Surga dan neraka terkadang terlalu dipikirkan oleh manusia. Sampai lupa bahwa tugas sebenarnya adalah menjadi sebenar-benar hamba Allah. Surga neraka, bagaimanapun, hanyalah makhluk. Keduanya akan tunduk di bawah kuasa Allah SWT.

Dalam satu pengajiannya, Gus Baha menguraikan mengapa ketakutan terhadap neraka tidak perlu dibesar-besarkan. Beliau menjelaskan sebuah riwayat dalam kitab Manaqib Aisyah as-Shiddiqiyah. Beliau adalah seorang syarifah. Di dalam kitab itu, beliau justru berani menantang neraka: “Awas neraka, kalau sampai berani membakarku!” Demikian kurang lebihnya.

“Wahai neraka! Kelak kamu akan aku tantang. Kalau sampai teman-temanku masuk neraka, akan aku tantang: Hei neraka, kamu kenapa tidak sopan! Ini kalimat Laa ilaaaha illallah. Ini kalimat tauhid. Makhluk kok lancang sekali!”

Bagaimanapun, neraka adalah makhluk ciptaan Allah. Sehingga oleh karenanya, ketika Rasulullah sedang mukasyafah, beliau bersabda bahwa siapapun yang membawa kalimat Tauhid “Laa ilaha illallah”, maka akan masuk surga. Sebab, neraka pada dasarnya adalah makhluk, maka ia tidak berani membakar kalimat Tauhid. Dalam hadis lain, Nabi bersabda, bahwa neraka tidak akan berani memakan bekas sujud manusia.

“Bagaimana bisa neraka yang makhluk berani membakar kalimat thayyibah? Kalau neraka sampai berani-beraninya membakar kalimat thayyibah, sungguh lancang sekali!” ujar Gus Baha.

Demikian pula surga, sehebat-hebatnya gambaran surga, ia juga makhluk yang akan tunduk dengan kekuasaan Allah. Maka hendaknya kita ingat, bahwa Allah menghendaki kita untuk menjadi hamba Allah dulu, baru kemudian atas kuasa-Nya kita bisa masuk surga.

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Akan tetapi, yang dikhawatirkan adalah ketika seseorang meninggal tidak dalam keadaan khusnul khatimah, karena selama hidupnya tidak pernah berorientasi kepada Allah, tidak pernah melibatkan hidupnya dengan Allah.

Ketika seseorang ditakdirkan masuk neraka, Allah akan mencabut kalimat laa ilaaha illallah dari dalam hatinya, sehingga seseorang bisa melenggang bebas menuju ke neraka tanpa hambatan. Di sini lah letak krusialnya seseorang meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.

Dari sini, bisa digarisbawahi bahwa yang penting adalah hubungan kita dengan Allah dulu dilaksanakan sebaik mungkin. Cukuplah urusan penghambaan kita hanya dengan Allah. Baru urusan surga atau neraka kita serahkan pada Kuasa Allah.

Bagaimana caranya?

Gus Baha memberi sebuah resep, supaya kita bisa terus berorientasi kepada Allah. Salah satunya dengan memperbaiki kualitas shalat melalui cara menghayati setiap lafal dan kalimatnya.

Shalat, sebagai tolok ukur ibadah manusia kepada Allah, selayaknya kita laksanakan dengan cara mensifati besarnya kekuasaan Allah SWT. Alih-alih mensifati besarnya neraka, shalat berisi segala bentuk pengabdian kita dalam menyembah Allah.

Perlu bagi kita untuk berlatih membiasakan mensifati kebesaran Allah melalui kalimat-kalimat yang ada dalam shalat. Gus Baha mencontohkan, dalam bacaan I’tidal, atau berdiri dari ruku’:

ربَّنا لك الحمدُ، مِلْءَ السَّمواتِ، ومِلْءَ الأرضِ، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بعدُ

Kurang lebih terjemahannya begini: Kepada Engkaulah wahai Tuhan kami, yang kekuasaan dan pujiannya meliputi sepenuh langit dan bumi. Sekalipun masih kurang pujianku ini, ya Allah, maka pujian ini meliputi sepenuh apapun yang engkau kehendaki.

Sehingga diharapkan shalat kita selalu berorientasi pada mengagungkan Allah SWT.

Hanya saja, begini masalahnya. Shalat, ruku’ dan sujud kita itu ikhlas atau tidak? Kalau tidak ikhlas, kalimat tauhidnya bisa berguguran selama hidup. Belum juga sampai ujung umur, kalimat tauhid sudah berguguran karena ego pribadi, dan ibadah yang dilakukan tidak disertai keikhlasan. Dari situ lah yang menyebabkan tubuh kita bisa terbakar neraka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here