, ketika para sahabat ditanya alasan mereka meninggalkan khutbah Jum’at, jawabannya adalah kelewat lucu.

“Apakah kamu benci Muhammad?”

“Tidak. Rasulullah tetap orang yang paling kita cintai. Tapi kan Nabi mengajar tiap hari, sedangkan kalau ada musik jarang-jarang,” tukas para sahabat yang meninggalkan khotbah, seperti diterangkan Gus Baha.

Itulah mengapa, demikian Gus Baha, kalau Imam Nawawi ditanya tentang gitar, maka jawabnya adalah haram.

Meski begitu, kita juga tidak bisa menafikkan fakta di mana lewat musik orang jadi mengenal Islam, dan di atas itu semua musik menjadi medium untuk mendekat kepada Tuhan, sebagaimana dilakukan oleh para sufi.

“Makanya, ulama dari dulu itu bingung kalau menghadapi musik. Dan, rata-rata ulama akan diam jika ditanya musik haram,” terang Gus Baha.

“Misalkan musik dianggap melalaikan manusia dari Tuhan, tapi nyatanya alat musik itu justru dipakai shalawatan. Kan bingung menghukuminya,” lanjutnya.

Ya, pada akhirnya umat Muslim memang kudu pintar-pintar bersikap. Dengan kata lain, kita tidak bisa hanya bermodalkan satu dalil yang statis lalu menghakimi realitas yang dinamis.

Atau ringkasnya, begini:

“Kalau menyangkut hukum, semuanya adalah sama. Entah buku, entah musik, atau apa saja, sejauh menjauhkan umat Muslim belajar al-Qur’an itu juga (auto) haram,” demikian Gus Baha.

Wa ba’du, untuk mewarnai hari-hari di masa pandemi ini, mari kita dengarkan Alpha Bondy!!

La ilaha illallah Muhammadur Rasulillah… Sebe Y’e ALLAH…