Di kalangan orang-orang Quraisy, Hamzah bin Abdul Muthalib, paman nabi adalah orang yang disegani, seorang pemuda yang kuat, senang berburu, dan menjunjung tinggi perilaku yang baik. Ia masuk Islam karena tidak sudi melihat keponakannya dihina.

Sosok pemberani, memiliki harga diri tinggi, dan sangat menentang penghinaan, itulah paman Rasulullah SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Suatu hari Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah SAW di Shafa. Ia menyakiti, menghina, mencaci maki Rasulullah dengan perkataan kotor. Abu Jahal menganggap Rasulullah telah meremehkan agama nenek moyangnya dan menghalangi urusannya. Mendapat perlakuan seperti itu, Rasulullah diam saja, tidak menjawab walau sekata.

Kemudian Abu Jahal memukul kepala Rasulullah dengan batu, sampai Nabi SAW terluka dan berdarah. Abu Jahal lalu meninggalkan nabi dan menemui sekumpulan orang-orang Quraisy di Ka’bah.

Kejadian tersebut disaksikan oleh Jariyah, seorang budak wanita dari Abdullah bin Jud’an. Jariyah bertempat tinggal di sekitar bukit Shafa, sehingga ia dapat mendengar dan menyaksikan kejadian yang menimpa Rasulullah.

Tak lama kemudian, setelah Rasulullah pulang, Hamzah baru saja selesai berburu, ia menyandang busur panahnya. Biasanya setiap kali selesai berburu, Hamzah tidak langsung pulang, ia menyempatkan diri bertawaf di Ka’bah, bahkan sesekali apabila ia bertemu dengan sekumpulan orang Quraisy, Hamzah akan menyapanya dengan ramah atau ikut berbincang-bincang dengan mereka.

Melihat Hamzah, budak wanita Abdullah bin Jud’an itu langsung memberi tahu kejadian di bukit Shafa, “Wahai Abu Umarah (Julukan untuk Hamzah), seandainya saja engkau melihat peristiwa yang baru saja terjadi di Shafa, Abu Jahal telah menghina dan melukai keponakanmu, namun Muhammad tidak membalasnya sama sekali.”

Mendapat laporan seperti itu, Hamzah marah besar, ia bergegas mencari Abu Jahal. Bahkan Hamzah tidak lagi merespon orang-orang yang menyapanya di sepanjang jalan.

Saat itu, Hamzah belum memeluk agama Islam. Namun demi sebuah kehormatan, ia tak gentar membela Rasulullah yang mendapat perlakuan tidak baik. Hamzah menemukan Abu Jahal sedang berkumpul dengan orang-orang Quraisy, ia langsung menghampirinya, berdiri tegak di hadapan kepalanya, dan memukul Abu Jahal dengan busur panah hingga terluka parah.

Hamzah berkata padanya, “Hai si hina dina, berani sekali engkau mengganggu keponakanku, padahal aku telah memeluk Agamanya !”.

Peristiwa ini hampir saja menimbulkan pertikaian antara Bani Makhzum dan Bani Hasyim. Orang-orang bani Makhzum berdiri hendak membela Abu Jahal, begitu juga dengan orang-orang bani Hasyim yang ingin membela Hamzah. Namun hal itu dapat diatasi oleh Abu Jahal, ia mengaku telah menghina nabi dan melarang bani Makhzum untuk membelanya.

Sejak saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib resmi masuk Islam. Hal ini membuat orang-orang Islam bersyukur dan bergembira. Hamzah masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian, tepatnya pada bulan Dzul Hijjah, saat itu pengikut Nabi Muhammad masih terhitung sangat sedikit, hanya terdiri dari kerabat dekat dan para budak.

Sebelumnya, jika ada orang masuk Islam, ia akan mendapat perlakuan tidak baik, disiksa, dianiaya bahkan dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy. Paman Nabi SAW ini tentu sangat berbeda orang lain, ia adalah pria terhormat dan disegani oleh kaum Quraisy. Ketika ia mengikrarkan syahadat untuk masuk Islam, jangankan bersembunyi, Hamzah bahkan dengan lantang mengumumkan keislamannya.

Masuk Islamnya Hamzah juga membuat umat Islam semakin kuat. Tercatat dalam sejarah bahwa paman nabi yang juga merupakan saudara susuannya itu telah berhasil membunuh beberapa lawan dalam medan perang, bahkan sesekali Rasulullah pernah mengutus Hamzah sebagai panglima perang.

Kepribadian Hamzah yang luhur itu telah menuntunnya memeluk agama Islam. Hal ini juga tentu saja merupakan hidayah dari Allah SWT. (AN)

Wallahu ‘Alam

 

Baca juga sejarah kehidupan nabi, Sirah Nabawiyah di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here