Tiga muslimah ini adalah representasi mereka yang  bekerja untuk publik. Ketiganya adalah sosok yang luar biasa dan bisa dijadikan acuan sebagai representasi muslimah. Mereka tidak hanya berani, tapi juga ekspresif.

Ketiganya bisa dijadikan inspirasi, sebab mereka berani menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan muslimah sebagai identitas yang melekat dalam dirinya.

Pertama adalah sosok dari Belgia bernama Zakia Belkhiri. Ia berasal dari Belgia.

Zakia  menjadi perbincangan ketika ia dengan berani selfie di depan para pendemo Vlams Belang, kelompok sayap kanan Belgia. Sayap kanan politis asal Belgia ini kerap mendiskreditkan islam. Bagi Zakia, ini tidak boleh dibiarkan.

Zakia yang waktu itu masih berusia 22 tahun melihat ada demontrasi dan menjelek-jelekkan islam di jalanan, lantas ia berdiri di hadapan mereka. Zakia memakai jilbab dan selfie di depan demo anti Islam itu. Zakia yakin,  kekerasan jika dilawan dengan kekerasan pula tidak akan membawa kebaikan.

“Ini aku lakukan untuk sesuatu yang berarti, saling berbagi kebahagiaan dan perdamaian,” tutur Zakia.

Zakia Belkhiri dengan caranya sendiri menunjukkan cara melawan Islamophobia di Barat.

Apa yang ia lakukan? ia mengajak selfie semua para demonstran. Aksinya itu pun menjadi viral dan diperbincangkan di mana-mana.

Pujian pun datang dan membuat banyak orang berpikir lain tempat islam, memberi cara pandang baru terhadap terhadap islamophobia, bahwa islam tidak seburuk yang demonstran kira.

Kedua datang dari Indonesia, ia bernama Sakdiyah Ma’ruf.

Namanya tidak asing, bukan? Ia merupakan stand-up comedian dan kerap berbicara tentang hal-hal yang sensitif: jihad, keindahan islam dan tradisi Arab. Hal terakhir ini menjadi ciri khas Sa’diyah.

Sakdiyah merupakn keturunan Arab konservatif dan penu dengan stereoype. Zakiyah melawan itu dengan komedi.  Ia merupakan komika mula yang berbicara soal stigma ini dari muslimah.

Identitas Arab sebagai suku dan agama sebagai pelekatnya, ditambah tanggung jawab sebagai pemikul anggapan ‘islam yang asli ya dari Arab’ tidak membuatnya menjadi fundamentalis.

Justru, melalui komedi, ia berbicara ke dunia luar bahwa islam tidak semenakutkan yang ia kira. Islam bukan teroris dan jihad bukan bom, melainkan bagaimana keadilan dan pendidikan menjadi kunci.

DI situlah letak kekuatannya, sekaligus menjadikan dia sosok yang digemari, tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia. Menjadi komedian pertama yang berjilbab dan menyuarakan narasi islam damai ke seluruh dunia. Begini salah satunya:

Ketiga adalah Malala Yousefzai.

Saat ini Malala berusia 22 tahun dan menjadi ikon pemudi muslimah di seluruh dunia karena perjuangannya untuk kesetaraan pendidikan. Tentu kita tidak lupa bagaimana Taliban berusaha membunuhnya 9 Okober 2012 lalu.

Ia, dengan keberaniannya, menulis dengan nama samaran tentang kondisi yang ada di Afghanistan. Berkat Malala pula, otoritas Internasional berhasil Afghanistan untuk memperbaharui sistem mereka. Dan hal itu masih terus diupayakan hingga sekarang.

Keberanian Malala pun diganjar dengan penganugerahan Nobel bidang perdamaian 2014. Ia pun waktu itu menjadi penerima nobel termuda di usia 17 tahun.

“Orang-orang itu hanya bisa menembak tubuh, tapi tidak akan pernah bisa membunuh impian saya,” ujar Malala sebagaimana diwawancara CNN.

Kini, Malala terus berjuang dan mendirikan lembaga untuk perjuangan melawan penindasan anak dan pemuda.

Itulah tiga inspirasi muslimah yang bekerja dan mengekspresikan diri untuk melakukan apa yang menurutnya penting.