Saya tidak mengerti secara persis kapan muasalnya Habib Rizieq Syihab (HRS) diklaim sebagai Imam Besar. Yang saya tahu, HRS adalah pimpinan ormas paramiliter bernama FPI.

Meski begitu, kesuksesan HRS dalam upaya menjungkalkan Ahok sepanjang 2016-2017 silam menandai sebuah peristiwa penting sehubungan dengan gelar “Imam Besar” itu. Ini kalau saya kalau boleh menduga. Ya, sejak saat itu HRS telah menjadi artis baru dalam lanskap perpolitikan nasional.

Bahkan, ketokohan HRS secara simbolik semakin dipertegas dengan hadirnya Presiden Jokowi bersama pejabat negara lainnya dalam Aksi Bela Islam jilid III, atau kerap disebut aksi 212. Dan, pada aksi yang berlangsung di penghujung 2016 lalu itu HRS berperan sebagai khatib sekaligus imam shalat Jumat.

Telak, popularitas Habib Rizieq kian mengudara. Ibarat upacara bendera, nama Habib Rizieq dikerek bersamaan dengan Ahok sebagai tiang benderanya dan 212 sebagai paduan suara yang mengumandangkan lahirnya fragmentasi otoritas keagamaan baru.

Kini, Habib Rizieq telah kembali ke Indonesia (setelah kabur ke Mekah dengan narasi kriminalisasi ulama). Meski personanya kerap digembosi oleh sejumlah pihak, kenyataan menunjukkan bahwa dia semakin dipuja oleh pengikutnya. Berbondong-bondong orang yang merapat ke Bandara Soekarno-Hatta 10 November lalu, misalnya, bisa dibaca sebagai petanda bahwa Habib Rizieq yang dulu bukanlah Habib Rizieq yang sekarang.

***

Dalam sebuah artikel di Jurnal Ma’arif, Ahmad Nadjib Burhani (2016) mencatat bahwa FPI sempat mengirimkan surat bai’at (janji setia) ke berbagai individu dan pesantren. Isinya adalah kesediaan dan janji setia untuk “mengangkat Dr. Habib Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA, DPMSS, sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia dan berjanji setia atas perintah dan larangannya yang sesuai dengan syari’ah Allah SWT dan Rosul-Nya.”

Menariknya, surat bai’at itu kini telah menjelma dalam bentuk yang cukup mutakhir, mengiringi kepulangan HRS 10 November lalu.

“Selamat Datang Imam Besar Umat Islam Indonesia, Al Habib Muhammad Rizieq Syihab, LC, MA. Ayo Revolusi Akhlak.” Begitu kata sebuah baliho yang dapat dengan mudah Anda temui jika kebetulan sedang melintas di kawasan dengan basis FPI yang cukup besar.

Tapi, itu sebelum Pangdam Jaya melakukan razia. Sekarang, baliho-baliho itu telah ditertibkan. Soal bagaimana dan kenapa baliho itu ditertibkan, saya tidak ada urusan.

Yang jelas, sebuah baliho adalah media. Lewat baliho sebuah pesan disampaikan. Lewat baliho, sebuah ideologi disuarakan. Lewat baliho pula, sebuah kepentingan dan praktik kuasa dikontestasikan. Dan, di titik ini, politik representasi sedang berlangsung.

Perhatikan teks berikut: “Selamat Datang Imam Besar Umat Islam Indonesia, Al Habib Muhammad Rizieq Syihab, LC, MA. Ayo Revolusi Akhlak.”

Lewat teks representasi yang termuat dalam baliho itu, ada sedikitnya dua pertanyaan krusial yang dapat kita ajukan sebagai pintu masuk memahami ideologi yang sedang beroperasi melalui teks tersebut.

Pertama, siapa yang sedang berbicara lewat teks tersebut?

Jika kita ambil satu tamsil dari baliho yang beredar, sosok yang sedang berbicara dalam teks tersebut adalah tidak cukup jelas. Abstrak. Meski begitu, kita boleh berasumsi bahwa yang sedang bicara adalah mereka yang sejauh ini menjadi pengikut HRS.

Dan, jika dikaitkan dengan media yang memuat teks tersebut, yaitu baliho yang disebar di sudut-sudut setrategis di bilangan Ibu Kota sekitarnya, kita bisa mengidentifikasi kuatnya arus konservatisme di kalangan muslim urban.

Ya, saya tahu kalau kita bisa saja mengatakan bahwa tidak semua muslim kota adalah pengikut HRS, namun teks itu seolah-olah telah memperkosa mata siapa saja yang melintas di depannya.

Dengan begitu, tegaknya baliho itu sama dengan persetujuan ketokohan HRS. Ini tentu saja berbeda dengan baliho-baliho Caleg atau baliho-baliho Pemilu lainnya. Dalam baliho Caleg, misalnya, teks yang hadir adalah teks yang bersifat persuasif-opsional dan berlangsung dalam rentang waktu yang memang diatur oleh Undang-Undang Pemilu.

Sedangkan, pada baliho HRS, teks “Selamat Datang bla, bla, bla” itu menegaskan bahwa segenap masyarakat setempat dibayangkan telah menunggu kedatangan Habib Rizieq. Dan, dalam pengertian inilah keputusan Pangdam Jaya untuk membersihkan sampah visual tersebut menjadi relevan.

Lagi pula, upaya untuk mengklaim bahwa HRS adalah Imam Besar Umat Islam Indonesia jelas merupakan sebuah reduksi yang kelewat banal. Dan, pada derajat tertentu ini sama saja membungkam subjek muslim lain yang menolak atau keberatan menjadi makmum HRS.

Kedua, hasrat sosial seperti apa yang dimobilisasi lewat teks tersebut?

Pertanyaan ini penting diajukan karena terkait dengan kalimat pamungkas dalam teks itu: Ayo Revolusi Akhlak. Yang namanya “ayo” pastilah mengandung makna ajakan, dan bisa pula permintaan.

Siapa yang diajak dan siapa yang diminta? Tentu saja Habib Rizieq. Ini kalau baliho itu dihubungkan dengan desclaimer kepulangan HRS yang, konon, akan melakukan sebuah revolusi akhlak.

Terus terang, saya sempat maktratap begitu mendengar misi luhur di balik kepulangan HRS ini. Betapa tidak, Nabi Muhammad saja diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sedangkan HRS justru mau melakukan sebuah lompatan, dengan merevolusi akhlak. Bukankah ini menandakan sebuah progresivitas?

Sialan, belakangan saya harus patah hati. Yang awalnya saya membayangkan bahwa Habib Rizieq akan ceramah dengan petuah-petuah adiluhung yang menyejukkan hati, kenyataannya adalah dia justru terjebak dalam polemik lonte!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here